Syariah

Fasal tentang Bid'ah (1)

NU Online  ยท  Jumat, 23 Februari 2007 | 11:00 WIB

Dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaโ€™ah karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asyโ€™ari, istilah "bidโ€™ah" ini disandingkan dengan istilah "sunnah". Seperti dikutip Hadratusy Syeikh, menurut Syaikh Zaruq dalam kitab โ€˜Uddatul Murid, kata bidโ€™ah secara syaraโ€™ adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW,โ€ Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolakโ€. Nabi juga bersabda,โ€Setiap perkara baru adalah bidโ€™ahโ€.

Menurut para ulamaโ€™, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bidah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syariโ€™ah atau salah satu cabangnya (furuโ€™).

<>Bidโ€™ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah S.W.T.:

ุจูŽุฏููŠู’ุนู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูˆุชู ูˆูŽุงู’ู„ุงูŽุฑู’ุถู
โ€œAllah yang menciptakan langit dan bumiโ€. (Al-Baqarah 2: 117).

Adapun bidโ€™ah dalam hukum Islam ialah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulamaโ€™ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulamaโ€™ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. pasti jeleknya? Jawaban yang benar, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bidโ€™ah itu baik dan kapan bidโ€™ah itu jelek? Menurut Imam Syafiโ€™i, sebagai berikut;

ุงูŽู„ู’ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ูุจุฏู’ุนูŽุชูŽุงู†ู : ู…ูŽุญู’ู…ููˆู’ุฏูŽุฉูŒ ูˆูŽู…ูŽุฐู’ู…ููˆู’ู…ูŽุฉูŒ, ููŽู…ูŽุงูˆูŽุงููŽู‚ูŽ ุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉูŽ ู…ูŽุญู’ู…ููˆู’ุฏูŽุฉูŒ ูˆูŽู…ูŽุงุฎูŽุงู„ูŽููŽู‡ูŽุง ููŽู‡ููˆูŽ ู…ูŽุฐู’ู…ููˆู’ู…ูŽุฉูŒ
โ€œBidโ€™ah ada dua, bidโ€™ah terpuji dan bidโ€™ah tercela, bidโ€™ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bidโ€™ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercelaโ€.

Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjamaโ€™ah dengan dua puluh rakaโ€™at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Kaโ€™ab beliau berkata :

ู†ูุนู’ู…ูŽุชู ุงู’ู„ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ู‡ุฐูู‡ู
โ€œSebagus bidโ€™ah itu ialah iniโ€.

Bolehkah kita mengadakan Bidโ€™ah? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yang menjelaskan adanya Bidโ€™ah hasanah dan bidโ€™ah sayyiah.

ู…ูŽู†ู’ ุณูŽู†ู‘ูŽ ููู‰ ุงู’ู„ุงูุณู’ู„ุงูŽู…ู ุณูู†ู‘ูŽุฉู‹ ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู‹ ููŽู„ูŽู‡ู ุฃูŽุฌู’ุฑูู‡ูŽุง ูˆูŽุฃูŽุฌู’ุฑู ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู…ูู„ูŽ ุจูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุงูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ู‚ูุตูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูุฌููˆู’ุฑูู‡ูู…ู’ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุณูŽู†ู‘ูŽ ููู‰ ุงู’ู„ุงูุณู’ู„ุงูŽู…ู ุณูู†ู‘ูŽุฉู‹ ุณูŽูŠูุฆูŽุฉู‹ ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูุฒู’ุฑูู‡ูŽุงูˆูŽูˆูุฒู’ุฑู ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู…ูู„ูŽ ุจูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑูุงูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ู‚ูุตูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽูˆู’ุฒูŽุงุฑูู‡ูู…ู’ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง. ุงู„ู‚ุงุฆู‰, ุฌ: 5ุต: 76.
โ€œBarang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit punโ€.

Apakah yang dimaksud dengan segala bidโ€™ah itu sesat dan segala kesesatan itu masuk neraka?
ูƒูู„ู‘ู ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉู ูˆูŽูƒูู„ู‘ู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉู ููู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู
โ€œSemua bidโ€™ah itu sesat dan semua kesesatan itu di nerakaโ€.

Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk.

Mari kita kembali kepada hadits.
ูƒูู„ู‘ู ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉู ูˆูŽูƒูู„ู‘ู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉู ููู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู
โ€œSemua bidโ€™ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk nerakaโ€.

Bidโ€™ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan, ุญุฏู ุงู„ุตูุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ูˆุตูˆู โ€œmembuang sifat dari benda yang bersifatโ€. Seandainya kita tulis sifat bidโ€™ah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama :
ูƒูู„ู‘ู ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉูŒ ูˆูŽูƒูู„ู‘ู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉู ููู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู
โ€œSemua bidโ€™ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk nerakaโ€.

Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :
ูƒูู„ู‘ู ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุณูŽูŠูุฆูŽุฉู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉู ูˆูŽูƒูู„ู‘ู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉู ููู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงูุฑ

โ€œSemua bidโ€™ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk nerakaโ€.

--(KH. A.N. Nuril Huda, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dalam "Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) Menjawab", diterbitkan oleh PP LDNU)