Teladan Nabi Muhammad dalam Membangun Negara Bangsa
Nabi Muhammad menyadari hidup di tengah suku, bangsa, dan agama yang beragam. Hal ini menjadi perhatian penting beliau ketika hijrah ke Yatsrib (Madinah) sekitar tahun 622 M.
Kumpulan artikel kategori Sirah Nabawiyah
Nabi Muhammad menyadari hidup di tengah suku, bangsa, dan agama yang beragam. Hal ini menjadi perhatian penting beliau ketika hijrah ke Yatsrib (Madinah) sekitar tahun 622 M.
Nabi Muhammad langsung mengingatkan apabila ada sahabatnya yang perkataannya menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain. Dalam hal ini, Nabi Muhammad pernah menegur Sayyidina Abu Bakar karena ucapannya membuat anak Sa’id bin Ash marah.
Setelah keluar dari Ka’bah, Sayyidina Ali bin Abi Thalib meminta kepada Nabi Muhammad agar memberikan kunci Ka’bah kepadanya. Riwayat lain menyebutkan bahwa Abbas bin Abdul Muthalib lah yang meminta kunci Ka’bah ketika Nabi Muhammad menerima kunci dari Sayyidina Ali di sumur zam-zam. Lalu, bagaimana Nabi Muhammad merespons permintaan kerabat dekatnya itu?
Abdullah bin Ubay memusuhi Nabi Muhammad dengan cara-cara halus dan konspiratif. Ia kerap kali menghasut, memfitnah, dan mengadu domba antara satu sahabat dengan yang lainnya –bahkan dengan Nabi Muhammad sendiri. Lantas bagaimana Nabi Muhammad menghadapi gembong munafik itu?
Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa mendamaikan dua pihak yang berkonflik itu memiliki derajat yang lebih tinggi dari pada shalat, puasa, dan sedekah.
Ada beberapa hal dan fakta menarik yang terjadi -dan yang dilakukan Nabi- sepanjang pelaksanaan haji wada’. Diantaranya Nabi Muhammad menyembelih 63 ekor unta dengan tangannya sendiri setelah melontar jumrah. Jumlah 63 ekor sesuai dengan usia Nabi Muhammad saat itu, yakni 63 tahun.
Selama sembilan tahun tinggal di Madinah, Nabi Muhammad tidak pernah melaksanakan ibadah haji di Makkah. Beliau baru mengumumkan kepada para sahabatnya akan melaksanakan ibadah haji pada tahun ke-10 Hijriyah. Lalu, apa yang membuat Nabi Muhammad baru melaksanakan ibadah haji pada tahun ke-10 Hijriyah? Mengapa beliau tidak menunaikan rukun Islam kelima itu pada tahun-tahun sebelumnya?
Lantas apa yang membuat Nabi Muhammad sampai menangis? Apakah penyebabnya sama seperti manusia umumnya? Atau ada hal-hal tertentu? Setidaknya ada beberapa hal yang membuat Nabi Muhammad sampai menangis –bahkan hingga tersedu-sedu.
“Sesungguhnya jika ia (Nabi Muhammad) menang, ia tidak merendahkan dan jika ia kalah, ia tidak gelisah. Ia penuhi semua perjanjian dan ia lakukan semua yang dijanjikan, dan aku mengakui bahwa ia adalah seorang nabi,” kata Raja Oman yang sezaman dengan Nabi Muhammad, al-Julandi.
Suatu ketika Negus memberikan perhiasan kepada Nabi Muhammad, termasuk sebuah cincin emas. Setelah menerima hadiah itu, Nabi Muhammad kemudian memberikannya kepada cucunya, Umamah. “Hiasilah dirimu dengan ini, gadis kecil,” kata Nabi Muhammad kepada Umamah.
Pada hari-hari terakhirnya Nabi Muhammad hendak pergi ke masjid untuk mengimami Shalat Isya. Namun karena kondisinya yang tidak memungkinkan, beliau akhirnya pingsan. Setelah bangun, beliau berupaya untuk berangkat ke masjid lagi. Namun Lagi-lagi pingsan. Hal ini berlangsung hingga tiga kali. Akhirnya beliau meminta Sayyidina Abu Bakar untuk menjadi imam shalat.
“Tidakkah kamu tahu Rasulullah sedang memerlukan baju itu, dan beliau tidak mau menolak permintaan orang yang meminta kepadanya!” kata para sahabat lainnya kepada sahabat yang meminta baju tersebut usai Nabi Muhammad pergi.