Momen Warga Aceh saat Hendak Tabarrukan Idul Fitri dengan Mustasyar PBNU Abu MUDI
NU Online · Ahad, 22 Maret 2026 | 21:30 WIB
Antrian panjang santri, dewan guru, dan masyarakat Aceh saat ingin tabarrukan dan bertemu dengan Abu MUDI, Mustasyar PBNU sekaligus Pimpinan Dayah MUDI Samalanga. (Foto: Helmi Abu Bakar)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Bireuen, NU Online
Gema takbir menggema sejak malam Idul Fitri di kawasan Masjid Po Teumeureuhom, kompleks Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Kabupaten Bireuen. Sejak selepas mahgrib, suasana religius terasa kental, menandai datangnya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah, Sabtu (21/3/2026).
Lantunan takbir terdengar bersahut-sahutan dari masjid hingga lorong-lorong dayah. Malam itu menjadi penanda berakhirnya perjalanan panjang Ramadhan sekaligus awal dari momentum kembali kepada fitrah.
Di lingkungan dayah, para jamaah suluk dan khalwah yang sebelumnya menjalani ibadah khusus selama Ramadhan telah menyelesaikan rangkaian riyadhah spiritual mereka. Khataman usai, tetapi perjalanan batin justru memasuki fase baru: mengamalkan dan menjaga nilai-nilai yang telah ditempa selama sebulan penuh.
Memasuki dini hari, udara dingin khas Samalanga mulai menyelimuti kawasan dayah. Namun suhu yang menusuk tidak menghalangi langkah para jamaah. Sejak sebelum subuh, lautan manusia telah bergerak menuju masjid.
Santri, dewan guru, hingga masyarakat umum dari berbagai penjuru Aceh tampak memadati kawasan Masjid Po Teumeureuhom. Jalan-jalan kecil menuju kompleks dayah dipenuhi pejalan kaki. Mereka datang bukan hanya untuk menunaikan Shalat Id, tetapi juga demi merasakan atmosfer spiritual yang khas di pusat keilmuan Islam tersebut.
Di dalam dan luar masjid, saf-saf mulai tersusun rapi. Tikar sederhana dibentangkan secara gotong royong. Tidak ada sekat antara santri dan masyarakat, semua menyatu dalam satu barisan.
Usai pelaksanaan Shalat Id, suasana tidak serta-merta lengang tetapi berlanjut pada tradisi yang telah mengakar kuat di Dayah MUDI, yakni tabarrukan bersama Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Syekh Hasanoel Basri (Abu MUDI).
Abu MUDI, yang merupakan Pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, setiap momen Idul Fitri pada pagi hari, membuka pintu kediamannya untuk menerima tamu dari kalangan santri, dewan guru, dan masyarakat.
Sejak pagi, antrean panjang mulai terlihat mengular. Jamaah berdiri dengan penuh adab, menunggu giliran untuk bersalaman, mencium tangan, serta memohon doa dari ulama kharismatik itu.
Salah seorang jamaah, Tgk Muhammad Kasim, pimpinan Dayah Darul Atiq Jeunieb, mengaku telah menargetkan datang lebih awal agar bisa bertemu Abu MUDI tepat waktu. Namun perjalanan yang tidak mulus membuat rencananya sedikit meleset.
“Kami sebenarnya ingin sampai lebih awal, tetapi mobil kami bocor di jalan. Namun tetap kami lanjutkan perjalanan, karena ini momen penting bagi kami,” ujarnya.
Bagi Tgk Kasim, tabarrukan bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi memiliki dasar kuat dalam khazanah keilmuan Islam.
Ia mengutip pandangan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, an-nazhar ila wajhi al-‘alim ‘ibadah (memandang wajah orang alim adalah ibadah)
Menurutnya, ungkapan ini menunjukkan bahwa kehadiran ulama bukan hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai sumber keberkahan yang dapat menenangkan dan menghidupkan hati.
Ia juga menyinggung riwayat dari Abdullah bin Mubarak yakni an ajlisa ma’a rajulin shalih ahabbu ilayya min an akhlu bi nafsi (Aku duduk bersama orang saleh lebih aku cintai daripada aku menyendiri).
Ia menegaskan bahwa kedekatan dengan ulama merupakan bagian dari pendidikan rohani yang tidak bisa digantikan oleh sekadar belajar secara teoritis.
Pengalaman serupa dirasakan Abi Safwan, pimpinan Dayah Assiddiqin Al-Aziziyah (ASA) Tutong, Pidie Jaya. Ia bersama rombongan juga datang terlambat karena kendala di perjalanan.
Namun sebagai anggota MPU Pidie Jaya, ia tetap berusaha untuk bisa bertemu Abu Mudi.
“Ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ini bagian dari ikhtiar batin kami untuk mengambil berkah dari ulama yang telah istiqamah mengajarkan ilmu puluhan tahun,” ujarnya.
Sementara itu, Tgk Muhammad Ali, warga asal Laweung, Pidie, memilih strategi berbeda. Ia memastikan datang sejak pagi agar tidak kehilangan kesempatan.
“Saya sudah datang lebih awal, karena ini bukan hanya silaturahmi, tetapi juga mencari keberkahan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa praktik tabarrukan memiliki landasan kuat dalam hadis Nabi Muhammad. Para sahabat, kata Tgk Ali, dahulu mengambil keberkahan dari Rasulullah.
Ia mengungkap sebuah kalimat hadits bahwa para sahabat mengambil sisa air wudhu Nabi untuk mencari keberkahan.
Menurutnya, hadits ini menjadi dasar bahwa tabarrukan merupakan praktik yang telah dikenal sejak masa Rasulullah dan diteruskan dalam tradisi ulama.
Ia juga mengutip hikmah dari Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam yakni la tashhab man la yunhidhuka haluhu wa la yadulluka ‘ala Allah maqaaluhu (jangan bersahabat dengan orang yang tidak membangkitkan keadaanmu dan tidak menunjukkanmu kepada Allah).
Ia menjelaskan, makna dari hikmah ini sangat relevan dengan tradisi tabarrukan yakni bahwa kedekatan dengan ulama adalah jalan untuk menghidupkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah.
Antusiasme jamaah terus meningkat hingga menjelang siang. Antrean panjang tidak berkurang, bahkan semakin bertambah. Namun yang menarik, semua berjalan dengan tertib.
Tidak ada desakan dan kegaduhan, melainkan hanyalah ketenangan.
Dalam kesempatan tersebut, Abu MUDI mengingatkan jamaah agar tidak menjadikan Idul Fitri sebagai akhir dari ibadah, tetapi justru sebagai awal dari istiqamah.
“Idul Fitri adalah awal. Jaga zikir, jaga shalat, dan teruskan kebaikan yang telah kita bangun selama Ramadan,” pesannya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Istiqamah Pasca-Ramadhan, Tanda Diterimanya Amalan
2
Khutbah Idul Fitri 2026: Makna Kemenangan dan Kembali Ke Fitrah
3
Muslim Arab dan Eropa Rayakan Idul Fitri 1447 H pada Hari Jumat, 20 Maret 2026
4
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2026: Jadilah Hamba Sejati, Bukan Hamba Musiman: Konsistensi dalam Ketaatan Setelah Ramadhan
5
Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa: Idul Fitri Dinten Ganjaran lan Kabingahan
6
Penjelasan Kiai Afifuddin Muhajir Soal Hadis Rukyatul Hilal dari Perspektif Ilmu Nahwu
Terkini
Lihat Semua