Krisis Iklim Kian Mengancam, Generasi Muda Didorong Jadi Garda Depan Perubahan
NU Online · Ahad, 8 Maret 2026 | 16:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Krisis iklim semakin menunjukkan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Perubahan pola cuaca, meningkatnya suhu ekstrem, hingga frekuensi bencana yang semakin tinggi menjadi tanda bahwa krisis ini bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang tengah dihadapi saat ini.
Krisis iklim memiliki keterkaitan erat dengan berbagai persoalan struktural, seperti kemiskinan, ketimpangan gender, hingga keterbatasan akses informasi.
“Aktivitas manusia turut memperparah kondisi krisis iklim, seperti urbanisasi yang tidak ramah lingkungan, alih fungsi lahan, serta pembangunan di kawasan rawan bencana meningkatkan risiko banjir dan kerusakan lingkungan,” ujar Yohana Tantria dari Yayasan Care Peduli dalam Webinar Ketahanan Inklusif: Perspektif Gender dalam Respon Perubahan Iklim di Perusahaan Garmen, Sabtu (7/3/2026).
Ia menambahkan bahwa deforestasi dan kerusakan ekosistem juga berdampak mengurangi kemampuan alam dalam menyerap karbon sehingga mempercepat pemanasan global.
“Penggunaan batu bara dan gas dalam sektor energi dan transportasi meningkatkan emisi gas rumah kaca. Perubahan pola hujan yang hari ini terjadi dapat menyebabkan kekeringan berkepanjangan di beberapa wilayah, seperti di pulau Nusa Tenggara,” ucapnya.
Yohana menjelaskan bahwa dampak perubahan iklim juga terlihat dari meningkatnya suhu ekstrem yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mencatat bahwa ketika suhu mencapai lebih dari 30,5 derajat Celsius.
“Krisis iklim bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga isu sosial dan kemanusiaan. Setiap pekerja sekarang membutuhkan waktu istirahat 30 menit setiap jam untuk menghindari risiko kesehatan akibat panas yang ekstrem,” katanya.
Menurutnya, situasi tersebut menunjukkan bahwa krisis iklim telah berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari, termasuk pada sektor ketenagakerjaan dan kesehatan.
“Kita melihat bagaimana gelombang panas dapat menyebabkan pekerja pingsan massal, seperti yang pernah terjadi saat heatwave di Phnom Penh pada 2023. Ini menunjukkan bahwa krisis iklim menyentuh aspek kehidupan yang sangat luas,” jelasnya.
Ia mendorong generasi muda menjadi garda terdepan perubahan dalam menghadapi krisis iklim. Yohana menilai anak muda memiliki peran strategis untuk mendorong perubahan melalui gaya hidup berkelanjutan, edukasi komunitas, hingga advokasi kebijakan iklim yang lebih adil.
“Anak muda memiliki energi, kreativitas, dan jaringan sosial yang kuat. Mereka dapat menjadi penggerak perubahan dengan mengembangkan solusi inovatif, membangun solidaritas sosial, serta terlibat advokasi kebijakan iklim yang adil,” ujar Yohana.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Nuzulul Qur’an dan Spirit Membaca untuk Peradaban
2
Khubah Jumat: Separuh Ramadhan Telah Berlalu, Saatnya Muhasabah Diri
3
Mulai Malam Ini, Dianjurkan Baca Qunut pada Rakaat Terakhir Shalat Witir
4
Khutbah Jumat: Refleksi Puasa, Sudahkah Meningkatkan Kepedulian Sosial?
5
Antrean BBM Mengular di Medan, Harga Naik dan Stok Langka
6
Khutbah Bahasa Jawa: Ramadhan, Wekdal Sahe kangge Ngathahake Maos Al-Quran
Terkini
Lihat Semua