Syariah

Shalat Sunnah Qabliyah dan Ba'diyah Zuhur

NU Online  ยท  Ahad, 16 Juni 2019 | 09:30 WIB

Bahwasannya shalat sunnah merupakan penunjang bagi shalat fardhu. Sebagai penunjang, pahala shalat sunnah bisa saja berfungsi sebagai tambahan pahala shalat fardhu, jika ternyata kuaalitas shalat fardhu terlalu rendah. Oleh karena itu shalat sunnah juga disebut dengan istilah shalat nawafil yang berarti tambahan.

ย 

Rendahnya kualitas shalat fardhu bisa saja terjadi karena sulitnya konsentrasi ketika melaksanakan shalat. Meskipun badan terkesan khusyuโ€™ tetapi jiwa dan hati bisa saja di tengah mall, di pasar atau juga di ruang kantor. Bahkan shalat fardhu terkesan hanya menggugurkan kewajiban saja. Sehingga makna ubudiyah (penghambaan) kita kepada Allah swt ketika shalat sangat minim sekali.

ย 

Di saat demikian, lantas apakah yang akan kita banggakan dari shalat fardhu kita? di sinilah posisi strategis shalat sunnah sebagai unsur penyempurna bagi shalat fardhu. Begitulah pentingnya posisi shalat sunnah dalam syariat Islam sehingga sangat dianjurkan sebagaimana predikatnya sebagai shalat mandub, marghub fih, mutahab, tathowwuโ€™, ihsan dan hasan.

ย 

Ada empat kategori shalat sunnah. Pertama shalat sunnah muaqqat (shalat sunnah yang ditentukan waktunya) seperti shalat dhuha, witir, syuruq, zawal, shalat ied dan rawatib (sesudah dan sebelum shalat fardhu). Kedua shalat sunnah karena telah terjadi sesuatu (dzu sababin mutaqaddimin) misalnya shalat tahiyyatul masjid, shalat sunnah wudhu, shalat sunnah hifdhil qurโ€™an, istisqaโ€™ dan lain sebagainya. Ketiga shalat sunnah karena menginginkan sesuatu (dzu sababin mutaakhhirin) seperti shalat istikharah, shalat taubah, sebelum ihram. Keempat, shalat sunnah mutlaq yaitu shalat yang tidak tergantung oleh sebab maupun waktu.

ย 

Sebagai permulaan akan diterangkan terlebih dahulu Shalat sunnah muaqqat yaitu shalat sunnah yang ditentukan waktunya. Diantaranya adalah shalat sunnah rawatib yaitu shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu. Termasuk di dalamnya shalat sunnah qabliyah dan baโ€™diyah. Dinamakan qabliyah karena shalat sunnah ini dilakukan sebelum shalat fardhu. Dan dikatakan baโ€™diyah arena shalat ini dilakukan setelah shalat fardhu. Baik qabliyah dan baโ€™diyah sebaiknya dilakukan sendiri-sendiri dan tidak dianjurkan berjamaah.

ย 

Adapun shalat sunnah yang mengiringi shalatย zuhur. Ada qabliyah dan baโ€™diyah. Shalat sunnah qabliyah zuhur empat rakaat dilakukan sebelum shalat zuhur dengan cara dua kali salam, yaitu sekali shalat dua rakaat. Hal ini berdasar pada tindakan Rasulullah saw yang selalu melaksanakan dan jarang sekali meninggalkannya itupun sebagai petunjuk bagi umatnya bahwa empat rakaat sebelum dan sesudah zuhur hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang dianjurkan sekali).

ย 

ู…ูŽู†ู’ ุญูŽุงููŽุธูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู ุฑูŽูƒูŽุนูŽุงุชู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุธูู‘ู‡ู’ุฑู ูˆูŽุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ูŽุง ุญูŽุฑูŽู‘ู…ูŽู‡ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู

ย 

Sebuah hadits "Barangsiapa melaksanakan empat rakaat sebelum Dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkan baginya api neraka." (H.R. Tirmidzi)

ย 

Adapun bacaan niatnya adalah:

ย 

ุงูุตูŽู„ูู‘ูŠู’ ุณูู†ูŽู‘ุฉูŽ ุงู„ุธูู‘ู‡ู’ุฑู ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ู‚ูŽุจู’ู„ููŠูŽู‘ุฉู‹ ู…ูุณู’ุชูŽู‚ู’ุจูู„ูŽ ุงู’ู„ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉู ุงูŽุฏูŽุงุกู‹ ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰

ย 

Ushalli sunnatad dhuhri rokโ€™ataini qabliyatan mustaqbilal qiblati adaโ€™an lillahi taโ€™ala

ย 

Artinya: Aku niat shalat qabliyah zuhur dua rakaat menghadap kiblat karena Allah.

ย 

Hadits di atas juga menunjukkan bahwa baโ€™diyah zuhur juga empat rakaat, yang dilakukan selepas shalat zuhur dengan dua kali salam. Adapun bacaan niatnya sebagai berikut:

ย 

ุงูุตูŽู„ูู‘ูŠู’ ุณูู†ูŽู‘ุฉูŽ ุงู„ุธูู‘ู‡ู’ุฑู ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุจูŽุนู’ุฏููŠูŽู‘ุฉู‹ ู…ูุณู’ุชูŽู‚ู’ุจูู„ูŽ ุงู’ู„ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉู ุงูŽุฏูŽุงุกู‹ ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰

ย 

Ushalli sunnatad dhuhri rokโ€™ataini baโ€™diyyatan mustaqbilal qiblati adaโ€™an lillahiย taโ€™ala


Artinya: Aku niat shalat qabliyah zuhur dua rakaโ€™at menghadap kiblat karena All.

ย 

Demikian pula ketika shalat Jumโ€™at, empat rakaat sebelum dan sesudahnya tetap menjadi sunnah muakkadah, sebagaimana shalat dhuh

ย 

Redaktur: Ulil Hadrawy

ย 

==========

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Selasa, 22 Januari 2013 pukul 13:03. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Terkait

Syariah Lainnya

Lihat Semua