Ayahmu Pulang
Aku baru saja membereskan barang-barangku. Besok pagi aku pulang kampung. Kepulanganku kali ini bukan karena lebaran dan juga bukan karena liburan kuliah.
Kumpulan artikel kategori Seni-budaya
Aku baru saja membereskan barang-barangku. Besok pagi aku pulang kampung. Kepulanganku kali ini bukan karena lebaran dan juga bukan karena liburan kuliah.
—untuk abahku Manan melirik jam. Pukul 09.55. Menurut temannya, tamu yang ia tunggu akan datang pukul 10.00-an. Ia menunggu di ruang tamu. Di sudut pojok, beberapa lusin pakaian buatannya tersusun di rak lemari. Ia pebisnis pakaian anak-anak.
Langit tampak suram. Kabut mendekapnya menjadi gelap seperti malam pekat. Tak ada keemasan di ujung langit barat. Daun perdu bergoyang-goyang dibuai angin. Beberapa lembar yang berwarna kuning jatuh, diikuti pula yang kering dan cokelat. Di langit, rombongan peking terbang mencari tempat berlindung dari amukan basah yang membuat bulunya kuyup jika hujan memuntahkan airnya ke bumi.
Matahari sebentar lagi akan terbenam di ufuk barat.Bias cahayanya akan sirna ditelan aura malam.Cahaya rembulan sudah tampak membayanginya,akan menggantikan matahari untuk membiaskan cahayanya di keheningan malam.Gemerlap bintang juga akan mengirinya, menghiasi gelapnya malam bersama mega.
Rumah itu begitu reyot. Gentengnya pada bocor. Dinding bilik bambu pada bolong. Hampir tidak layak dikatakan rumah. Kontras dengan rumah-rumah lain yang berada di sekelilingnya. Tapi, bagi penghuninya adalah rumah.
Kiai mastuhu sedang risau. Menantu satu-satunya, Basyar, adalah biang keladi kerisauan kiai sepuh itu. Dulu, saat mula-mula Basyar dan orang tuanya datang melamar Laila, Kiai Mastuhu seperti sudah melihat ngalamat.
Mentari pagi memancarkan teriknya ke belahan bumi. Menyuguhkan energi bagi seluruh penghuninya. Embun di deaunan pun sedikit demi sedikit menguap oleh cahaya matahari. Menyibakkan suasana dingin yang sedari malam menguasai desa Wonokerto, Batang.
Kesempatan keluar pondok tak selalu ada. Sekalinya ada kesempatan, Ova memanfaatkannya baik-baik. Bukan ke pasar atau ketemu sama pacar yang teramat sangat terlarang. Akan tetapi dia pergi ke mini market dekat pondok. Mencari apa? Semir rambut.
Pejalanan pulang melalui jalur darat selesai menunaikan haji. Pilihan kami ini bukan tanpa alasan, guru kami pernah berpesan; kalau pun harus terbang jangan sampai hal itu membuatmu merasa tinggi.
Oleh Slamet Sore itu langit tampak gelap. Dipenuhi dengan kepulan kabut hitam, menambah suasana semakin mencekam. Bahkan tak jarang kilatan guntur tampak seperti ingin membelah langit. Disusul suara petir menyahur-nyahut dengan kerasnya. Hampir-hampir memecahkan gendang telingaku. Ini pertanda hujan deras akan segera mengguyur bumi.
Oleh Hesti Wahyu Damayanti Angin laut menerpa mukaku lewat daun jendela yang terbuka. Aku bukan burung kakaktua memang, tapi setiap sore sering berdiam diri di depan jendela kamarku. Menatap hamparan sawah luas yang terbentang di bawah sana, gumpalan awan-awan bergelayutan di langit senja, semburat cahaya merah menuntun burung-burung belibis pulang ke sarangnya.
Oleh Naili Halimah Jam bandul di masjid pondok berdentang tiga kali. Gema suaranya merambat ke segala penjuru mata angin yang mampu dicapai dengan kakuatan dentangan itu sendiri. Gelombang ultrasonik itu menggelitik gendang telinga Kang Rahmat. Mata beratnya mencoba menangkap cahaya agar bisa melihat di sekitarnya, mengerjap-ngerjap, masih ngantuk.