Ramadhan

Kultum Ramadhan: Menggunakan Nikmat Dunia untuk Bekal Akhirat

NU Online  ·  Ahad, 8 Maret 2026 | 15:41 WIB

Kultum Ramadhan: Menggunakan Nikmat Dunia untuk Bekal Akhirat

kultum Ramadhan (Freepik)

Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan. Setiap detik menjadi kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Di bulan ini, umat Islam berlomba-lomba meningkatkan amal saleh, menata hati, dan memperdalam kualitas ibadah, menjadikannya momen spiritual yang tak tergantikan dalam perjalanan hidup.


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ


Artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. (Qs. Adz-Dzariyat: 56)

Pada ayat di atas, Allah Swt dengan sangat tegas menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya umat manusia ialah untuk beribadah kepada-Nya. Maka seyogyanya bagi umat Islam untuk berusaha menjadikan setiap gerak dan setiap kenikmatan dalam kehidupan di dunia yang diperoleh sebagai ibadah kepada Allah Swt. 


Dalam praktiknya, terdapat banyak kenikmatan dunia yang diberikan Allah Swt kepada umat manusia. Namun terdapat dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya sebab tidak memanfaatkannya dengan baik yaitu nikmat sehat dan waktu luang. 


Rasulullah Saw bersabda:


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " ‌نِعْمَتَانِ ‌مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ 


Artinya: “Dari Ibnu Abbas ra, berkata: Nabi Saw bersabda: dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya yaitu sehat dan waktu luang”. (HR Bukhari).

Hadits di atas merupakan pengingat dari Rasulullah Saw kepada umatnya agar tidak tertipu oleh kenikmatan dunia yang diperoleh dari Allah Swt. Dua nikmat dunia yang banyak orang lalai karenanya yaitu nikmat kesehatan dan nikmat memiliki waktu luang. Umat Islam hendaknya memanfaatkan nikmat dunia yang diperoleh untuk bersyukur kepada Allah Swt dan meraih ridha-Nya.


 

Dalam Islam, Allah Swt memerintahkan kepada umat Islam untuk selalu bersyukur kepada-Nya. Maksud dari syukur di sini ialah menggunakan semua nikmat yang diberikan oleh Allah Swt baik pendengaran, penglihatan ataupun anggota badan lainnya sesuai dengan tujuannya diciptakan. 


Dalam artian, maksud dari bersyukur ialah memanfaatkan seluruh potensi yang diberikan oleh Allah Swt untuk beribadah kepada-Nya. Baik dalam bekerja, beribadah ataupun aktivitas lainnya hendaknya diniatkan karena Allah Swt.


Simak penjelasan Syekh Syamsuddin bin Ahmad Khatib As-Syarbini:


‌صَرْفُ ‌الْعَبْدِ جَمِيعَ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ عَلَيْهِ مِنْ السَّمْعِ وَغَيْرِهِ إلَى مَا خُلِقَ لِأَجْلِهِ


Artinya: “Menggunakan semua nikmat yang diberikan oleh Allah Swt baik pendengaran ataupun yang lainnya sesuai dengan tujuannya diciptakan”. (As-Syarbini, Al-Iqna’ fi Halli Alfadzi Abi Syuja’, [Beirut, Darul fikr, tt], juz 1 hal 8)

Dalam Al-Qur’an sendiri, Allah memberikan garansi terhadap umat manusia yang bersyukur berupa ditambahkan nikmat oleh Allah. Sebaliknya, bagi yang kufur terhadap nikmat-Nya maka Allah Swt telah menyiapkan azab yang pedih untuknya.

Allah Swt berfirman:


وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ


Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (Qs. Ibrahim: 7).

 

Pada ayat di atas, Allah memerintahkan kepada umat manusia untuk bersyukur kepada-Nya dengan menggunakan nikmat yang telah diberikan untuk beribadah kepada Allah. Barang siapa yang bersyukur kepada Allah maka akan ditambahkan kenikmatan. Sebaliknya, bagi yang kufur nikmat kepada Allah dengan melakukan maksiat kepada-Nya, maka Allah Swt telah menyiapkan azab yang pedih.

 

Ibnu Asyur dalam hal ini berkata:


وَالْكُفْرُ مُرَادٌ بِهِ كُفْرُ النِّعْمَةِ وَهُوَ مُقَابَلَةُ الْمُنْعِمِ بِالْعِصْيَانِ. وَأَعْظَمُ الْكُفْرِ جَحْدُ الْخَالِقِ أَوْ عِبَادَةُ غَيْرِهِ مَعَهُ وَهُوَ الْإِشْرَاكُ، كَمَا أَنَّ الشُّكْرَ مُقَابَلَةُ النِّعْمَةِ بِإِظْهَارِ الْعُبُودِيَّةِ وَالطَّاعَةِ

 

Artinya: “Maksud dari kufur pada ayat di atas ialah kufur terhadap nikmat dengan melakukan maksiat. Adapun kufur terburuk ialah dengan mengingkari Allah yang menciptakan atau menyekutukan-Nya. Sama sepertihalnya syukur yang merupakan memanfaatkan kenikmatan yang diperoleh dengan ibadah dan ketaatan”. (Ibnu Asyur, At-Tahrir wat Tanwir, [Tunisia, Dar At-Tunisiah linnasyri, 1984 M], juz XIII, hal 194).


Dalam ayat lain, Allah Swt menjelaskan bahwa kebaikan di dunia hanya dapat diperoleh dengan menjadikannya persiapan dan bekal untuk akhirat. 


Allah Ta’ala berfirman:

 

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ


Artinya: “Di antara mereka ada juga yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.” (Qs. Al-Baqarah: 201)

 

Ayat di atas merupakan doa yang biasa diucapkan umat Islam. Doa di mana kita, sebagai umat Islam meminta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta dijauhkan dari siksa neraka. Adapun maksud dari kebaikan di dunia ialah ialah menjadikannya sebagai ladang beribadah kepada Allah Swt untuk memperoleh kebaikan di akhirat yaitu surga-Nya.

 

Terkait hal ini, Syekh Nawawi Banten berkata:


رَبَّنا آتِنا فِي الدُّنْيا حَسَنَةً أي علما وعبادة وعصمة من الذنوب وشهادة وغنيمة وصحة، وكفافا وتوفيقا للخير وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً أي جنة ونعيمها وَقِنا عَذابَ النَّارِ


Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia maksudnya ialah ilmu, ibadah, dijaga dari melakukan dosa, kesaksian yang baik, ghanimah dan kesehatan, kecukupan serta petunjuk untuk melakukan kebaikan. Kami juga meminta kebaikan di akhirat maksudnya ialah surga dan kenikmatan di dalamnya. Dan jauhkan kami dari siksa neraka”. (Nawawi Banten, Marah Labid, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1417 H], juz I, hal 68)


Kesimpulannya, dalam momen Ramadhan kali ini, mari kita menjadikan nikmat yang diperoleh dari Allah Swt sebagai perantara untuk mendapatkan ridha-Nya dengan bersyukur kepada-Nya. Bersyukur dengan memanfaatkan segala potensi yang diberikan oleh Allah untuk melakukan ketaatan dan kebaikan.

---------------
Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu