NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Rekonstruksi Makna Raja’ Optimisme Proaktif untuk Menghadapi Tantangan Zaman Modern

NU Online·
Rekonstruksi Makna Raja’ Optimisme Proaktif untuk Menghadapi Tantangan Zaman Modern
Optimisme menghadapi tantangan zaman (freepik).
Bagikan:

Dalam khazanah spiritual Islam, terdapat konsep agung yang menjadi pilar keimanan dan motivasi hidup: raja' (رجاء), yang secara harfiah berarti pengharapan. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang penuh ketidakpastian, tekanan sosial, dan krisis global, makna raja' membutuhkan rekonstruksi agar tidak terjebak dalam pasivitas, melainkan menjelma menjadi energi positif yang proaktif.

Rekonstruksi makna raja' dalam konteks modern dapat dilakukan dengan mentransformasikannya dari sekadar konsep teologis menjadi optimisme berbasis tindakan; sebuah panduan etis dan psikologis untuk mencapai kesuksesan duniawi dan ukhrawi.

Apa itu Raja’?

Secara etimologi, raja’ adalah raja’ berarti al-amal (cita-cita atau pengharapan). Sedangkan menurut terminologi, raja’ adalah keterikatan hati pada hasil yang dicintai di masa depan. Dengan kata lain, berharap pada sesuatu yang baik yang akan terjadi di masa mendatang. Simak penjelasan berikut:

الرجاء: في اللغة: الأمل، وفي الاصطلاح: تعلق القلب بمحصول محبوب في المستقبل

Artinya: “Raja’ secara etimologi adalah cita-cita atau pengharapan. Sedangkan secara terminologi, raja’ adalah keterikatan hati pada hasil yang dicintai di masa depan.” (Ali bin Muhammad Al-Jurjani, At-Ta’rifat, [Beirut, Darul Kutub al-‘Ilmiyah: 1403 H], halaman 109).

Meskipun kelihatannya hampir sama, namun ada beberapa perbedaan antara raja’ (harapan) dengan tamanni (berangan-angan). Imam Al-Qusyairi menjelaskan:

والفرق بَيْنَ الرجاء وبين التمني أَن التمني يورث صاحبه الكسل ولا يسلك طريق الجهد والجد وبعكسه صاحب الرجاء فالرجاء محمود والتمني معلول

Artinya: “Perbedaan antara raja’ (harapan) dengan tamannī (angan-angan) adalah jika tamannī menjadikan kemalasan pada pelakunya, dan ia tidak akan menempuh jalan yang penuh upaya dan kesungguhan dalam menggapai apa yang ada diangannya tersebut. Sedangkan raja’ justru sebaliknya bagi pelakunya. Oleh karena itu, raja’ adalah sikap terpuji (mahmūd), sedangkan tamannī adalah sikap tercela (ma'lūl).” (Risalah Al-Qusyairiyah, [Surabaya, Al-Haramain: tt], halaman 132).

Sikap raja’ mendorong kita pada tindakan dan kerja keras, sementara angan-angan (tamanni) hanya menghasilkan kemalasan dengan tanpa adanya tindakan akan sesuatu yang ada dalam angan.

Cara Praktis Belajar Raja’

Raja’ pada dasarnya melatih diri untuk terus berharap dan optimis dengan adanya tindakan terhadap apa yang ia harapkan tersebut, serta mengusir perasaan putus asa. Dengan kata lain, raja’ merupakan sebuah sikap yang menekankan keseimbangan antara optimisme dan kerja keras dalam menggapai sesuatu yang menjadi harapan seseorang, seraya mengusir sikap putus asa.

Syekh Musthafa Al-Ghalaini, pujangga dan ulama modernis asal Mesir, memberikan tips praktis agar kita bisa bersikap raja’:

وهو مرض من أمراض النفس يجب أن يداوي بإماتة اليأس

Artinya: “Kelemahan dari sikap raja’ adalah salah satu penyakit jiwa yang harus segera diobati dengan cara mengusir perasaan putus asa.” (‘Izhatun Nasyi’in, [Surabaya, Penerbit Al-Miftah: tt], halaman 18-19).

Jadi, untuk benar-benar memiliki dan memelihara sikap raja’ yang kokoh dalam diri, langkah paling krusial dan praktis yang harus kita lakukan adalah melakukan pembersihan batin secara total. Ini berarti kita harus membuang jauh-jauh dan menghancurkan semua bentuk perasaan negatif, terutama pesimis dan putus asa, yang selama ini menjadi penghalang terbesar dalam kemajuan kita.

Ketika benteng mental yang berisi keraguan dan keputusasaan tersebut berhasil kita runtuhkan sepenuhnya, maka akan terjadi perubahan psikologis yang alamiah. Ruang batin kita yang tadinya sesak oleh hal negatif akan terisi kembali secara otomatis oleh semangat positif dan optimisme. Dengan demikian, raja’ tidak hanya muncul sebagai harapan sesaat, melainkan menjadi energi pendorong yang stabil dan kuat, yang sangat diperlukan untuk melangkah maju, berkembang, dan mewujudkan cita-cita.

Imam Al-Ghazali memaparkan cara agar seseorang mempunyai sikap raja’:

وحال الرجاء يغلب بشيئين أحدهما الاعتبار والآخر استقراء الآيات والأخبار والآثار

Artinya: “Keadaan raja’ (harapan) menjadi dominan (kuat) dengan cara melakukan dua hal, yakni al-i'tibar (mengambil pelajaran/renungan), dan istiqra'ul ayat wal akhbar, wal atsar (menggali dan meneliti ayat-ayat Al-Qur'an, hadits, dan atsar).” (Ihya’ ‘Ulumuddin, [Beirut, Darul Ma’rifah: tt], jilid IV, halaman 146).

Dari perkataan Imam Al-Ghazali kita dapat mengetahui, cara agar sikap berharap (raja’) di dalam hati menjadi sangat kuat dan dominan, kita harus melakukan dua upaya yang mendalam dan berkelanjutan.

Pertama, melatih diri untuk mengambil pelajaran atau perenungan (al-i'tibār) dari segala peristiwa dan pengalaman hidup, baik yang menyenangkan maupun yang sulit. Perenungan ini membantu kita menyadari betapa besarnya rahmat dan pertolongan Allah di masa lalu, sehingga harapan kita di masa depan kian kokoh.

Kedua, aktif menggali dan meneliti sumber-sumber utama ajaran Islam (istiqra'ul ayat wal akhbar, wal atsar), yaitu dengan mendalami ayat-ayat Al-Qur'an, hadits Nabi, dan warisan ulama (atsar). Dengan sering merenungkan janji-janji kebaikan dan kemudahan yang tertera dalam sumber-sumber tersebut, keyakinan kita akan terangkat, sehingga sikap optimis dan berharap (raja') tidak lagi hanya menjadi perasaan, melainkan fondasi kuat yang dibangun atas dasar ilmu dan keyakinan agama.

Benefit Sikap Raja’

Sikap raja’ mempunyai dampak besar pada rasa optimisme seseorang. Ketika seseorang mempunyai sikap raja’, ia tidak akan mudah pesimis. Sikap ini krusial, sebab perasaan pesimis seringkali menjadi penghambat terbesar bagi kemajuan seseorang. Syekh Musthafa menjelaskan:

هذه الفئة الناهضة تعلم حق العلم ان رجاء الاعمال داعية الاقدام عليها، وسبب تحقيق حصولها، فلا يقعدهم عنها ضعف الامل ولا ضآلة نوره

Artinya: “Golongan orang yang bekerja dengan semangat tersebut benar-benar mengerti bahwa harapan (raja’) terhadap keberhasilan pekerjaan (optimisme) merupakan pendorong utama untuk maju dan merupakan sebab tercapainya keberhasilan. Mereka tidak pernah dapat dibuat menganggur oleh kelemahan angan-angan dan keredupan cahaya cita-cita.” (Al-Ghalaini, 20).

Sikap berharap (raja’) memberikan dua benefit utama, yakni kemajuan pola pikir dan terwujudnya segala harapan yang telah kita cita-citakan. Manfaat pertama ini, yakni terwujudnya kemajuan signifikan dalam pola pikir seseorang, mendorong kita untuk melihat peluang, bukan hanya hambatan, sehingga kita berpikir lebih positif dan solutif. Manfaat kedua, yang merupakan konsekuensi logis, mendorong tercapainya segala harapan dan cita-cita yang kita dambakan.

Kedua manfaat ini menjadi sangat penting karena didukung oleh realitas pahit di sekitar kita: akar terbesar dari kemunduran, kegagalan, dan stagnasi seseorang bukanlah kurangnya kemampuan, melainkan dominasi sikap pesimis dan putus asa yang menguasai batin. Karena itu, raja’ berfungsi sebagai kekuatan batin yang secara efektif mengeliminasi energi negatif tersebut, menggantikannya dengan optimisme yang menjadi bahan bakar utama menuju kesuksesan.

Walhasil, raja’ (sikap berharap) bukan perasaan pasif, melainkan sebuah kekuatan spiritual yang aktif dan terstruktur. Ia berfungsi sebagai motor pendorong yang menghasilkan pola pikir maju (progresif) dan tingkat optimisme yang sangat tinggi dalam diri seseorang. Sikap batin yang positif ini kemudian tidak hanya berhenti pada angan-angan, melainkan harus diwujudkan melalui serangkaian usaha dan tindakan nyata yang dilakukan dengan integritas dan penuh tanggung jawab.

Seluruh proses yang melibatkan pembaruan pikiran, optimisme, dan aksi nyata yang berintegritas ini bertujuan tunggal: sebagai upaya komprehensif untuk menggapai dan merealisasikan segala harapan dan cita-cita besar yang telah kita gantungkan, baik itu target kesuksesan dan kemaslahatan di dunia saat ini, maupun ganjaran serta kebahagiaan abadi di akhirat kelak. Wallahu a’lam.

Ustadz Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman, Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.

Artikel Terkait

Rekonstruksi Makna Raja’ Optimisme Proaktif untuk Menghadapi Tantangan Zaman Modern | NU Online