Nasional

Pengrajin Tahu Atur Strategi Imbas Kenaikan Harga Kedelai

NU Online  ·  Kamis, 16 April 2026 | 20:00 WIB

Pengrajin Tahu Atur Strategi Imbas Kenaikan Harga Kedelai

Wahyudi, pengrajin tahu di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, saat ditemui NU Online, pada Kamis (16/4/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Kenaikan harga kedelai mendorong para pengrajin tahu memutar strategi produksi agar tetap bertahan. Lonjakan harga bahan baku yang dipengaruhi dinamika global, termasuk perang Iran-AS, mulai dirasakan pelaku usaha kecil di berbagai daerah.


Salah satunya Wahyudi, pengrajin tahu di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, yang mengeluhkan harga kedelai yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.


“Sekali giling 50 kilo. Dari kedelainya doang sudah lumayan besar biayanya,” ujar Wahyudi saat ditemui NU Online, pada Kamis (16/4/2026).


Menurutnya, kedelai menjadi persoalan utama dalam usaha tahu. Harga bahan baku tersebut kini naik dari sekitar Rp15 ribu per kilogram menjadi Rp17 ribu per kilogram.


Kenaikan Rp2 ribu per kilogram memang terlihat kecil, tetapi berdampak besar bagi pengrajin yang menggunakan puluhan kilogram kedelai setiap hari.


“Kalau naik Rp2.000 per kilo, 10 kilo sudah ketahuan. Apalagi 50 kilo, langsung terasa ke keuntungan,” katanya.


Selain kedelai, sejumlah biaya produksi lain juga ikut meningkat, seperti plastik pembungkus, minyak goreng, hingga ongkos distribusi. Di sisi lain, daya beli masyarakat justru melemah.


Wahyudi menuturkan, kondisi pasar saat ini cenderung sepi karena banyak pembeli mulai berhemat di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok.


“Sekarang naiknya barengan. Kedelai, minyak goreng, plastik. Jualan di pasar juga sepi, mungkin orang lagi irit-irit,” ujarnya.


Di tengah tekanan tersebut, menaikkan harga jual tahu bukanlah keputusan yang mudah. Wahyudi menjelaskan, penyesuaian harga biasanya harus melalui kesepakatan bersama antarpengrajin dalam koperasi tahu tempe setempat.


Selama belum ada keputusan bersama, harga jual tetap dipertahankan untuk menghindari persaingan tidak sehat. Sebagai alternatif, para pengrajin menyiasatinya dengan mengecilkan ukuran tahu tanpa mengubah harga.


“Kalau enggak begitu ya enggak ketemu hitungannya,” kata Wahyudi sambil tersenyum tipis.


Meski menghadapi berbagai tantangan, Wahyudi memilih tetap bertahan. Usaha tahu yang dijalankannya tidak hanya menjadi sumber nafkah pribadi, tetapi juga menopang penghasilan para pekerja yang bergantung pada usaha tersebut.


“Harapannya semuanya cepat membaik. Kalau begini terus, lama-lama kita juga berasa,” pungkasnya.


Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan harga kedelai tetap terkendali di tengah isu lonjakan harga kedelai impor hingga Rp20 ribu per kilogram (kg).


Pemerintah juga telah menetapkan Harga Acuan Pembelian/Penjualan (HAP) kedelai di tingkat konsumen, termasuk bagi perajin tahu dan tempe.


Dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024, HAP kedelai lokal ditetapkan maksimal Rp11.400 per kg, sedangkan HAP kedelai impor maksimal Rp12.000 per kg.


Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono, sebagaimana dikutip dari Antara, menyatakan bahwa pemerintah terus memantau gejolak harga komoditas kedelai akibat konflik Iran-AS dan Israel.


"Ya, kita monitor. Kita monitor semua. Tugas pemerintah itu, kan, ya, tidak hanya kita ngomong kedelai, kita ngomongin BBM, ngomongin itu semua, kan. Ada impor, ada ekspor. Ini semua pemerintah perhatikan. Semua, bagaimana caranya gejolak di luar itu kemudian tidak banyak berimbas secara langsung signifikan di dalam negeri,” ujar Sudaryono sebagaimana dikutip dari Antara.