Cara Wahyu Diturunkan dan Kondisi Nabi Muhammad saat Menerimanya
“Kadangkala ia (wahyu) datang dalam bentuk bunyi lonceng –ini yang paling berat bagiku- kemudian ia diangkat dariku setelah aku menyadari apa yang difirmankan,” kata Nabi Muhammad.
Kumpulan artikel kategori Sirah Nabawiyah
“Kadangkala ia (wahyu) datang dalam bentuk bunyi lonceng –ini yang paling berat bagiku- kemudian ia diangkat dariku setelah aku menyadari apa yang difirmankan,” kata Nabi Muhammad.
Dalam perjalanan hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad dan Sayyidina Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur untuk menghindari kejaran kaum musyrik Makkah. Ada sekelompok pasukan kaum musyrik Makkah yang sampai di mulut Gua Tsur. Kejadian ini tentu membuat Nabi Muhammad dan Sayyidina Abu Bakar ketar-ketir. Namun Allah kemudian memalingkan penglihatan pasukan tersebut sehingga tidak masuk ke dalam gua.
“Dari Musailamah Rasulullah untuk Muhammad Rasulullah. Salam sejahtera, aku telah ditetapkan untuk menjalankan tugas dan kekuasaan bersama kamu. Aku berkuasa atas separuh negeri dan separuh untuk Quraisy, tetapi Quraisy adalah umat yang kasar dan kejam.” Demikian surat yang ditulis Musailamah untuk Nabi Muhammad saw.
Meski demikian –terlepas dari perbedaan tersebut, sikap Sayyidina Ali bin Abi Thalib terhadap pembaiatan Sayyidina Utsman biasa-biasa saja. Sayyidina Ali dan para sahabat yang lainnya juga ikut serta membaiat Sayyidina Utsman. Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidina Utsman juga masih berhubungan baik dan saling mencintai sebagai seorang sahabat setelah peristiwa tersebut.
Salah seorang sahabat Nabi berteriak: al-yaum yaumal malhamah (hari ini adalah hari pertumpahan darah). Atas pernyataan dari sahabat Nabi tersebut, penduduk Makkah kembali diselimuti ketakutan.
Upaya mencegah dan memulihkan konflik atau rekonsiliasi dilakukan Nabi semata untuk kepentingan kaum Muslimin secara luas dan jangka panjang meskipun dipandang merugikan menurut sebagian sahabat.
Bukan malah bergembira, Nabi Muhammad justru teramat sedih dan menderita sehingga membuat Izrail bertanya-tanya. Nabi Muhammad berkata, “Lalu, bagaimana dengan umatku?”
Karena itu pula, sementara pakar menyatakan bahwa kematian ayah beliau sebelum kelahiran, kepergiannya ke pedesaan menjauhi ibunya, serta ketidakmampuannya membaca dan menulis merupakan strategi yang dipersiapkan Tuhan kepada beliau untuk dijadikan utusan-Nya kepada seluruh umat manusia kelak.
Lalu, bagaimana Rasulullah saw. menyambut dan merayakan hari raya yang jatuh pada satu Syawal iitu? Apa saja yang dilakukan Rasulullah saw. di hari kemenangan umat Islam itu?
Tidak berselang lama, Nabi Muhammad keluar kamar dan menanyakan hal yang sama kepada Ashil al-Ghifari, yaitu ‘Bagaimana keadaan Makkah sekarang?’ Beliau sangat ingin tahu bagaimana kondisi Makkah terkini. Kali ini, Ashil al-Ghifari menjawab dengan jawaban yang lebih panjang dan detail dari sebelumnya.
Dalam khotbah haji Wada’, Rasulullah SAW telah jelas-jelas menjamin segenap nyawa, harta, dan kehormatan setiap manusia, apapun agama maupun sukunya.
Ada ‘pelajaran’ tersendiri di balik Nabi Muhammad melewatkan Shalat Ashar saat Perang Khandaq tersebut. Menurut Said Ramadhan al-Buthi dalam bukunya The Great Episodes of Muhammad saw (2017), tindakan Nabi Muhammad itu menjadi dalil wajibnya meng-qadha (mengganti) shalat yang tertinggal atau terlewatkan.