Hijrah Rasulullah SAW ke Madinah menjadi titik penting dalam pembangunan fondasi ekonomi umat. Beliau mendirikan pasar yang dikelola secara mandiri, membuka jalan bagi kemuliaan Islam pada fase dakwah berikutnya. Prinsip kesetaraan antara pemimpin dan rakyat pun benar-benar terjaga.
Tradisi kepemimpinan sederhana itu dilanjutkan oleh para khalifah sesudah beliau wafat: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Mereka mengurus urusan kaum Muslimin dengan penuh amanah dan keteladanan.
Dalam peristiwa Ar-Rumadah (masa paceklik), Khalifah Umar bin Khathab menulis surat kepada para amir di berbagai kota besar agar ikut meringankan penderitaan penduduk Madinah dan sekitarnya. Abu Ubaidah bin al-Jarrah menjadi yang pertama datang, membawa 4.000 unta penuh logistik dan kebutuhan pokok. Ia bahkan memimpin langsung distribusinya hingga selesai. Saat Umar bermaksud memberikan penghargaan berupa 4.000 dirham, Abu Ubaidah dengan rendah hati menolak seraya berkata:
فقال لا حاجة لي فيها يا أمير المؤمنين، وإنما أردت الله
Artinya: “Aku tidak membutuhkannya wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya aku melakukannya karena Allah semata.” (Husen Muknis, Tarikh Quraisy, [Jeddah, Dar Assu’udiyyah, 1988], hlm. 635).
Ath-Thabari pernah menuturkan, “Penduduk yang tinggal di Madinah dan sekitarnya pada masa khalifah Umar Khathab pernah mengalami masa paceklik. Angin bertiup cukup kencang bercampur pasir sehingga debu beterbangan. Karena itu, paceklik tahun itu disebut Ar-Rumadah (tahun debu). Saat paceklik ini menimpa penduduk, khalifah Umar bersumpah tidak akan mengkonsumsi minyak saman, minum susu maupun daging, sampai paceklik berakhir dengan turunnya hujan yang pertama. Umar konsisten dengan sumpahnya,” (Husen Muknis, Tarikh Quraisy, hlm. 635).
Dalam literatur sejarah lainnya tercatat, seusai Utsman bin Affan dilantik sebagai khalifah, khutbah pembuka beliau substansinya menegaskan pesan penting kepemimpinan, yaitu:
إنكم في دار قلعة وفي بقية أعمار فبادروا آجالكم بخير ما تقدرون عليه فلقد أتيتم صبحتم أو مسيتم ألا وإن الدنيا طويت على الغرور فلا تغرنكم الحياة الدنيا ولا يغرنكم بالله الغرور
Artinya: “Sesungguhnya kalian kini berada di negeri persinggahan, dalam sisa-sisa umur yang terbatas. Maka segeralah manfaatkan kesempatan itu dengan amal kebaikan yang mampu kalian lakukan. Sungguh, waktu pagi dan petang telah datang silih berganti. Ingatlah, dunia ini penuh dengan tipu daya. Karena itu, jangan sampai kehidupan dunia memperdaya kalian, dan jangan pula kalian terpedaya oleh godaan yang menjerumuskan dalam ketidaktaatan kepada Allah,” (Imam ath-Thabari, Tarikh al Thabari, [Mesir, Darul Ma’arif, t.t.], jilid IV, hlm. 243).
Kalimat tersebut sungguh menggetarkan hati, diucapkan oleh salah satu sahabat terbaik Rasulullah SAW, seorang yang kaya raya sekaligus dermawan. Saat memegang tampuk kepemimpinan, ia justru menekankan pentingnya kesederhanaan dalam penggunaan harta dan gaya hidup yang ideal.
Dalam sejarah, masa awal Daulah Bani Umayyah masih dipenuhi keberkahan karena dipimpin oleh para sahabat. Keberkahan itu bahkan berlanjut hingga era Umar bin Abdul Aziz. Namun, menjelang akhir kekuasaan, mulai tampak ketimpangan bahwa sebagian khalifah gemar bersedekah, tetapi tetap hidup hedonis di tengah kesulitan ekonomi rakyat. Pola serupa juga terjadi di Daulah Abbasiyah, khususnya pada akhir periode keempat dan kelima, ketika Baghdad melemah dan khalifah lebih sibuk bersenang-senang daripada mengurus rakyat.
Fenomena kemewahan dan pemborosan juga tercatat di Andalusia. Salah satu penyebab runtuhnya Daulah Al-Amiriyah dan Umawiyah di sana adalah penyerahan kekuasaan kepada pihak yang tidak layak. Misalnya, Al-Hakam bin Abdurrahman An-Nashir menyerahkan pemerintahan kepada putranya yang masih berusia 12 tahun. Keputusan ini sejatinya membuka jalan bagi keruntuhan Dinasti Umawiyah.
Abdurrahman An-Nashir sendiri dikenal sebagai sosok yang sangat lekat dengan kemewahan. Ia membelanjakan harta secara besar-besaran untuk kepentingan duniawi, seperti pembangunan Istana Az-Zahra; simbol kemegahan yang disebut sebagai salah satu keajaiban dunia pada masanya. Istana itu dihiasi emas, perak, dan ornamen mewah lainnya. Meski Abdurrahman tidak pernah lalai mengalokasikan anggaran negara, termasuk untuk pendidikan militer, gaya hidupnya dianggap berlebihan dan menumbuhkan keterikatan yang kuat pada dunia.
Kritik keras bahkan datang dari Qadi al-Mundzir bin Sa‘id, yang suatu ketika masuk menemui Abdurrahman di istananya dan mengingatkan sang sultan agar tidak larut dalam kemegahan yang menipu.
وكان عبد الرحمن الناصر قد بنى لنفسه قصرًا كبيرًا، فأسرف المنذر في الكلام، وأسرع في التقريع لعبد الرحمن الناصر لبنائه ذلك القصر
Artinya: “Abdurrahman al-Nashir pernah membangun sebuah istana megah untuk dirinya sendiri. Melihat hal itu, Qadhi al-Mundzir menegurnya dengan keras dan segera melontarkan kritik atas pembangunan istana tersebut,” (Ragib Sirjani, Qisshatul Andalus: Minal Fath ila as-Suqut, [Kairo, Muassasah Iqra, 2010], hlm. 196).
Kejayaan Turki Usmani mewariskan teladan luhur dalam kepemimpinan. Seorang sultan tidak hanya berkuasa, tetapi juga menjadi contoh bagi rakyatnya. Kepemimpinan harus selaras dengan kehidupan rakyat, sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an:
وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Artinya: “Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS Al-An'am: 129)
Di sisi lain Rasulullah juga bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim:
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
Artinya: "Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian." Kemudian seseorang mengatakan, "Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka dengan pedang?" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidak, selama mereka masih mendirikan salat di antara kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah perbuatannya dan janganlah kalian melepas ketaatan kepadanya," (HR Muslim).
Dalam sistem daulah Usmani, sultan memang memiliki kewenangan mengeluarkan dekrit. Namun, jika kebijakannya bertentangan dengan syariat, Syekh al-Islam sebagai pemegang kebijakan berhak membatalkannya. Bahkan, seorang sultan bisa dicopot bila enggan mendengar nasihat ulama. Ash-Shalabi menyebutkan:
إن إقامة العدل بين الناس كانت من واجبات السلاطين العثمانيين، وكان السلطان محمد، شأنه في ذلك شأن من سلف من آبائه شديد الحرص على إجراء العدالة في أجزاء دولته
Artinya: “Menegakkan keadilan di antara rakyat adalah salah satu tugas para sultan Usmani, dan Sultan Muhammad, seperti halnya para pendahulunya, sangat memperhatikan penegakan keadilan di seluruh wilayah kekuasaannya.” (Ash-Salabi, As-Sultan Muhammad Al Fatih, [Lebanon, Maktabah As Asriyyah, 2010], hlm. 149).
Sejarah panjang kepemimpinan Islam menunjukkan bahwa kejayaan umat selalu lahir dari keteladanan, kesederhanaan, dan keberpihakan pemimpin kepada rakyatnya. Rasulullah SAW, para khalifah setelah beliau, hingga sebagian sultan dalam dinasti-dinasti besar Islam telah menegakkan prinsip keadilan sosial yang menyatukan umat.
Namun, saat kepemimpinan berubah menjadi simbol kemewahan dan abai terhadap penderitaan rakyat, keruntuhan pun tidak terelakkan. Dari sini, jelas bahwa pemimpin ideal dalam Islam bukan sekadar pemegang kekuasaan, melainkan sosok teladan yang menjaga amanah, hidup sederhana, dan menjadikan keadilan sebagai pilar utama pemerintahan. Wallahu a'lam.
Ustadz Azmi Abubakar, Penyuluh Agama Islam Asal Aceh.
