Home Bahtsul Masail Shalawat/Wirid Ramadhan Jenazah Ubudiyah Ilmu Hadits Tasawuf/Akhlak Khutbah Sirah Nabawiyah Doa Tafsir Haji, Umrah & Qurban Hikmah Tafsir Mimpi Zakat Nikah/Keluarga Ilmu Tauhid Ekonomi Syariah Doa Lainnya

Hari Terberat bagi Rasulullah saat Ditolak Keras Penduduk Thaif

Hari Terberat bagi Rasulullah saat Ditolak Keras Penduduk Thaif
Penduduk Thaif menolak keras dakwah Nabi Muhammad saw. (Ilustrasi: NU Online)
Penduduk Thaif menolak keras dakwah Nabi Muhammad saw. (Ilustrasi: NU Online)

Pada suatu ketika, Siti ‘Aisyah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “Adakah hari yang lebih berat bagimu daripada hari di perang Uhud?”


Rasulullah saw lantas menceritakan bahwa hari terberat yang dialaminya—selain hari di perang Uhud—adalah hari ‘Aqabah. Tepatnya di musim haji ketika beliau menawarkan diri agar mendapat perlindungan dari kabilah-kabilah Tha’if, sekaligus agar misi dakwah yang diembannya tersampaikan kepada mereka.


Padahal sejauh 60 mil menempuh perjalanan dari Makkah ke Tha’if. Lima belas hari lamanya berdakwah di sana. Setiap warga Tha’if yang ditemui di pasar dan tempat lainnya disapa dan ditawari masuk Islam serta mengesakan Allah.


Puncaknya, pada malam ‘Aqabah, Rasulullah saw menawarkan diri kepada kabilah-kabilah di sana. Dikabarkan, saat itu ada tokoh mereka yang bernama Ibnu ‘Abdi Yalil ibn Kilab. Namun, di luar dugaan, Ibnu ‘Abdi Yalil justru menolak mentah-mentah tawaran dan permintan Rasulullah saw.


Mendengar penolakan keras dari tokoh Tha’if, Rasulullah saw begitu terpukul. Beliau sedih dan bingung yang amat sangat. Belum lagi pengusiran dan lemparan batu yang dilakukan penduduk Tha’if, hingga kakinya berdarah.


Akhirnya, beliau pergi meninggalkan Tha’if. Sepanjang perjalanan, beliau tak menyadari ke manakah dirinya pergi. Baru setelah sampai di Qarnuats-Tsa‘alib, beliau menyadarinya. 


Qarnuts-Tsa‘alib sendiri merupakan sebuah wilayah yang jaraknya kurang lebih dua marhalah (48 mil atau 89,5 km) dari kota Makkah. Sekarang, wilayah itu dikenal dengan nama Qarnul-Manazil. Dan dari sanalah para penduduk Najd berihram dan bertolak menunaikan ibadah haji dan umrah. (Lihat: Ali bin Ibrahim, as-Sirah al-Halabiyyah, juz I/153).


Namun, Allah segera menghibur Rasulullah saw atas penderitaan dan beban berat yang telah dialami fisik dan psikisnya. Pada hari itu, Allah mengutus malaikat Jibril.  


Tepat saat mengangkat kepalanya, Rasulullah saw melihat malaikat Jibril berada di atas awan. Dia pun memanggilnya dan berkata, “Sesungguhnya Allah mendengar apa yang kaummu katakan. Allah juga mengetahui bagaimana jawaban mereka. Sekarang, Dia telah mengutus malaikat penjaga gunung kepadamu untuk diperintah apa saja sesuai keinginanmu terhadap mereka.”


Kemudian, malaikat penjaga gunung pun datang dan mengucap salam, “Wahai Muhammad, sekarang engkau bergantung kepada keinginanmu. Jika engkau mau, akan aku timpakan kedua gunung itu terhadap mereka.” 


Hal itu sebagaimana yang dituturkan langsung oleh Rasulullah dalam haditsnya:


فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ، فَنَادَانِي، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ، وَمَا رُدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ ، قَالَ: " فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ اللهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ، وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ وَقَدْ بَعَثَنِي رَبُّكَ إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِي بِأَمْرِكَ، فَمَا شِئْتَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الْأَخْشَبَيْنِ ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا


Artinya: Begitu mengangkat kepala, tiba-tiba sebuah awan menaungiku. Aku pun memandanginya. Ternyata di sana sudah ada malaikat Jibril. Dia memanggilku lalu berkata, “Sesungguhnya Allah mendengar apa yang kaummu katakan kepadamu. Dia juga mendengar bagaimana jawaban mereka kepadamu. Sekarang, Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung kepadamu untuk diperintah sesuai keinginanmu terhadap mereka.” Tak lama, malaikat penjaga gunung pun memanggilku dan mengucapkan salam, lantas berkata, “Wahai Muhammad, sekarang tergantung keinginanmu. Jika engkau mau, aku akan menimpakan dua gunung itu kepada mereka,” (HR al-Bukhari dan Muslim).


Dari pernyataan malaikat penjaga gunung, kita mengetahui bahwa betapa besar kekuatan yang Allah berikan kepada malaikat itu, sampai-sampai mampu mengangkat kedua gunung besar yang ada di Makkah, lalu menimpakannya kepada para penduduk Makkah. Sehingga jika benar kedua gunung itu ditimpakan, mereka pasti sudah binasa dan tinggal bekasnya saja.


Namun, apa yang dilakukan oleh warga Tha’if tidak sampai mengeluarkan Rasulullah saw dari jati dirinya sebagai seorang rasul dan perangainya yang lemah lembut nan penyayang. Beliau tak mau balas dendam demi dirinya sendiri. Beliau tetap bersabar dan memperhitungkan balasan yang akan diterimanya.


Alih-alih ingin balas dendam, beliau malah berujar, “Justru aku berharap dari keturunan mereka, Allah mengeluarkan orang-orang yang menyembahkan Dia semata, tidak ada yang menyekutukan-Nya dengan apa pun.”  


Dan ternyata, harapannya terkabulkan. Allah Allah mengeluarkan orang-orang yang akan menyembah-Nya dari turunan mereka. Mereka berbondong-bondong masuk Islam. Dari turunan mereka yang telah bertindak kasar pada Rasulullah saw itu, Allah mengeluarkan orang-orang yang mengemban panji agama-Nya dan gigih berjihad di jalan-Nya.


Dari kisah di atas, kiranya dapat dipetik sejumlah pelajaran sebagai berikut:


1. Betapa beratnya penderitaan yang dialami Rasulullah saw saat berdakwa di tengah masyarakat Arab.


2. Betapa teguh hati dan gigihnya perjuangan Rasulullah saw dalam menyampaikan dakwah meski harus dihadapkan dengan tentangan dan penolakan.


3. Allah senantiasa melindungi dan menghibur Rasulullah saw di setiap saat, terutama di saat menghadapi ujian.


4. Salah satu hiburan yang diberikan Allah adalah mengutus malaikat penjaga gunung untuk memenuhi perintah dan keingingannya terhadap masyarakat Tha’if yang menentang dakwahnya.


5. Betapa besarnya kasih sayang Rasulullah saw terhadap kaumnya. Betapa tegarnya hati beliau dalam menghadapi penderitaan yang mereka timpakan terhadap dirinya.


6. Betapa besarnya kekuatan yang diberikan kepada malaikat penjaga gunung, sampai-sampai mampu membalikkan kedua gunung.


7. Rasulullah saw tidak menginginkan kebinasaan kaum yang menentang dakwahnya.


8. Betapa mulianya perangai Rasulullah saw yang layak kita teladani. Tidak ada sedikit pun rasa dendam terhadap kaum atau orang yang telah melukai hatinya.


9. Alih-alih balas dendam, beliau malah mendoakan mereka. Harapannya, semoga ada turunan mereka yang mau beriman dan mengesakan Allah. (Lihat: Umar Sulaiman, Shahih al-Qashash an-Nabawi, Terbitan: Darun-Nafais, tahun 1997, halaman 183).


Ustadz M Tatam Wijaya, Penyuluh dan Petugas KUA Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Sirah Nabawiyah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×