NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80

Pustaka

Kumpulan artikel kategori Pustaka

Menampilkan 12 artikel (Halaman 75 dari 95)
Memanusiakan Kembali Kebudayaan
Pustaka

Memanusiakan Kembali Kebudayaan

Judul: Refilosofi Kebudayaan, Pergeseran Pascastruktural Penulis : Syaiful Arif Penerbit : Ar-Ruzz Media, Jogjakarta Cetakan pertama : Oktober 2010 Halaman : 360 hlm Peresensi : Mahbib Khoiron* Hakikat kebudayaan adalah usaha pemanusiaan manusia melalui pemanusiaan kehidupan. Maka, meskipun pada level cara-baca dan konteks sosial, telah terjadi banyak perubahan kebudayaan, arah dari kebudayaan itu sendiri haruslah tetap mengacu pada kemanusiaan.

Radikalisme dalam Masjid
Pustaka

Radikalisme dalam Masjid

Judul: Benih-Benih Islam Radikal di Masjid; Studi Kasus Jakarta dan Solo Penulis: Ridwan al-Makassary (Ed.) Pengantar: Prof. Dr. Komaruddin Hidayat Penerbit: CSRC, UIN Jakarta Cetakan: I, 2010 Tebal: xxxii+358 Halaman Peresensi: Ahmad Syauqi, SH, M.Hum* Keberadaan masjid sebagai pertanda bahwa Islam sebagai agama masih eksis di muka bumi ini. Eksistensi masjid merupakan ikon kejayaan Islam, karena masjid sebagai pertanda tempat beribadan umat Islam. Kalau ada pertanyaan apa yang paling Islam dari masjid? Jawabnya sangat sederhana; salatnya. Selain itu merupakan akulturasi dan hasil ijtihad. Seperti kubah tidak ada dalam tradisi Arab. Di Eropa kubah identik dengan gereja. Jadi kubah merupakan Islamisasi kultural oleh umat Islam. Menara (manarot) yang merupakan bagian penting dari masjid juga bukan dari Islam. Mulanya adalah tempat api untuk memuja para dewa dari bangsa Majusi.

NU Penggagas Islam Ahlussunnah wal Jamaah
Pustaka

NU Penggagas Islam Ahlussunnah wal Jamaah

Judul: Islam NU Pengawal Tradisi Sunni Indonesia Penulis: Drs KH Busyairy Harist, MAg Editor: Mohammad Iqbal Penerbit: Khalista Surabaya Cetakan: I, Agustus 2010 Tebal: 223 hlm. Peresensi: Moh Ridwan Rifa’i Bila ditilik dari sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), memang selalu menarik untuk dibicarakan dan diperbincangkan. Karena organisasi ini lahir atas inisiatif kaum tradisionalis (kalangan pesantren), yang memang betul dan paham terhadap kondisi sosial keagamaan sebelum NU lahir.

Buah Hatimu, ”Mutiara” Masa Depan
Pustaka

Buah Hatimu, ”Mutiara” Masa Depan

Judul Buku : Parenting With Love, Panduan Islami Mendidik Anak Penuh Cinta dan Kasih Sayang Penulis: Maria Ulfah Anshor dan Abdullah Ghalib Penerbit: Mizania, Bandung Cetakan: Pertama, Mei 2010 Tebal:  268 Halaman Peresensi: Ubaidillah Sadewa “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia” (QS Al-Kahfi [18]:46) Anak adalah merupakan bagian terpenting dari seluruh proses pertumbuhan manusia, karena pada masa anak-anaklah sesungguhnya karakter dasar seseorang dibentuk baik yang bersumber dari fungsi otak maupun emosionalnya. Berkualitas atau tidaknya seseorang di masa dewasa sangat dipengaruhi oleh proses pengasuhan dan pendidikan yang diterima di masa kanak-kanaknya. Dengan kata lain, kondisi seseorang di masa dewasa adalah merupakan hasil dari proses pertumbuhan yang diterima di masa anak-anak. Adapun faktor-faktor dominan yang mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan anak adalah orang tua, sekolah dan lingkungan. Ketiga faktor tersebut merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Ketika Gus Dur Menjadi Seorang Sejarawan
Pustaka

Ketika Gus Dur Menjadi Seorang Sejarawan

Judul: Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur Penulis: Abdurrahman Wahid Penerbit: LKiS, Yogyakarta. Cetakan: I, Januari 2010 Tebal: xx + 134 halaman Peresensi: Akhmad Kusairi Sebagai seorang anak bangsa, sosok Abdurrahman Wahid atau biasa dikenal dengan Gus Dur dalam perjalanan hidupnya telah banyak menyumbangkan tenaga maupun pikiran bagi berlangsungnya Indonesia sebagai sebuah bangsa. Sebagian orang sudah tidak asing lagi dengan pemikiran-pemikirannya tentang agama, politik dan sosial kemasyarakatan. Namun tahukah orang bahwa Gus Dur juga bisa menjadi sejarawan yang menguasai berbagai literatur tentang sejarah.

Kiai Bergelar Pahlawan Nasional
Pustaka

Kiai Bergelar Pahlawan Nasional

Judul: Wahid Hasyim Biografi Singkat 1914-1953 Penulis: Muhammad Rifa’i Editor: Meita Sandra Penerbit: Garasi Yogyakarta Cetakan: 2010 Tebal: 169 hlm. Peresensi: Moh. Ridwan Rifa’i Kiai Wahid Hasyim adalah putra dari Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, salah satu pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) dan ayah dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Wahid Hasyim adalah salah seorang dari sepuluh keturunan langsung KH Hasyim Asy’ari. Silsilahnya dari jalur ayah bersambung hingga Joko Tingkir, tokoh yang dikenal dengan Sultan Sutawijaya yang berasal dari kerajaan Islam Demak. Sedangkan dari jalur ibunya, bersambung hingga Ki Ageng Tarub. Dan bila dirunut lebih jauh, kedua silsilah itu bertemu pada satu titik, yaitu Sultan Brawijaya V, yang menjadi salah satu raja kerajaan Mataram. Maka tidak heran jika pada akhirnya Wahid Hasyim menjadi seorang figur, panutan masyarakat, bahkan gelar pahlawan nasionalpun ia raih. Karena Wahid Hasyim dikenal sebagai sosok yang mempunyai banyak sumbangsih terhadap negara Indonesia, khususnya dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Deradikalisasi Melalui "Islam Budaya"
Pustaka

Deradikalisasi Melalui "Islam Budaya"

Judul : Deradikalisasi Islam, Paradigma dan Strategi Islam Kultural Penulis : Syaiful Arif Penerbit  : Koekoesan, Depok Cetakan : 1, Juli 2010 Halaman : vii + 151 Peresensi : Muhammad Yunus* Radikalisme Islam yang saat ini menggeliat adalah gambaran dari krisis identitas yang dialami sebagian saudara muslim kita. Krisis ini mengacu pada ketidakmengakaran keislaman dengan kultur Nusantara yang menjadi lambaran dasarnya. Maka, solusi atas radikalisme Islam adalah kembali pada keindonesiaan Islam.

Memperkokoh Peran NU Terhadap Negara
Pustaka

Memperkokoh Peran NU Terhadap Negara

Judul Buku : NU dan Keindonesiaan Penulis : Mohammad Sobary Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Cetakan : 1, 2010 Tebal : xviii + 258 halaman Peresensi : Imdad Fahmi Azizi* Sejak didirikan oleh Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari dan beberapa kiai kharismatik di Surabaya pada tahun 1926, NU mendapat banyak simpati dari berbagai kalangan karena kemampuannya mempertahankan dan menyeimbangkan antara kekuatan tradisionalisme dan budaya modern (almukhafadhatu alal qadimis sholeh wal akhdu bil jadidil ashlah). Disisi lain, tradisionalisme NU mampu mengarahkan umatnya untuk bersikap toleran, menghormati agama lain, serta menghindar dari sikap fundamentalisme dan radikalisasi.

Kiai dan Masa Depan NU
Pustaka

Kiai dan Masa Depan NU

Judul Buku : Dari Kiai Kampung ke NU Miring Penyunting : Binhad Nurrohmat Penerbit : Ar-Ruz Media Cetakan : Pertama, 2010 Tebal : 248 halaman Peresensi : M. Kamil Akhyari *) “Al ulama’ warasatul anbiya.’” Ulama adalah pewaris para nabi, itulah mungkin kata yang terlukis dalam benak warga nahdliyin. Kiai adalah penyambung lidah para nabi. Artinya, dawuh disampaikan kiai secara tidak langung adalah sabda yang hendak disampaikan para nabi yang sudah jelas terjamin kesohehan dan kebenarannya. Sehingga kiai adalah segala-galanya : mulai dari konsultasi agama sampai kebaya, mistik sampai politik. Karena ‘fanatiknya’ sebagian warga kepada kiai, tidak jarang konsultasi kesehatan pada kiai dan resep yang keluar dari mulutnya dinilai lebih berharga dari resep yang dianjurkan dokter.

Menyambut Satu Abad Pondok Pesantren Lirboyo
Pustaka

Menyambut Satu Abad Pondok Pesantren Lirboyo

Judul       : Mbah Manab, Mbah Marzuqi, dan Mbah Mahrus; Kesan Mendalam Para Tokoh Alumni Terhadap Tiga Tokoh Lirboyo Penyusun : Tim FORMAL Jakarta Tebal       : xxii+326 hlm., 14x21 cm Penerbit   : Jausan Cetakan   : I, Juli 2010 Harga      : Rp 48.000 Peresensi : A. Khoirul Anam * Ada yang sangat menarik diamati dari Pondok Pesantren Lirboyo, yakni jumlah santrinya yang luar biasa banyak. Para peneliti pendidikan mungkin menilai ini tidak masuk akal. Bagaimana tidak, kamar-kamar santri pun tidak muat untuk ditempati tidur, dan para santri malahan rela tidur di emperan masjid bahkan sampai di tempat jemuran. Konon magnet Pesantren Lirboyo yang begitu kuat sehingga banyak santri tertarik belajar ini merupakan hasil dari tirakat para pendiri pesantren ini, Kiai Abdul Karim, Kiai Marzuqi Dahlan dan Kiai Mahrus Ali.