NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80

Pustaka

Kumpulan artikel kategori Pustaka

Menampilkan 12 artikel (Halaman 76 dari 95)
Filosofi Kenyelenehan Gus Dur
Pustaka

Filosofi Kenyelenehan Gus Dur

Judul buku : Nyeleneh itu Indah Penulis : Achmad Mufid AR Penerbit : Kutub Yogyakarta Cetakan : 1, 2010 Tebal : 112 halaman Peresensi : Siti Muyassarotul Hafidzoh* Kehebohan ini bermula dari kejadian sederhana. Saat itu, Gus Dur telah diwawancarai oleh majalah Amanah, edisi Mei, 1987, selama lima jam dalam bulan puasa. Gus Dur saat itu tanyai ihwal ide pribumisasi Islam yang dilontarkannya. Gus Dur mencontohkan idenya tersebut dengan bolehnya menggunakan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, sebagai ganti dari assalamu’alaikum.

Menyibak Teror Kekerasan Berkedok Agama
Pustaka

Menyibak Teror Kekerasan Berkedok Agama

Judul : Politik Para Teroris                        Penulis : Mutiara Andalas    Penerbit : Kanisius, Yogyakarta Cetakan : I (Pertama), 2010 Tebal :132 halaman Harga : Rp. 25.000,- Peresensi :Humaidiy AS *)   Entah atas dasar apa pun, kekerasan selamanya tidak akan dibenarkan oleh semua negara dan agama manapun. Ideologi perang dan kekerasan di masa lalu, terbukti banyak menimbulkan kebangkrutan dan kemunduran peradaban. Terorisme merupakan lingkaran setan yang berdampak buruk bagi pelaku dan korban sekaligus. Dampak yang paling terasa tentu bukan hanya aspek materi, semisal aspek pariwisata yang ditandai dengan berkurangnya jumlah wisatawan saja, ataupun terganggunya stabilitas politik-ekonomi negara.

Konstruksi NU
Pustaka

Konstruksi NU

Judul Buku : Memahami Nahdlatul Ulama Urgensi Besar Membangun Kembali Jembatan Putus Penulis : Prof. Dr. H. Ali Maschan Moesa, M.Si Pengantar : Dr. KH A. Hasyim Muzadi Editor : Ach. Syaiful A’la Penerbit : Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya Cetakan : I, Pebruari 2010 Tebal : xiv+302  Halaman Peresensi : Rangga Sa’adillah S.A.P.* Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang memiliki masa cukup besar di Indonesia. Istilah guyon di kalangan nahdliyin (sebutan bagi warga NU), mereka juga memiliki komunitas warga yang kompleks, mulai dari qari’ sampai korak. Karena itu, tidak belebihan kalau dikatakan warga NU adalah sebagai representasi fenomena grassroot negara ini.

Ajaran Kearifan Tiga Guru Sufi Jawa
Pustaka

Ajaran Kearifan Tiga Guru Sufi Jawa

Judul Buku : Tiga Guru Sufi Tanah Jawa Penulis : H. Murtadlo Hadi Penerbit : LKiS, Yogyakarta Cetakan : 1, Februari 2010 Tebal : 250 halaman Peresensi : Ahmad Hasan MS*) Sosok ulama atau kiai lazim dikenal karena suri teladannya, yatiu bagaimana praktek syariat itu menjadi laku (amal) sehari-hari. Di samping itu, sosok kiai pun bisa menempati ruang khusus di hati umat karena pernyataan-pernyataan, wasiat-wasiat atau wejangan- wejangan mereka kepada oreang terdekat dan para santri serta masyarakat. Wajar bila kiai oleh KH Aziz Mashuri menjadi penyangga kazanah kebudayaan islam yang adiluhung.

Imam Syafi’i dalam Yurispundensi Islam
Pustaka

Imam Syafi’i dalam Yurispundensi Islam

Judul Buku : Fiqih Imam Syafi’i (Mengupas Masalah Fiqhiyah Berdasar Al-Qur’an dan Hadits) Penulis : Prof. Dr. Wahbah Zuhaili Penerbit : Almahira, Jakarta Cetakan : I, Februari 2010 Tebal : 716 hal. Peresensi : Ahmad Shiddiq Rokib* Fiqih merupakan cabang ilmu keislaman yang mengkaji hukum syariat yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) dan  hubungan antar sesama manusia (hablum minannas). Kata “fiqih” sendiri secara bahasa berarti “paham”, seperti dikutip dalam hadits di atas, awal mulanya fiqih pengertian yang luas, yaitu pemahaman yang mendalam terhadap islam secara utuh. Definisi ini berlaku pada masa generasi sahabat dan tabi’in. Selanjutnya pada masa muta’akhirin (abad IV-XII H), fiqih mengalami penyempitan makna, menjadi “pengetahuan hukum syara’ yang bersifat alamiyah bersumber dari dalil-dalil yang spesifik”.

Dinamika NU di Tengah Pusaran Zaman
Pustaka

Dinamika NU di Tengah Pusaran Zaman

Judul Buku : Nahdlatul Ulama: Dinamika Ideologi dan Politik Kenegaraan Editor : Khamami Zada, A. Fawaid Sjadzili Penerbit : Kompas, Jakarta Cetakan : I, Maret 2010 Tebal : xii + 260 Halaman Peresensi : Abdul Halim Fathani* NU, merupakan Organisasi massa terbesar -saat ini- di Indonesia, bahkan di dunia. NU, baru saja menggelar Muktamar ke-32 yang berlangsung di Asrama Haji Sudiang Makasar Sulawesi Selatan 22-27 Maret 2010 yang lalu. Banyak persoalan penting yang dibahas dalam muktamar tersebut, seperti meneguhkan kembali jati diri NU melalui pemantapan makna “kembali ke khittah”, pembentukan Pengurus Anak Ranting (PAR), peneguhan identitas Ahlussunah Waljamaah, selain agenda penting –pemilihan rais am dan ketua umum. Di luar itu, juga banyak digelar acara pendukung, seperti seminar, bedah buku, bursa buku, dan sebagainya.

Membangun Keluarga Maslahah
Pustaka

Membangun Keluarga Maslahah

Judul Buku : Keluarga Maslahah, Terapan Fikih Sosial Kiai Sahal Penulis : M. Cholil Nafis dan Abdullah Ubaid Penerbit : Mitra Abadi Press, Jakarta Cetakan : 1, Maret 2010 Tebal : v + 316 Halaman Peresensi : Mashudi Umar* Membangun keluarga maslahah merupakan unsur sentral dalam ajaran Islam, sebab unit keluarga memang merupakan sendi utama masyarakat. Atas landasan unit-unit keluarga yang sehat akan berdiri tegak bangunan masyarakat yang sehat. Karena, perkawinan dalam Islam adalah sebuah ikatan bathiniyah dan dhahiriyah antara dua pasangan setara yang telah mengucapkan ijab qabul. Keluarga juga sebagai tempat pembinaan pertama (madrasatul ula) menjadi sangat menentukan akan fondasi keimanan yang kokoh dan melahirkan anak-anak yang baik secara kualitas dan kuantitas.

Rekonstruksi Hukum Islam di Dunia Modern
Pustaka

Rekonstruksi Hukum Islam di Dunia Modern

Judul buku : Fiqh Madani: Konsruksi Hukum Islam di Dunia Modern Penulis : Dr Muhyar Fanani Penerbit : LKiS Yogyakarta Cetakan : I, Januari 2010 Tebal : xxxviii + 430 hal. Peresensi: M. Alif Mahmudi* Berawal dari sebuah keprihatinan terhadap masyarakat Syiria, Timur Tengah, dan dunia muslim yang pada garis besarnya memilliki problem seputar penegakan demokrasi kebebasan sipil, dan ketertinggalanya dengan dunia Barat yang telah mengantarkan masyarakat terperosok ke dalam problematika yang lebih beragam, seperti neo-kolonialisme, kemiskinan, ketidakberdayaan, korupsi, kesenjangan ekonomi, radikalisme, tuduhan sebagai sarang teroris, peminggiran peran perempuan, dan krisis intelektual. Memaksa kaum intelektual Syiria, Timur Tengah, dan dunia muslim lainya untuk mencoba mencari formula baru sebagai solusi problematika yang dapat membangun masyarakat madani (civil society).

Menabur Benih Islam Ramah yang menjadi Rahmah
Pustaka

Menabur Benih Islam Ramah yang menjadi Rahmah

Judul Buku : Cermin Bening dari Pesantren Penulis : Rizal Mumazziq Z. Penerbit : Khalista, Surabaya Cetakan : I, 2009 Peresensi : A. Khoirul Anam*) Sosok kiai kerapkali diasosiasikan dengan tokoh konservatif dan jumud. Ini adalah interpretasi yang sangat apriori. Gambaran demikian sebenarnya sangat kasuistik dan bersifat per-sonal karena sosok kiai (sebagai bagian dari kelompok sosial seperti manusia lainnya) memiliki sifat, pola pikir, dan karakter yang berbeda-beda. Sungguhpun demikian, pandangan-pandangan sumir terhadap kiai—biasanya dilakukan oleh para modernis dan puritan—tetap tak mampu menggeser pengaruh kiai di masyarakat. Keberadaan pesantren yang manunggal dengan lingkungan sekitarnya, memang unik. Ia seperti berada di wilayah periferi kekuasaan negara, sekaligus hadir di jantung masyarakat. Dan, sebagai figur sentral pesantren dan masyarakat, kiai dituntut bersikap kontekstual, fleksibel dan elastis menyikapi dinamika sosial, sekaligus menjaga agar jatidiri dan sistem nilai pesantren tak luntur. Dalam strategi sosial kebudayaan, kepercayaan diri self confidence yang berkelindan dengan sikap pertahanan diri (self defensive) seperti ini, akan memberikan landasan kuat bagi transformasi sosial.

Potret Kaum Santri Menembus Peradaban
Pustaka

Potret Kaum Santri Menembus Peradaban

Judul Buku : Etos Studi Kaum Santri; Wajah Baru Pendidikan Islam Penulis : Asrori S. Karni Penerbit : PT Mizan Pustaka, Bandung Cetakan : I, 2010 Tebal : xiii + 426 halaman Peresensi : Fatkhul Anas*)   Geliat kaum santri melakukan pengembaraan intelektual sungguh luar biasa. Kaum santri tidak lagi menjadi manusia yang puas hanya dengan sarung dan kitab kuning. Mereka memiliki cita-cita tinggi dan ingin menjelajah keilmuan modern di luar pesantren. Hal ini tidak lepas dari perkembangan zaman yang menuntut setiap manusia bergerak cepat. Sedikit saja lengah atau mengabaiakan kesempatan, maka peluang-peluang emas akan terlewatkan. Sebagaimana petuah Ronggowarsito bahwa di zaman edan, siapa yang tidak edan tidak kebagian. Tapi, seberuntung-beruntungnya orang edan, adalah mereka yang senantiasa eling (sadar) dan waspada. Jangan sampai hanya terjebak pada kenikmatan sesaat yaitu sekedar kenikmatan duniawi.

Peluang dan Tantangan NU
Pustaka

Peluang dan Tantangan NU

Judul Buku : NU Untuk Siapa? Pikiran-Pikiran Reflektif Untuk Muktamar NU Ke-32 Penulis : Prof. Dr. H. Ali Maschan Moesa, M.Si Editor : Ach. Syaiful A’la Penerbit : Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya Cetakan : I, Pebruari 2010 Tebal : xv+65  Halaman Peresensi : Rangga Sa’adillah S.A.P.* Berbicara masalah NU tidak lepas dari proses panjang berdirinya, maksud dan tujuan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan (jam'iyah diniyah ijtima'iyah) terbesar di belahan bumi khususnya di Indonesia, yang motori oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah, dengan semangat awal yakni mendirikan Kebangkitan Bangsa (Nahdlatu Wathan), kemudian Kebangkitan Pengusaha (Nahdlatut Tujjar), dan artikulasi pemikiran (Tashwirul Afkar). Ketiga hal tersebut merupakan tiga pilar berdirinya Nahdlatul Ulama.

Akar Pemikiran Politik Gus Dur
Pustaka

Akar Pemikiran Politik Gus Dur

Judul Buku : Pemikiran dan Sikap Politik Gus Dur Penulis : Dr. Ali Masykur Musa Penerbit : Erlangga, Jakarta Cetakan : Pertama, 2010 Tebal : vii + 162 halaman Peresensi : Mashudi Umar* Pencetus humor “Gitu aja ko’ repot” tiada habisnya untuk dibicarakan, didiskusikan dari berbagai perspektif oleh anak bangsa termasuk ketika Gus Dur menjadi presiden yang dipilih langsung oleh MPR, awal mula “kran” demokrasi dibuka tahun 1998 ini. Gus Dur di panggung kekuasaan adalah sejarah besar bagi warga nahdliyin, sejarah yang ingin diakui oleh generasi penerusnya. Sejarah Gus Dur di panggung kekuasaan berakhir setelah Megawati Suekarno Putri dilantik menjadi Presiden RI ke-5 dalam SI MPR. Barangkali itulah politik, harus rela menghadapi resiko dijatuhkan oleh lawan-lawan politiknya. Dan Gus Dur sudah mendapat resiko paling buruk dilengserkan dari kursi kepresidenan.