NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Belajar Empati: Ketika Satu Jiwa Terluka, Kita Semua Merasakannya

NU Online·
Belajar Empati: Ketika Satu Jiwa Terluka, Kita Semua Merasakannya
Ilustrasi empati. Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Selama sepekan terakhir, publik dikejutkan oleh tragedi runtuhnya bangunan salah satu pondok pesantren terbesar di Sidoarjo yang menewaskan banyak santri. Saat salat Ashar berjamaah berlangsung, konstruksi empat lantai yang rapuh tak mampu menahan beban hingga akhirnya ambruk dan menimbun ratusan santri di dalamnya.

Beberapa korban berhasil diselamatkan, namun sebagian besar tak tertolong. Duka mendalam menyelimuti, tetapi di tengah suasana berduka, sebagian masyarakat justru saling menuding tanpa dasar, menyebarkan prasangka tanpa verifikasi. Padahal, Islam mengajarkan empati dan kepedulian, bukan tuduhan dan caci maki.

Nabi Muhammad SAW menggambarkan hubungan antarorang beriman seperti satu tubuh, ketika satu bagian terluka, seluruh tubuh turut merasakan sakit. Begitulah seharusnya sikap kita; ikut merasakan duka dan mendoakan mereka yang tertimpa musibah.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Artinya, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang, saling mencintai, dan saling berempati di antara mereka bagaikan satu tubuh: bila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan panas dan demam.” (HR. Imam Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan makna hadits di atas bahwa setiap Muslim memiliki hak yang agung terhadap sesamanya. Hadits ini bukan hanya menyeru untuk saling menyayangi, tetapi juga menekankan pentingnya kelembutan, kasih sayang, dan tolong-menolong dalam urusan yang tidak mengandung dosa maupun keburukan. Empati dan solidaritas adalah inti dari hubungan antarumat Islam.

Pada bagian sabda Nabi تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ, Imam An-Nawawi menegaskan bahwa seorang mukmin seharusnya merasakan penderitaan orang lain dan turut berpartisipasi dalam mengurangi beban tersebut. Inilah simbol nyata dari rasa empati dan persaudaraan sejati. Beliau menafsirkan:

تَدَاعَى لَهَا سَائِرُ الْجَسَدِ أَيْ دَعَا بَعْضُهُ بَعْضًا إِلَى الْمُشَارَكَةِ فِي ذَلِكَ

Artinya: “Maka seluruh tubuh pun turut meresponsnya, maksudnya ialah sebagian anggota tubuh mengajak bagian lainnya untuk turut merasakan dan berpartisipasi dalam penderitaan tersebut.” (An-Nawawi, Syarh Muslim, [Beirut: Darul Ihya’, 1976], juz XVI, hlm. 139).

Tragedi memang bagian dari ujian kehidupan yang tidak selalu bisa kita hindari, namun bukan berarti kita pasrah tanpa ikhtiar. Setiap peristiwa, baik atau buruk, terjadi dengan izin Allah, tetapi manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk berusaha dan belajar darinya. Dalam setiap musibah, ada ruang untuk memperbaiki sistem, meningkatkan kewaspadaan, dan menumbuhkan solidaritas sosial yang lebih kuat.

Sikap terbaik bagi seorang mukmin bukanlah mencari kambing hitam atau menebar kecurigaan, tetapi menyalurkan energi untuk membantu dan menguatkan. Empati, doa, dan aksi nyata jauh lebih berarti daripada tuduhan dan perdebatan.

Sesama umat Islam, bahkan sesama manusia, kita terikat oleh satu asal dan satu tanggung jawab moral. Seperti dijelaskan oleh para ulama Al-Azhar, seluruh manusia diciptakan dari satu jiwa, yakni jiwa Nabi Adam. Kesadaran ini menumbuhkan pandangan bahwa setiap penderitaan adalah panggilan untuk hadir, menolong, dan menjadi bagian dari solusi.

Inilah wujud iman kepada takdir yang sejati: bukan menyerah pada keadaan, melainkan bergerak dengan keyakinan bahwa setiap kebaikan adalah bagian dari rencana Allah yang lebih besar.

فَهُوَ وَحْدَهُ الَّذِي أَوْجَدَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ، هِيَ نَفْسُ أَبِيكُمْ آدَمَ، وَذَلِكَ مِنْ أَظْهَرِ الْأَدِلَّةِ عَلَى كَمَالِ قُدْرَتِهِ سُبْحَانَهُ، وَمِنْ أَقْوَى الدَّوَاعِي إِلَى اتِّقَاءِ مُوجِبَاتِ نِقْمَتِهِ، وَمِنْ أَشَدِّ الْمُقْتَضَيَاتِ الَّتِي تَحْمِلُكُمْ عَلَى التَّعَاطُفِ وَالتَّرَاحُمِ وَالتَّعَاوُنِ فِيمَا بَيْنَكُمْ، إِذْ أَنْتُمْ جَمِيعًا قَدْ أَوْجَدَكُمُ سُبْحَانَهُ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ

Terjemahan, “Dialah semata-mata yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, yaitu jiwa bapak kalian, Ādam dan hal itu merupakan bukti yang paling jelas atas kesempurnaan kekuasaan-Nya, Maha Suci Dia. (Hal ini juga) merupakan salah satu pendorong terkuat agar kalian menjauhi segala sebab yang dapat mendatangkan kemurkaan-Nya, dan termasuk sebab paling mendalam yang mendorong kalian untuk saling berempati, berkasih sayang, dan bekerja sama satu sama lain, karena kalian semua telah diciptakan oleh-Nya dari satu jiwa yang sama”. (Muhammad Sayyid Thanthawi, Tafsir Al-Wasith, [Kairo, Darul Ma’arif: 1997], Juz III,  halaman 20).

Dengan demikian, ketika terjadi sebuah tragedi, sesama umat Islam, bahkan sesama manusia, hendaknya ikut merasakan duka yang sama, bukan justru sibuk mencari pihak yang bisa disalahkan. Al-Qur’an mencatat sifat Firaun yang setiap kali menghadapi musibah, selalu menuduh dan mengkambinghitamkan Nabi Musa beserta pengikutnya sebagai sumber kesialan. Sikap seperti inilah yang seharusnya dijauhi oleh orang beriman.

Sebaliknya, setiap musibah semestinya menjadi bahan refleksi dan evaluasi bersama. Apa pun latar belakang terjadinya tragedi, langkah pembenahan strategis perlu segera dilakukan agar peristiwa serupa tidak terulang. Persoalan-persoalan teknis, seperti konstruksi bangunan, keamanan, maupun kesehatan, harus ditangani oleh para profesional yang berkompeten di bidangnya.

Akhirnya, melihat tragedi-tragedi yang terjadi belakangan ini, sikap paling tepat adalah menumbuhkan empati terhadap mereka yang terdampak, bukan menuding atau memperkeruh suasana. Nabi SAW telah menggambarkan umat Islam sebagai satu tubuh, ketika satu bagian merasakan sakit, seluruh tubuh ikut merasakan.

Maka, dalam setiap musibah, dahulukan empati, rangkul mereka yang terluka, dan jadikan tragedi sebagai pelajaran berharga untuk memperkuat mitigasi, meningkatkan kehati-hatian, serta mempererat persaudaraan. Wallahu a'lam.

Ustadz Shofi Mustajibullah, Mahasiswa Pascasarjana UNISMA dan Pengajar Pesantren Ainul Yaqin. 

Tags:empati

Artikel Terkait