Nasional

Road to Muktamar NU 2026: PB IKA PMII Bahas Konflik, Modal dan Urgensi Merawat Nalar Kritis Nahdliyin

NU Online  ·  Sabtu, 11 Juli 2026 | 16:00 WIB

Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) melalui Forum Diskusi Cendekia Pergerakan menggelar diskusi akhir pekan secara virtual pada Jumat (10/7/2026). Kegiatan ini sebagai bagian menyambut Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

 

Mengusung tema Konflik, Modal, dan Kepentingan: Merawat Nalar Kritis di Lingkungan Nahdliyin forum ini menjadi wadah dialektika bagi para akademisi dan aktivis untuk merespons dinamika internal maupun eksternal organisasi NU saat ini.


Diskusi yang dipandu oleh Desi Hartika (PKC Kopri Aceh) dan Host Citra Orwela ini menghadirkan Dewan Pakar PB IKA PMII Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, Guru Besar UIN Mataram Prof Atun Wardatun, serta Akademisi Unusia Jakarta Amsar A. Dulmanan.


Kritik adalah Bentuk Cinta, Bukan Kebencian
Dalam pengantarnya, Prof Ahmad Tholabi Kharlie menegaskan bahwa menumbuhkan sikap kritis di lingkungan jamiyah NU tidak boleh disamakan dengan kebencian atau upaya menjatuhkan.

 

"Kritik itu lahir dari rasa memiliki dan tumbuh karena cinta, sebagai ikhtiar untuk memperbaiki," ungkapnya.

 

Pihaknya mengingatkan bahwa tradisi musyawarah, bahtsul masail, dan perbedaan pendapat sejatinya adalah warisan ulama Nusantara yang terus menjadi kekuatan utama Nahdlatul Ulama, selama tetap berada dalam bingkai adab dan penghormatan.


Membangun Piramida Nalar Kritis dan Kedaulatan Organisasi
Guru Besar UIN Mataram, Prof Atun Wardatun menyoroti pentingnya merawat basis intelektual anak muda NU. Berdasarkan risetnya, daya kritis kader tidak dominan dibentuk oleh media sosial, melainkan melalui ruang-ruang diskusi langsung (peer group), pelatihan, dan interaksi yang berkesinambungan.


Ia memperkenalkan konsep "Piramida Nalar Kritis" yakni ruang ngaji dan pengkaderan berfungsi sebagai mesin, tokoh kiai dan keluarga sebagai aktor, serta hubungan patron-klien yang cair dan terbuka sebagai bahan bakarnya.


Prof Atun menegaskan bahwa praktik kultural seperti tahlilan dan selamatan adalah laboratorium kohesi sosial yang potensial.


"Solidaritas ini seharusnya bisa dikembangkan pada isu-isu lain, seperti kemandirian ekonomi, kedaulatan organisasi, dan keberanian bersuara terhadap kebijakan-kebijakan publik," tegasnya.

 

Konflik sebagai Modal Sosial dan Realitas Kekuasaan
Dari kacamata sosiologis, akademisi Amsar A Dulmanan memaparkan bahwa konflik adalah realitas alamiah (sunnatullah) dalam relasi kemanusiaan yang senantiasa berkaitan dengan dominasi dan kekuasaan.

 

Ia membedah bagaimana kekuatan modal dan intervensi dari luar berupaya memengaruhi arah gerak NU. Menurut Amsar, perbedaan kepentingan dalam organisasi harus dikelola menjadi modal sosial yang sehat.


"Konflik itu membuka ruang kesadaran untuk menjadi lebih baik. Nalar kritis intelektual NU tidak berdiri sendiri, ia harus dibangun sebagai instrumen untuk mengoordinasikan kepentingan kolektif umat dan bangsa," jelas Amsar.

 

Waspada Intervensi Politik Jelang Muktamar
Forum diskusi ini juga menaruh perhatian besar pada pelaksanaan Muktamar NU mendatang yang rencananya bertempat di Tambakberas, Jombang. Berbagai audiens dan penanggap menyoroti pentingnya menjaga independensi NU dari cengkeraman politik uang (money politics) maupun intervensi politik praktis dari pihak eksternal.


Peserta diskusi bersepakat perlunya figur kepemimpinan yang mampu merangkul dan mengakomodasi seluruh kepentingan jemaah lintas sektor—baik di pesantren, kampus, maupun pengusaha—sehingga NU terhindar dari polarisasi yang kontraproduktif.

 

Ke depan, PB IKA PMII merencanakan inisiatif Ruang Cendekia Pergerakan ini sebagai agenda rutin bulanan untuk terus mengawal isu-isu strategis, menyuarakan aspirasi kader dari seluruh daerah, serta menyumbangkan gagasan konstruktif bagi Nahdlatul Ulama memasuki abad keduanya.