Soal Mendidik Anak di Era Digital: Pentingnya Pengawasan Orang Tua Menurut Imam Ghazali
NU Online ยท Selasa, 23 Desember 2025 | 05:00 WIB
Muhamad Hanif Rahman
Kolumnis
Kita hidup di masa teknologi berkembang begitu cepat, dan dapat diakses oleh siapa saja, tak terkecuali anak-anak di bawah umur. Di dalam genggaman tangan mungil mereka, kini terbuka pintu menuju dunia luas yang tak terkontrol. Dunia yang memamerkan gaya hidup glamor, kata-kata kasar, candu hiburan, serta relasi sosial tanpa batas. Dunia yang seharusnya hanya diakses oleh orang dewasa, kini dinikmati juga oleh anak-anak di bawah umur yang bahkan belum memahami hakikat hidup yang sesungguhnya.
Hari ini banyak anak kecil yang lebih akrab dengan layar ponsel daripada buku, teman, tetangga, bahkan keluarga mereka sendiri. Mereka lebih sering tertawa pada video pendek daripada merespons suara orang dekat, dan lebih percaya pada komentar warganet daripada nasihat orang tua. Perlahan namun pasti, tanpa disadari, masa kanak-kanak mereka dicuri menyisakan kekosongan tanpa arti di kemudian hari.
Para peneliti modern menyebutkan bahwa media sosial dapat membahayakan kesehatan mental anak di bawah umur. Menurut ahli dari Johns Hopkins Medicine, anak yang terlalu sering menggunakan media sosial berisiko mengalami stres, kecemasan, rasa kurang percaya diri, dan gangguan fokus.ย
Selain itu, laporan dari American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa anak mudah terpapar konten yang tidak sesuai usia, seperti bahasa kasar, kekerasan, hingga pornografi, yang dapat memengaruhi perkembangan moral dan emosional mereka.
Di sisi sosial, para peneliti juga menemukan bahwa media sosial membuat anak rentan terhadap cyberbullying, kecanduan layar, serta berkurangnya interaksi dengan lingkungan sekitar.
Dampak buruk tersebut bukanlah hal kecil yang dapat diabaikan, sebab sangat memengaruhi tumbuh kembang anak di masa depan. Karena itu, peran aktif orang tua dalam mengawasi anak sangat dibutuhkan.
Prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam yang mewajibkan orang tua menjaga dan membimbing anak sejak awal pertumbuhannya, karena anak adalah amanah yang harus dijaga. Anak akan tumbuh sesuai dengan apa yang ditanamkan padanya, dan akan condong kepada arah yang dibentuk untuknya.
Jika anak dibiasakan dan diajarkan kebaikan, maka ia akan tumbuh dalam kebaikan dan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Orang tua serta semua yang terlibat dalam pendidikannya pun akan ikut mendapatkan pahala. Sebaliknya, membiarkan anak tanpa pendidikan dan bimbingan akan membawa kerusakan dan penyesalan.ย
Keterangan di atas dijelaskan oleh Hujjatul Islam al-Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad ย al-Ghazali (W. 505 H) dalam kitab Ihyaโ Ulumiddin:
ุงุนูููู
ู ุฃูููู ุงูุทููุฑูููู ููู ุฑูููุงุถูุฉู ุงูุตููุจูููุงูู ู
ููู ุฃูููู
ูู ุงููุฃูู
ููุฑู ููุฃูููููุฏูููุง ูุงูุตุจูุงู ุฃูู
ูุงููุฉู ุนูููุฏู ููุงููุฏููููู ููููููุจููู ุงูุทููุงููุฑู ุฌูููููุฑูุฉู ูููููุณูุฉู ุณูุงุฐูุฌูุฉู ุฎูุงููููุฉู ุนููู ููููู ููููุดู ููุตููุฑูุฉู ูููููู ููุงุจููู ููููููู ู
ูุง ููููุดู ููู
ูุงุฆููู ุฅูููู ููููู ู
ูุง ููู
ูุงูู ุจููู ุฅููููููู ููุฅููู ุนููููุฏู ุงููุฎูููุฑู ููุนููููู
ููู ููุดูุฃู ุนููููููู ููุณูุนูุฏู ููู ุงูุฏููููููุง ููุงููุขุฎูุฑูุฉู ูุดุงุฑูู ูู ุซูุงุจู ุฃุจูู ููููููู ู
ูุนููููู
ู ูููู ููู
ูุคูุฏููุจู ููุฅููู ุนููููุฏู ุงูุดููุฑูู ููุฃูููู
ููู ุฅูููู
ูุงูู ุงููุจูููุงุฆูู
ู ุดููููู ูููููููู ููููุงูู ุงููููุฒูุฑู ูู ุฑูุจุฉ ุงูููู
ุนููู ูุงููุงูู ูู ููุฏ ูุงู ุงููู ุนุฒ ูุฌู ๏ดฟููุง ุฃููููููุง ุงูููุฐูููู ุขู
ููููุง ูููุง ุฃูููููุณูููู
ู ููุฃููููููููู
ู ูุงุฑูุง๏ดพ ููู
ูููู
ูุง ููุงูู ุงููุฃูุจู ููุตูููููู ุนููู ููุงุฑู ุงูุฏููููููุง ููุจูุฃููู ููุตูููููู ุนููู ููุงุฑู ุงููุขุฎูุฑูุฉู ุฃูููููู ููุตูููุงููุชููู ุจูุฃููู ููุคูุฏููุจููู ููููููุฐููุจููู ููููุนููููู
ููู ู
ูุญูุงุณููู ุงููุฃูุฎูููุงูู ููููุญูููุธููู ู
ู ุงููุฑูุงุก ุงูุณูููุกู ููููุง ููุนููููุฏููู ุงูุชููููุนููู
ู ููููุง ููุญูุจููุจู ุฅููููููู ุงูุฒููุฉ ูุงูุฑูุงููุฉ ููููุถููุนู ุนูู
ูุฑููู ููู ุทูููุจูููุง ุฅูุฐูุง ููุจูุฑู ูููููููููู ููููุงูู ุงููุฃูุจูุฏูย
Artinya: "Ketahuilah bahwa cara mendidik dan melatih anak-anak adalah perkara yang paling penting dan paling wajib diperhatikan. Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Hati mereka yang masih bersih bagaikan permata yang sangat berharga, polos, dan belum memiliki ukiran atau bentuk apa pun. Mereka bisa menerima apa saja yang diukirkan ke dalamnya dan condong kepada apa pun yang diarahkan kepadanya. Jika anak dibiasakan dengan kebaikan dan diajari kebaikan, maka ia akan tumbuh dalam kebaikan itu dan akan bahagia di dunia dan akhirat. Orang tuanya, serta setiap guru dan pendidiknya, turut memperoleh bagian pahala dari kebaikan tersebut.
Namun jika anak dibiasakan dengan keburukan dan dibiarkan begitu saja sebagaimana hewan ternak, maka ia akan celaka dan binasa, dan dosa itu berada di pundak orang yang bertanggung jawab memeliharanya dan mengurusnya. Allah Taโala berfirman: 'Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.' (QS. At-Tahrฤซm: 6)ย
Maka apabila seorang ayah menjaga anaknya dari panasnya api dunia, menjaga anaknya dari api akhirat tentu lebih utama. Bentuk penjagaan itu adalah dengan mendidiknya, memperbaikinya, mengajarkannya akhlak yang baik, dan menjauhkannya dari teman-teman yang buruk. Ia juga tidak boleh dibiasakan hidup mewah dan tidak ditanamkan kecintaan pada perhiasan dan kenyamanan, karena hal itu akan membuatnya menghabiskan usia dewasa hanya untuk mengejar kenikmatan tersebut hingga akhirnya binasa selamanya." (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihyaโ Ulumiddin [Beirut, Darul Ma'arif: t t] ย juz III halaman 72).ย
Walhasil, media sosial membawa banyak dampak negatif bagi anak di bawah umur, baik terhadap akhlak, kesehatan mental, maupun perkembangan sosial mereka. Oleh karena itu, pengawasan dan pendampingan orang tua bukan hanya sekedar kebutuhan saja, tetapi juga kewajiban moral dan keagamaan. Anak adalah amanah yang harus dijaga sejak dini; apa yang ditanamkan dalam diri mereka hari ini akan membentuk kehidupan mereka di masa depan.
Dengan membiasakan anak pada kebaikan, menjauhkan mereka dari konten buruk, serta mengarahkan pada lingkungan yang baik, selain melakukan kewajiban orang untuk menjaga amanah kita juga telah ikut menjaga generasi penerus dari kerusakan zaman. Maka menjaga anak hari ini sama artinya menyelamatkan mereka dari pengaruh negatif masa kini, dan pada akhirnya akan mengantarkan kita kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallahu a'lam.
Ustadz Muhamad Hanif Rahman, Dosen Ma'had Aly Al-Iman Bulus dan Pengurus LBM NU Purworejo.
Terpopuler
1
Gus Yahya Sampaikan Pesan KH Nurul Huda Djazuli agar Muktamar Ke-35 NU Digelar di Pesantren Lirboyo
2
Meski Sudah Gabung BoP, Pasukan Perdamaian TNI Tewas Ditembak Israel di Lebanon
3
Halal Bihalal: Tradisi Otentik Nusantara Sejak Era Wali Songo
4
Gus Dur, Iran, dan Anti-Impersialisme
5
Penyelenggaraan Haji 2026 Sesuai Jadwal, Jamaah Mulai Berangkat 22 April
6
Konsep Iman Menurut Khawarij dan Implikasinya terhadap Eksklusivisme Teologis
Terkini
Lihat Semua