NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80

Seni-budaya

Kumpulan artikel kategori Seni-budaya

Menampilkan 8 artikel (Halaman 29 dari 29)
Tak Ada yang Bicara Cinta Malam Ini
Cerpen

Tak Ada yang Bicara Cinta Malam Ini

Oleh A. Zakky Zulhazmi Saat kulirik jam tangan, ternyata waktu baru menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Bus yang kutumpangi sudah memasuki daerah Ampel, Boyolali. Ini terlalu cepat, pikirku. Biasanya bus baru memasuki kota Solo sekitar pukul lima. Tapi kali ini bisa dua jam lebih cepat. Sepanjang perjalanan aku memang tertidur pulas. Jadi tidak tahu apakah tadi jalanan macet atau lancar. Awalnya kuduga jalanan macet, sebab aku berangkat Jumat sore. Ternyata jalanan lancar, sehingga bus bisa sampai Solo lebih cepat dari biasanya.

Haji Arni
Cerpen

Haji Arni

Oleh Abdullah Alawi Di desa Hanjuang orang yang bergelar haji terbilang banyak. Tidak hanya  ajengan , pejabat, dan orang kaya saja yang pernah pergi ke tanah suci. Dari kalangan masyarakat biasa pun tak mau ketinggalan. Apalagi jika para TKI yang bekerja di Arab Saudi masuk dalam hitungan. Entah siapa yang memulainya, desa Hanjuang kemudian terkenal dengan desa haji. Orang desa luar sampai pejabat pemerintah pun menyebut demikian. Menjadi kesepakatan tak resmi. Nama Hanjuang sendiri jarang disebut-sebut, kecuali dalam urusan pencatatan di pemerintahan.  Sebenarnya desa Hanjuang bukan desa kaya. Hasil buminya hanya dari pertanian dan perkebunan. Tapi pergi haji seolah menjadi kebiasaan dan kebutuhan. Seorang muslim harus melengkapi rukun Islam kelima, sekurangnya sekali seumur hidup. Begitu keyakinan mereka. Untuk memenuhinya, mereka rela menjual sawah, kebun, atau kerbau. Bahkan ada yang menjual rumah tanpa memperhitungkan keluarga yang ditinggalkan. Ada suatu kepercayaan yang berkembang di masyarakat, pergi haji bukan sekadar ibadah atau tuntutan syari’at. Tapi karena kebiasaan dan panggilan leluhur mereka yang bernama mbah Jabog yang kemudian terkenal dengan panggilan Mama Haji. Dialah yang mendirikan kampung Hanjuang dan kemudian menyebarkan agama Islam untuk pertama kali. Konon, suatu ketika, leluhur kampung Hanjuang itu menunaikan ibadah haji. Ketika di mesjid Nabawi, dia berdebat tentang suatu masalah agama dengan seorang syekh Arab Saudi. Keduanya tidak ada yang kalah karena dalil yang dikemukakan sama-sama kuat. Syeikh itu mengakui kecerdasannya. Kemudian mereka bersahabat.  Untuk mempererat persahabatan itu, syekh ingin berkunjung ke kampung halaman sahabat barunya. Dia berkenan menginjak tanah Hanjuang. Sesampai di Hanjuang, dia mengumpulkan seluruh warga. Kemudian berdoa supaya warga Hanjuang dan keturunannya bisa pergi ke tanah suci seperti mereka pergi ke pemandian. Ketika kembali lagi ke tanah suci, syekh membawa segenggam tanah. Entah untuk apa. Orang-orang di kemudian hari menganggap doa dan tanah itulah yang menjadi panggilan tanah suci.  Pada tahun berikutnya, mbah Jabog pergi lagi ke tanah suci. Dia menetap beberapa lama di rumah sahabatnya. Tetapi di sana dia dipanggil ke hadirat-Nya. Ia meninggal. Kemudian dimakamkan di tempat syekh. Sejak itu, panggilan berhaji semakin kuat untuk orang-orang Hanjuang. Mereka mengatakan bahwa  menunaikan ibadah haji adalah memenuhi panggilan mbah Jabog alias Mama Haji. Dari tahu ke tahun yang berhaji terus bertambah. Gelar haji menjadi sesuatu yang lumrah. Doa syekh begitu mujarab. Biasanya, jika seseorang sudah berhaji, dia akan mengubah nama aslinya dengan nama kearab-araban. Mengganti nama seolah menjadi rukun berhaji. Nama lokal dianggap kurang afdol jika disandingkan dengan gelar haji. Mereka menganggap Arab adalah Islam dan Islam adalah Arab. Dua nama satu pengertian. Maka banyaklah di kampung Hanjuang nama-nama yang dimulai dengan Abdul atau Dul, Muhammad atau Mad. Tapi satu hal yang kontradiktif meski haji terus bertambah, tapi ibadah yang lain  biasa-biasa saja. Saking banyaknya haji, di Hanjuang ada semacam kategorisasi haji. Bukan haji dari istilah syariat, melainkan istilah haji khas masyarakat setempat. Kategori itu adalah haji dulkahpi, haji arni dan haji soleh. Sebab-sebab terjadinya haji dulkahpi adalah demikian. Ada seorang yang mengaku pergi haji. Dia meghilang salama hampir satu bulan dengan menjual harta orang tuanya. Suatu hari dia datang kembali ke Hanjuang dengan memakai peci putih. Tangannya memegang tasbih. Membawa buah kurma dan sebotol air. Keluarganya menyambut dengan suka cita. Pada malam harinya mereka mengadakan kenduri dengan mengundang ajengan dan tetangga. Pada saat itulah dia memperkenalkan nama barunya.  “Saya sekarang bernama haji Dulkahpi. Saudara-saudara bisa memanggil saya haji Dul atau haji Kahpi.” Tapi pada suatu hari ke kampung Hanjuang ada seorang perempuan muda ditemani seorang lelaki tua. “Apa betul ini desa Hanjuang yang terkenal banyak hajinya?” tanya perempuan itu pada seseorang yang duduk di beranda rumahnya. “Iya. Tepat sekali. Ada yang bisa saya bantu?” “Kenal sama orang yang bernama Sukarta? “Sukarta..., Sukarta...,” kata orang itu bergumam sambil tertunduk seperti sedang mengaduk nama-nama yang dikenalnya. Kemudian ia mengangkat wajahnya. “Oh…haji Dulkahpi. Jelas saya tahu, dong. Rumahnya tidak jauh dari sini. Belum lama pergi haji. Saya bersedia mengantar sampai halaman rumahnya.” Kedua orang itu tertegun sebentar. Kemudian yang perempuan muda bertanya lagi, “Dia sudah berhaji?”  “Iya, belum lama dia pulang dari tanah suci. Kira-kira dua minggu yang lalu.” “Apa?” kedua orang berteriak hampir berbarengan, tersentak kaget seperti disengat tawon. “Memangnya ada apa? Di Hanjuang pergi haji bukan hal aneh.” “Saya tahu itu. Tapi dia baru dua minggu yang lalu meninggalkan saya. Saya ini isterinya. Satu bulan yang lalu saya menikah dengannya. Kemudian dia pergi tanpa meninggalkan pesan.” Orang itu hanya terbengong-bengong mendengar penjelasan itu. Kemudian dua orang itu melabrak haji Dulkahpi. Sejak itulah haji Dulkahpi dipelesetkan oleh orang-orang Hanjuang menjadi haji ngawadul ka Mekah teu nepi*.  Ada pula yang disebut haji Arni. Haji arni adalah orang yang meski sudah berhaji tapi sifatnya kedekut, koret, cap jahe, buntut kasiran.  Asal-usulnya seperti ini. Ada orang yang bernama Arni. Orang terkaya di Hanjuang. Kerbaunya banyak. Kebun dan sawahnya berhektar-hektar. Satu hal yang jadi wataknya adalah pelit. Jangankan memberi pada orang lain, pada sanak keluarganya pun dia pelit. Makanan dan minuman dari pada diberikan kepada tetangganya lebih baik basi. Dia malas mengeluarkan zakat mal. Kalau tidak malu pada yang lain, zakat fitrah pun sebenarnya enggan. Buat apa zakat, wong ini harta saya. Hasil kerja keras saya. Begitu pikirnya. Yang menjadi pergunjingan masyarakat, orang kaya satu ini belum pergi haji. Padahal kalau dilihat dari kemampuannya, dia sudah nisab. Karena itulah ajengan sering menyindir dalam pengajian rutin malam jumat.  “Kapan nih Kang Arni memenuhi panggilan Mama Haji?” “Nanti sajalah. Sekarang belum niat.” Karena sering disindir dan didorong oleh seluruh keluarganya, akhirnya dia pun memaksakan diri untuk berhaji. Tak perlu menjual sawah, kebun atau kerbau karena uang simpanannya cukup banyak.Sepulang dari tanah suci, dia mengundang tetangga dan ajengan untuk mengadakan tasyakuran. Tidak ada kurma dan air zamzam pada kenduri itu. Makanan dan minuman pun cuma seadanya. Pada waktu itu, dia menahbiskan namanya menjadi haji Barokah. Haji Arni yang sekarang bergelar haji Barokah sifatnya tak berubah. Pelitnya semakin bertambah. Dia sekarang mulai melarang anak-anak tetangga yang biasa memetik buah jambu biji yang ada di halaman rumahnya. Jika malam hari terdengar benda jatuh dari kebun belakang rumahnya, maka dia akan terbangun kemudian keluar mambawa obor.  Suatu ketika, terjadi hujan lebat di tengah malam. Di kebunnya yang dikelilingi pagar kokoh itu terdengar suara benda jatuh. Tak lama kemudian muncullah haji Arni dengan membawa tudung dan obor. Dia menelisik kebunnya tanpa menghiraukan hujan. Setiap inci per inci tanah tak lepas dari pandangannya. Dia seperti tentara yang mendeteksi ranjau. Tapi dia hanya menemukan batu sebesar kepala anak-anak. Dari seberang pagar terdengar suara tawa terbahak-bahak. Tahulah bahwa dia sedang dikerjai. Dan masih banyak cerita-cerita yang berhubungan dengan kepelitannya. Orang-orang umumnya hapal cerita itu. Oleh karena itulah namanya setelah naik haji tidak terkenal. Orang-orang  lebih senang menyebutnya haji Arni. Bukan haji Barokah.  Setelaah peristiwa di malam itu, haji Arni mengalami sakit parah. Tak lama kemudian dia meninggal. Setelah itulah haji arni menjadi istilah. Sering dipakai untuk memanggil haji atau orang yang pelit. Jika seseorang dipanggil haji dulkahfi, tidak terlalu bermasalah. Tapi kalau disebut haji arni ia akan mencak-mencak. Demikianlah haji Arni menjadi legenda. Namanya tetap hidup. Kisahya dijadikan cerita turun-temurun pada saat anak-anak sebelum tidur.  Mereka sangat membencinya. Sedangkan haji Soleh adalah haji yang benar-benar taat pada ajaran agama, senang berderma, dan ramah. Haji seperti ini bisa dihitung jari di Hanjuang. Kebanyakan haji yang tak bergelar. Mereka hidup biasa-biasa saja.  Pada tahun 65 orang-orang kampung Hanjuang tidak ada yang pergi haji. Waktu itu situasi tidak menentu. Tiba-tiba saja kategori haji bertambah. Ada haji komunis! Entah siapa yang memulainya. Jika ada haji yang termasuk kategori ini, maka hilanglah pamornya di mata masyarakat. Dan biasanya dia dibunuh tanpa diketahui sebab-sebabnya. Banyak haji yang dibunuh. Orang-orang lebih takut dipanggil hají komunis dari pada hají arni atau gelar haji yang mana pun.  Tapi setelah tahun 65 berlalu, warga Hanjuang mulai pergi haji lagi, memenuhi panggilan Mama Haji. Istilah-istilah haji yang ada di masyarakat masih sering digunakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi mereka akan merinding apabila mendengar haji komunis. Kata komunis itu sendiri sebenarnya mereka tidak paham. Kata yang penuh darah dalam ingatan kolektif mereka.                                                                            Ciputat, April 2006   ABDULLAH ALAWI penikmat sastra. Lahir di Sukabumi, Jawa Barat. Tinggal di Ciputat. Pernah bergiat di Forum Studi M@kar, Piramida Circle dan Rimasi Jakarta. *Haji berbohong, tak sampai ke Makkah

Bola Lampu
Cerpen

Bola Lampu

Oleh: Asrul Sani   Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat menceritakan cerita sebagai berikut kepada saya:  Pernah sekali saya memperoleh penyakit cinta lampu dan cinta matahari. Cinta matahari ini tidak berapa lama, hanya seminggu, yaitu sewaktu saya masih bekerja antara pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore. Kalau pukul 1 memperoleh waktu beristirahat seperti untuk makan tengah hari, terlebih dahulu saya memandang mengap-mengap ke langit seperti ikan di daratan, baru saya pergi makan. Penyakit cinta ini demikian mendalamnya, sehingga sesudah seminggu saya tidak tahan lagi, lalu minta berhenti.

Gus Jakfar
Cerpen

Gus Jakfar

Oleh A. Mustofa Bisri  Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren "Sabilul Muttaqin" dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu.  "Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. "Saya sendiri tidak paham apa maksudnya."  "Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian subuh Kiai Saleh. "Matanya itu lho. Sekilas saja mereka melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu, sebelum dilamar orang sabrang kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?' Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya."  "Kang Kandar kan juga begitu," timpal Mas Guru Slamet. "Kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, 'Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?' Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal."  "Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar," sahut Ustadz Kamil, "Nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar."  "Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara. "Waktu itu, tak ada hujan tak ada angin, Gus Jakfar bilang kepada saya, 'Wah, saku sampeyan kok mondol-mondol; dapat proyek besar ya?' Padahal saat itu saku saya justru sedang kemps. Dan percaya atau tidak, esok harinya saya memenangkan tender yang diselenggarakan Pemda tingkat propinsi."  "Apa yang begitu itu disebut ilmu kasyaf?" tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan.  "Mungkin saja," jawab Ustadz Kamil. "Makanya saya justru takut ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu."  ***  Maka, ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger; terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin yang selama ini merasa dekat dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata, dia benar-benar kehilangan keistimewaannya.  "Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu," komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan. "Wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?"  "Ke mana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu," kata Lik Salamun. "Kalau saja kita tahu ke mana beliau pergi, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah."  "Tapi, bagaimanapun ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil. "Paling tidak, kini kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka, jangan kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau."  Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jum'at sehabis wiridan salat Isya, saat mana Gus Jakfar prei, tidak mengajar; rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa rasa segan, was-was dan takut.  Setelah ngobrol ke sana kemari, akhirnya Ustadz Kamil berterus terang mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan: "Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan."  "Perubahan apa?" tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti. "Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah."  "Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang," tukas Mas Guru Slamet, "kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca, bahkan diminta pun tak mau."  "O, itu," kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama. Baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan, "Ceritanya panjang." Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja.  "Kalian ingat, saya lama menghilang?" akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat kami yakin bahwa dia benar-benar siap untuk bercerita. Maka serempak kami mengangguk. "Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km kea rah selatan. Namanya Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing."  "Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada Wali Tawakkal itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata, ketika sampai di sana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak ke sana kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk."  'Cobalah nakmas ikuti jalan setapak di sana itu' katanya. 'Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil; terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah, kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?'  'Kiai Tawakkal.'  'Ya, Kiai Tawakkal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.'  "Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu."  "Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sosoknya sebagai orang tua. Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah."  Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan tgerganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar dan berbunyi 'Ahli Neraka'. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gambling. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurati sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya mencoba meyakin-yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila!"  "Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjialan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir,dsb.; mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semacamnya. Kalaupun beliau keluar, biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau- dan ini sangat jarang sekali- mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata, kata mereka."  "Baru setelah beberapa minggu tinggal di 'pesantren bambu', saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar. Saya pikir, inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya."  "Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat Kiai keluar dengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati saya membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, Kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan ke mana beliau gerangan? Apa ini yang disebut semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba Kiai menoleh ke belakang."  "Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan bengong saya mendekati warung terpencil dengan penerangan petromak itu. Dua orang wanita- yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua- dengan dandanan yang menor sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit ke sana kemari. Tidak mungkin Kiai mampir ke warung ini, pikir saya. Ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini.  'Mas Jakfar!' tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masyaallah, saya hampir-hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk dan pikiran tak karuan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai yang saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyum penuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh orang disampingnya untuk bergeser, 'Kasi kawan saya ini tempat sedikit!' Lalu, kepada orang-orang yang ada di warung, Kiai memperkenalkan saya. Katanya, 'Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman katanya'. Mereka yang duduknya dekat serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh melambaikan tangan".  "Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar Kiai menawari, 'Minum kopi ya?!' Saya mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu lagi, Yu!' kata Kiai kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. 'Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggan warung ini! Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk." "Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan 'kawan-kawan'-nya dan membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain bisa berada di sini. Akrab dengan orang-orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap dan pandangan saya terhadap beliau berubah."  'Mas, sudah larut malam,'tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan saya. 'Kita pulang, yuk!' Dan tanpa menunggu jawaban saya, Kiai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar. Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebon sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui. 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!' katanya."  "Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai di sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai. 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar. Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon randu alas, menunggu. 'Kita istirahat sebentar,' katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian. 'Kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.'  Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, Kiai berkata mengejutkan, 'Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kaucari? Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kaubaca di kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?' Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terus berbicara.  'Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda "Ahli Neraka" di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena, pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia memasukkan diriku ke sorga atau neraka. Untuk memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung yang tadi kau pandang sebelah mata itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan-Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?'  Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya. 'Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi; kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur; ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan: godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak'  Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui.  'Ayo kita pulang!' tiba-tiba Kiai bangkit. 'Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.' Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini."  "Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada. Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya. 'Apakah sampeyan Jakfar?' tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. 'Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.'  'Beliau di mana?' tanya saya buru-buru.  'Mana saya tahu?' jawabnya. 'Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan ke mana beliau pergi.'  Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil mengubah sikap saya itu tetap merupakan misteri."  Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi suntuk mendengarkan masih diam tercenung sampai Gus Jakfar kembali menawarkan suguhannya.  Rembang, Mei 2002  A. MUSTOFA BISRI adalah Wakil Rais Aam PBNU. Lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944. Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin. Dikenal sebagai penyair, pelukis, cerpenis dan kolumnis.  “Gus Jakfar” adalah cerpen terbaik harian Kompas tahun 2004.