Nasional

Waspadai Dampak Musim Kemarau, Penyakit Pernapasan hingga Heat Stroke Mengintai

NU Online  ·  Jumat, 3 Juli 2026 | 20:00 WIB

Waspadai Dampak Musim Kemarau, Penyakit Pernapasan hingga Heat Stroke Mengintai

Ilustrasi musim kemarau. (Foto: Magnific)

Jakarta, NU Online

Musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dan lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi yang telah dimulai sejak April dan meluas pada Juli hingga September ini tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga memicu penurunan kualitas udara, berkurangnya ketersediaan air bersih, serta meningkatnya ancaman berbagai penyakit.


Dokter Umum Puskesmas Mustikajaya, Bekasi dr Dzaki Luqmanul Hakim mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap musim kemarau hanya sebagai persoalan cuaca panas.


Ia menyampaikan bahwa perubahan kondisi lingkungan selama musim kemarau dapat berdampak langsung terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penyandang penyakit penyerta.


“Musim kemarau ini berpotensi meningkatkan gangguan saluran pernapasan akibat polusi udara, dehidrasi, heat stroke. Karena itu masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan sejak dini,” ucapnya kepada NU Online, Jumat (3/7/2026).


Dzaki menjelaskan bahwa kualitas udara yang memburuk akibat debu maupun asap kebakaran hutan dapat memicu iritasi mata, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bronkitis, serta gangguan pernapasan lainnya. Di sisi lain, berkurangnya ketersediaan air bersih juga meningkatkan risiko penyakit berbasis sanitasi, seperti diare, kolera, tifoid, dan leptospirosis.


“Di musim kemarau juga dapat meningkatkan risiko penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan malaria. Paparan suhu tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan dehidrasi berat hingga heat stroke,” katanya.


Untuk mengurangi risiko tersebut, Dzaki mengimbau masyarakat rutin memantau kualitas udara, menggunakan masker ketika kondisi udara memburuk, dan memperbanyak konsumsi air putih.


“Bagus juga kalau air putih hangat ditambah perasan jeruk lemon atau nipis. Sementara ini hindari dahulu minuman yang berkafein karena dapat mempercepat kehilangan cairan tubuh,” ujarnya.


Ia juga menyarankan masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara buruk, menutup ventilasi ketika tingkat polusi tinggi, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus.


“Apabila muncul keluhan seperti sesak napas, batuk berkepanjangan, demam tinggi, atau tanda-tanda dehidrasi berat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat,” tegasnya.