NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tafsir

Adab Santri kepada Guru dalam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 34: Makna Penghormatan dan Keberkahan Ilmu di Pesantren

NU Online·
Adab Santri kepada Guru dalam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 34: Makna Penghormatan dan Keberkahan Ilmu di Pesantren
Adab santri kepada guru (NUO)
Bagikan:

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki peran penting dalam membentuk generasi penerus bangsa yang berilmu dan berakhlak. Di dalamnya, santri tidak hanya mempelajari ilmu agama seperti fiqih dan tafsir, tetapi juga belajar membangun kepribadian yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Salah satu hal yang menjadi ciri khas pesantren adalah penanaman adab santri terhadap kyai atau murid terhadap guru. Santri dididik untuk menghormati guru dengan tulus, menaati nasihatnya, serta sopan santun di setiap perilakunya. Sikap ini bukan sekadar tradisi, tetapi bentuk penghormatan terhadap ilmu.

Namun, di tengah perkembangan zaman, penghormatan kepada guru terkadang disalahpahami. Sebagian orang menganggap bahwa bentuk penghormatan santri terhadap guru di pesantren terlalu berlebihan dan tidak sesuai dengan zaman. Padahal, makna sesungguhnya dari penghormatan tersebut bukanlah pengagungan terhadap manusia, melainkan menghormati orang yang memiliki ilmu.

Menghormati serta memuliakan  guru merupakan kewajiban setiap murid. Siapa saja yang pernah belajar kepada orang lain tentang ilmu pengetahuan, maka wajib baginya memuliakan guru tersebut. Imam Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim menjelaskan:

اِعْلَمْ بِأَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لاَ يَنَالُ الْعِلْمَ وَلاَ يَنْتَفِعُ بِهِ اِلَّا بِتَعْظِيْمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ وَتَعْظِيْمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيْرِهِ. قِيْلَ مَا وَصَلَ مَنْ وَصَلَ اِلَّا بِالْحُرْمَةِ، وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ اِلاَّ بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ 

Artinya, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya seorang pelajar tidak akan bisa mendapatkan ilmu dan manfaat ilmu kecuali dengan menghormati ilmu dan orang yang berilmu, memuliakan guru dan menghormatinya. Dikatakan, tidak sukses orang yang telah sukses kecuali dengan hormat, dan tidak gagal orang yang gagal kecuali disebabkan tidak hormat.” (Ta’limul Muta’allim, [Daru Ibn Katsir: 2014], halaman 55).

Dalam dunia pesantren, ilmu tidak akan bermanfaat jika tidak disertai dengan adab, sebab adab adalah pintu bagi datangnya keberkahan ilmu. Hadratussyekh KH Hasyim Asyari dalam menukil maqalah Imam Abdullah bin Mubarak:

نَحْنُ إِلَى قَلِيلٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْعِلْمِ

Artinya, “Kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak. “
(Adabul ‘Alim wal Muta’alim, [Maktabah at-Turats al-Islami], halaman 9).

Ungkapan ini menjadi dasar pendidikan pesantren. Sejak dini, santri tidak hanya diajarkan membaca kitab, tetapi juga membaca hati. Mereka menimba ilmu dengan menundukkan ego, menghormati guru, menjaga lisannya, dan menata niat sebelum melangkah.

Allah berfirman:

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤئِكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْا اِلَّا اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

Artinya, “(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.” (QS Al-Baqarah: 34).

Ayat tersebut mengisahkan bahwa Allah memerintahkan para malaikat (termasuk iblis) untuk sujud kepada Nabi Adam as karena ilmu yang Allah berikan yang dijelaskan di ayat sebelumnya. Sujud yang dimaksud di sini adalah membungkukkan diri sebagai bentuk penghormatan, tidak sampai meletakkan dahi di tanah, bukan juga sujud menyembah.

وَ) اذْكُرْ (إِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اُسْجُدُوا لِآدَم) سُجُود تَحِيَّةٍ بِالْاِنْحِنَاء لَهُ

Artinya, “(Dan) ingatlah! (Ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kalian kepada Adam!") Yakni, sujud badan sebagai bentuk penghormatan dengan membungkukkan”. (Jalaluddin Al-Mahali dan Jalaluddi As-Suyuti, Tafsir Jalalain, [Darul Kutub Ilmiah: 2021], halaman 6).

Syekh Najmuddin Al-Ghazi mengutip perkataan Imam Abu Bakar Muhammad bin Al-Hasan An-Naqash (wafat 351 H), pakar tafsir kelahiran Baghdad, Irak, menyatakan bahwa malaikat yang pertama kali sujud kepada Nabi Adam as setelah adanya perintah adalah malaikat Israfil. Karena itu, Allah memberikan ilmu Lauhul Mahfuzh kepadanya.

وَذَكَرَ النَقَّاش فِي تَفْسِيْرِ هَذِهِ الآيَةِ: أَنَّ الملَائِكَة لَمَّا أُمِرُوا بِالسُّجُوْدِ كَانَ أَوَّلُهُمْ سُجُودًا إِسْرَافِيْلُ عليه السلام فَلِذَلِكَ مَنَحَهُ اللهُ تعالى عِلْمَ اللَّوْحِ المحْفُوْظِ

Artinya, “Imam An-NaqAsh menyebutkan dalam tafsir ayat 34 surat Al-Baqarah ini: "Ketika para malaikat diperintahkan untuk sujud, yang pertama kali sujud adalah Israfil as, oleh karena itu Allah memberikan kepadanya ilmu Lauhul mahfuzh." (Husnut Tanabbuh, [Darun Nawadir: 2011], juz I, halaman 384).

Al-Ghazi melanjutkan, ayat ini menunjukkan bahwa murid atau santri yang paling cepat dan tulus dalam melayani gurunya (khidmah) akan lebih tinggi derajatnya dan lebih sukses mewarisi ilmu gurunya.

قُلْتُ: وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ مَنْ كَانَ مِنَ التَّلَامِذَةِ أَوِ المُرِيدِينَ أَسْرَعُ إِلَى خِدْمَةِ الأُسْتَاذِ وَالشَّيْخِ وَأَطْيَبُ نَفْسًا بِهَا، كَانَ أَرْقَى فِي وَرَاثَةِ عِلْمِ الأُسْتَاذِ وَأَقْرَبُ؛ فَإِنَّ عِلْمَ اللَّوْحِ المحْفُوظِ المحِيْطَ بِمَجْرِيَاتِ الكَوْنِ الَّتِي سَبَقَ بِهَا القَضَاءُ وَالقَدَرُ، إِنَّمَا جُوزِيَ بِهِ إِسْرَافِيْلُ عَلَى مُبَادَرَتِهِ إِلَى السُّجُوْدِ لِآدَمَ الَّذِي أَقَامَهُ اللهُ تعالى فِي مَقَامِ الأُسْتَاذِيَّةِ وَالتَّرْبِيَّةِ لِلْمَلَائِكَةِ لِكَوْنِهِ أَشْبَهَ بِعِلْمِ آدَمَ بِالأَسْمَاءِ كُّلِهَا

Artinya, “Saya katakan: 'Hal ini menunjukkan bahwa siapa pun di antara para murid atau pengikut yang lebih cepat dalam melayani guru dan syekhnya dengan penuh ketulusan dan kebersihan hati, maka dia akan lebih tinggi dalam mewarisi ilmu guru tersebut dan lebih dekat dengannya. 
Ilmu Lauhul Mahfuzh, yang mencakup segala kejadian dalam alam semesta yang telah ditentukan oleh takdir, diberikan kepada Israfil as karena kesigapannya dalam bersujud kepada Nabi Adam as yang ditempatkan oleh Allah sebagai guru dan pendidik bagi para malaikat, karena Nabi Adam as lebih mengetahui tentang semua nama-nama.” 
(Al-Ghazi, I/384).

Dengan demikian, tradisi penghormatan guru di pesantren merupakan wujud penghormatan terhadap ilmu. Nilai ini tidak lekang oleh zaman seiring upaya menanamkan kerendahan hati demi memperoleh keberkahan ilmu, sebagaimana dicontohkan malaikat Israfil terhadap Nabi Adam as yang terdapat di dalam Al-Quran. Wallahu a’lam.

Ustadz Muhammad Qolbun Salim, Mahasantri di Ma’had Aly Al-Iman Bulus Gebang Purworejo.

Artikel Terkait