Nasional

Mustasyar PBNU Ingatkan Pentingnya Restu Orang Tua dalam Memilih Pasangan Hidup

NU Online  ·  Ahad, 15 Maret 2026 | 23:00 WIB

Mustasyar PBNU Ingatkan Pentingnya Restu Orang Tua dalam Memilih Pasangan Hidup

Mustasyar PBNU Syekh Hasanoel Basri (Abu MUDI) dalam sebuah pengajian Ramadhan. (Foto: tangkapan layar)

Bireuen, NU Online

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Syekh Hasanoel Basri HG (Abu MUDI) mengingatkan pentingnya restu orang tua dalam menentukan pasangan hidup.


Ia menilai, restu orang tua menjadi bagian dari keberkahan dalam pernikahan sekaligus wujud penghormatan atau takzim seorang anak kepada orang tuanya.


Pesan tersebut disampaikan Abu MUDI dalam pengajian rutin Ramadan yang berlangsung di Masjid Po Teumeureuhom Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, pada Sabtu (14/3/2026).


Dalam pengajian tersebut, ia menjelaskan bahwa orang tua bukan sekadar sosok yang melahirkan dan membesarkan anak. Mereka juga berperan sebagai guru sekaligus murabbi yang membimbing perjalanan hidup anak hingga dewasa.


Karena itu, kata Abu MUDI, ketika orang tua menunjukkan atau mengusulkan seseorang sebagai calon pasangan hidup, sikap terbaik bagi seorang anak adalah mempertimbangkannya dengan penuh penghormatan dan adab.


“Pilihan orang tua biasanya tidak lepas dari ridha dan doa mereka. Ketika seorang anak menerima pilihan orang tua, di sana terdapat keberkahan karena disertai restu serta harapan kebaikan dari kedua orang tua,” jelas Abu MUDI di hadapan jamaah pengajian Ramadan.


Ia juga menegaskan bahwa dalam banyak kasus, orang tua tidak menutup ruang bagi anak untuk memiliki pilihan sendiri. Namun demikian, dalam tradisi Islam, terutama dalam tradisi pesantren, sikap mendahulukan pandangan dan nasihat orang tua tetap menjadi nilai yang sangat dijunjung tinggi.


Di era digital saat ini, lanjut Abu MUDI, fenomena yang muncul menunjukkan bahwa banyak anak lebih dominan mengikuti pilihan pribadi dalam menentukan pasangan hidup.


Ia menuturkan bahwa akses informasi yang luas serta berkembangnya budaya individualisme sering membuat anak merasa lebih yakin pada pertimbangan dirinya sendiri. Meski demikian, para orang tua pada umumnya tetap bersikap terbuka dan tidak serta-merta menolak pilihan anak.


Namun, lanjut Abu MUDI, bagi seorang penuntut ilmu, terlebih bagi kalangan santri yang dikenal dengan tradisi takzim kepada guru dan orang tua, menghormati pilihan orang tua menjadi sesuatu yang sangat dianjurkan.


Ia mengingatkan bahwa takzim ini bukan sekadar budaya, tetapi merupakan bagian dari adab yang diwariskan dalam tradisi keilmuan Islam.


Dalam khazanah ulama, Abu MUDI menekankan bahwa penghormatan kepada orang tua merupakan ajaran yang sangat ditekankan.


Ia mengutip pernyataan Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin yang menjelaskan bahwa seorang anak hendaknya menjaga adab kepada orang tuanya dalam berbagai urusan kehidupan.


"Imam Al-Ghazali menegaskan: termasuk adab seorang anak adalah tidak mendahului kehendak orang tuanya, tidak mengeraskan suara di hadapan mereka, serta berusaha mengikuti apa yang mereka pandang baik selama tidak bertentangan dengan syariat," jelas Abu MUDI, mengutip Imam Al-Ghazali.


Menurut Abu MUDI, pesan tersebut menunjukkan bahwa mengikuti arahan orang tua, termasuk dalam perkara memilih pasangan hidup, merupakan bagian dari akhlak mulia yang dianjurkan dalam Islam.


Selain itu, ia mengutip pernyataan ulama besar tasawuf Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Kitab Al-Hikam yang mengingatkan pentingnya tawadhu dan kepasrahan terhadap hikmah yang Allah hadirkan dalam kehidupan.


"Tidaklah tampak cahaya di hati orang yang masih memiliki keinginan mendahului kehendak Allah," demikian pernyataan Ibnu Athaillah, diucap ulang oleh Abu MUDI.


Ia menjelaskan bahwa salah satu bentuk kerendahan hati seorang hamba adalah menerima nasihat dan bimbingan orang-orang yang Allah jadikan sebagai sebab kebaikan dalam hidupnya, termasuk orang tua.


Dalam konteks perjodohan, lanjut Abu MUDI, menerima usulan orang tua tidak berarti menghilangkan pertimbangan pribadi. Namun sikap menghormati dan mendahulukan nasihat orang tua merupakan bentuk kedewasaan sekaligus wujud bakti yang sangat bernilai.


Abu MUDI juga mengingatkan bahwa kebahagiaan dalam rumah tangga tidak semata-mata ditentukan oleh pilihan pribadi, tetapi juga oleh keberkahan yang menyertainya. Ketika sebuah pernikahan dilandasi oleh ridha orang tua, doa mereka akan terus mengiringi perjalanan kehidupan pasangan tersebut.


“Bisa jadi saat ini seseorang belum sepenuhnya memahami hikmah di balik pilihan orang tua. Namun seiring waktu, kebahagiaan itu akan dirasakan karena di dalamnya ada doa dan harapan baik dari kedua orang tua,” ujarnya.


Karena itu, ia mengajak generasi muda, terutama kalangan santri dan penuntut ilmu, untuk tetap menjaga tradisi takzim kepada orang tua dalam setiap keputusan penting dalam hidup.


"Dengan sikap tersebut, hubungan antara anak dan orang tua dapat terjaga dengan baik sekaligus menghadirkan keberkahan dalam setiap langkah kehidupan," pungkas Abu MUDI.