Ujub, membanggaan diri sendiri secara negatif, tak hanya terjadi di ruang munajat, masjid, atau tempat sunyi lainnya, hanya menyerang hati manusia tertentu, hanya menyerang pada waktu khusus. Tidak begitu. Ujub atau berbangga diri bisa terjadi di manapun, kepada siapa pun, dan kapan pun, termasuk di ruang media sosial.
Jika kita jeli meniliknya, gejala ujub terkadang ada di status motivasi, story edukasi, atau tidak jarang terdapat di kolom komentar netizen yang sedang mendapatkan nikmat dari ilahi. Semua gejala bisa saja terjadi dan bahkan terdapat pada diri kita sendiri tanpa kita sadari. Sebab itu, penting sekali mengetahui dan meneliti lebih jauh gejala-gejala ujub yang mungkin tanpa disadari kita lakukan di ruang media sosial setiap hari.
Kenapa penting sekali? Sebab, ujub termasuk penyakit hati yang tidak hanya berefek dosa, tapi juga bisa merusak diri seseorang. Hal ini disampaikan langsung oleh Nabi Muhammad saw:
ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
Artinya: “Tiga perkara yang membinasakan, yakni 1) rasa pelit yang ditaati; 2) hawa nafsu yang diikuti; dan 3) seseorang yang ujub terhadap diri sendiri.” (HR At-Thabarani).
Sebelum lebih jauh mengulik gejala-gejala ini, sebaiknya kita kenali dan pahami dulu definisi ujub yang terdapat dalam literatur kitab tasawuf. Tulisan ini tidak dalam rangka atau dijadikan bahan untuk menilai orang lain, tapi murni supaya menjadi renungan bagi diri kita masing-masing, supaya menjadi perisai tatkala penyakit ujub menghampiri, dan bisa mengobatinya.
Ujub dalam KBBI dan Literatur Tasawuf
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ujub ada dua makna, pertama keangkuhan atau kesombongan dan kedua rasa bangga. Sementara itu, ujub dalam literatur tasawuf bermakna pengagungan manusia pada dirinya sendiri dan menganggap apa yang ia lakukan merupakan sebuah kebaikan.
والعجب: عبارة عن نظر الإنسان إلى نفسه بعين التعظيم، وإلى ما يصدر منها بعين الاستحسان، وعنه نشأ الإدلال بالعمل والتعاظم على الناس والرضى عن النفس
Artinya: "Ujub adalah sebuah ungkapan dari pandangan insan pada dirinya sendiri dengan pandangan pengagungan dan terhadap apa yang ia lakukan dengan pandangan kebaikan. Ujub itu sendiri akan melahirkan sifat idlal (mengharapkan timbal balik dengan apa yang sudah ia lakukan), melahirkan sifat congkak terhadap manusia, dan melahirkan kecenderungan penerimaan pada diri." (Sayyid Abdullah al-Haddad, Risalatul Mudzakarah Ma'al Ikhwan al-Muhibbin, [Tarim, Maqam Imam Al-Haddad: 2012], halaman 40).
Kata Ibnu Juraij yang dikutip oleh Imam Al-Ghazali, ketika ada seseorang beramal baik, janganlah berkata, “saya beramal baik”. Sementara Zaid bin Aslam mengatakan bahwa ujub adalah ketika seseorang meyakini baik dirinya sendiri.
وقد قال تعالى {فلا تزكوا أنفسكم} قال ابن جريج معناه إذا عملت خيراً فلا تقل عملت وقال زيد بن أسلم لا تبروها أي لا تعتقدوا أنها بارة وهو معنى العجب
Artinya: “Sungguh Allah Ta'ala berfirman, 'Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci’ (QS. An-Najm ayat 32). Ibnu Jarij berkata: ‘ketika kamu beramal baik, jangan berkata, saya beramal baik’. Zaid bin Aslam berkata, ‘janganlah kalian semua meyakini baik diri kalian’. Inilah makna ujub." (Ihya' Ulumuddin, [Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyah: 2013], jilid III, halaman 491).
Imam Al-Ghazali juga mengartikan ujub sebagai pengagungan nikmat disertai lupa untuk menyandarkan nikmat tersebut kepada Sang Pemberi nikmat.
العجب هو استعظام النعمة والركون إليها مع نسيان إضافتها إلى المنعم
Artinya: "Ujub adalah pengagungan dan kepercayaan atas sebuah nikmat yang disertai lupa menyandarkannya kepada Pemberi nikmat.” (Al-Ghazali, III/493).
Kalam Ulama tentang Bahaya Ujub
Dalam pandangan para ulama Sufi, ujub dikategorikan penyakit kronis yang terdapat di dalam hati. Penyakit kronis ini, sangat berbahaya baik dilihat dari sisi kehidupan spiritual atau kehidupan sosial bermasyarakat.
Sebab penyakit ujub, seseorang akan cenderung congkak atau sombong. Ketika kesombongan diri diumbar di tengah masyarakat, hal-hal negatif akan lahir. Inilah alasan kenapa ujub termasuk penyakit yang sangat berbahaya di kehidupan masyarakat. Imam Al-Ghazali menyatakan:
اعْلَمْ أَنَّ آفَاتِ الْعُجْبِ كَثِيرَةٌ فَإِنَّ الْعُجْبَ يَدْعُو إِلَى الْكِبْرِ لِأَنَّهُ أحد أسبابه كما ذكرناه فَيَتَوَلَّدُ مِنَ الْعُجْبِ الْكِبْرُ وَمِنَ الْكِبْرِ الْآفَاتُ الْكَثِيرَةُ الَّتِي لَا تَخْفَى هَذَا مَعَ الْعِبَادِ
Artinya: "Ketahuilah bahwa dampak negatif ujub sangat banyak. Sungguh ujub akan melahirkan kesombongan karena ia merupakan salah satu penyebabnya, sebagaimana yang telah saya (Imam Ghazali) sebutkan. Dengan demikian, dari ujub akan lahir kesombongan, dan dari kesombongan akan lahir dampak negatif yang sangat banyak. Dan hal ini tidak samar (bagi kita). (Semua dampak negatif) ini dilihat dari sisi sosial bersama masyarakat.” (III/492).
Dampak negatif dari sisi kehidupan spiritual, ketika seseorang terjangkit penyakit ujub, ia akan lupa pada dosa-dosa yang diperbuat. Kesibukan ia pada keagungan diri sendiri membuatnya lupa dosa. Logika sederhana begini, saat dia beraktivitas maka yang akan selalu diingat adalah nilai baik yang ia lakukan.
Dengan sebab itu, aktivitas-aktivitas yang bernilai dosa terlupakan. Walaupun ingat, misalnya, ia akan cenderung meremehkan dan tetap kembali melihat sisi keagungan diri yang ia telah lakukan. Begitulah logika yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali ketika menjelaskan dampak negatif ujub pada kehidupan spiritual seseorang.
Gejala Ujub di Ruang Media Media
Jika menilik dengan jeli ruang media sosial, kita akan menjumpai status, story, atau komentar yang berunsur ujub. Mari perhatikan kalimat-kalimat berikut:
- “Kalau udah biasa mikir pakai data, bakal susah debat sama yang pakai perasaan.”
- “Susah ya jadi orang baik di tengah dunia yang penuh orang munafik.”
- “Nggak perlu brand mahal, yang penting aura mahal tetap keluar.”
- “Inilah bedanya kami, walaupun mayoritas tetap punya prinsip dan niat tulus, bukan kayak mereka, padahal minoritas tapi sangat berisik.”
Mari kita bedah satu-satu, unsur apa saja sehingga membuat 4 kalimat ini mengandung gejala ujub.
Pertama, “Kalau udah biasa mikir pakai data, bakal susah debat sama yang pakai perasaan”. Secara implisit kalimat ini ingin menunjukkan diri sebagai orang yang paling rasional, cerdas, atau lebih berilmu daripada orang lain. Gejala seperti ini, kata Imam Al-Ghazali, disebut ujub bil-'aqli (membaggakan kecerdasan diri sendiri). Beliau berkata:
الثَّالِثُ الْعُجْبُ بِالْعَقْلِ وَالْكِيَاسَةِ وَالتَّفَطُّنِ لِدَقَائِقِ الْأُمُورِ مِنْ مَصَالِحِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَثَمَرَتُهُ الِاسْتِبْدَادُ بِالرَّأْيِ وَتَرْكُ الْمَشُورَةِ وَاسْتِجْهَالُ النَّاسِ الْمُخَالِفِينَ لَهُ وَلِرَأْيِهِ وَيَخْرُجُ إِلَى قِلَّةِ الْإِصْغَاءِ إِلَى أَهْلِ الْعِلْمِ إعراضاً عنهم بالاستغناء بالرأي والعقل واستحقاراً لهم وإهانة
Artinya: "Ujub bagian ketiga yaitu bangga dengan akal, kecerdasan, keparan diri dengan permasalahan rumit, baik yang berkaitan kemaslahatan agama atau dunia. Dampak negatifnya, antara lain, adalah sewenang-wenang dengan pandangan, enggan bermusyawarah, menganggap bodoh orang yang tidak sependapat, bahkan mempersedikitkan dalam menyimak ahli ilmu, karena beranggapan sudah cerdas, tidak butuh mereka (ahli ilmu) dan bahkan cenderung menghina serta meremehkannya." (III/498).
Cara mengobati penyakit ujub jenis ini, masih versi Imam Al-Ghazali, dengan mensyukuri kecerdasan yang diberikan Allah swt. Selain itu, berpikir bahwa sakit yang bisa saja menimpa di bagian otak, atau mungkin menjadi gila, bisa saja membuat kecerdasan tersebut hilang seketika. Ssebab itu, kecerdasan seseorang bisa saja dicabut oleh Allah jika ia ujub dengan akalnya.
Kedua, “Susah ya jadi orang baik di tengah dunia yang penuh orang munafik”. Kalimat ini secara jelas mengandung pengakuan bahwa dirinya termasuk orang yang lebih baik dan lebih bermoral daripada orang lain. Secara kesimpulan, gejala ini dengan jelas menunjukkan kebanggaan pada kehebatan dirinya. Imam Al-Ghazali berkata:
الْأَوَّلُ أَنْ يُعْجَبَ بِبَدَنِهِ فِي جماله وهيئته وصحته وقوته وتناسب أشكاله وحسن صورته وحسن صوته
Artinya: "Bagian ujub pertama yaitu seseorang bagga dengan keindahan, tingkah laku, kesehatan, kekuatan, kepatutan bentuk, rupa badannya, atau kebagusan suaranya.” (III/497).
Obat ujub jenis ini, secara garis besar sama dengan ujub sebelumnya. Namun, di samping itu, bisa juga dengan cara mengingat bahwa kelebihan yang telah disebutkan tidak lain nikmat yang diberikan Allah swt dan sangat berpotensi hilang jika tidak disyukuri, apalagi masih dibanggakan.
Ketiga, “Nggak perlu brand mahal, yang penting aura mahal tetap keluar.” Secara tersurat kalimat ini nampak bijak. Akan tetapi, sejatinya dalam kalimat ini tersirat gejala ujub, yaitu kebanggaan memiliki barang yang ia miliki. Imam Al-Ghazali juga menjelaskan ujub jenis ini.
السابع العجب بالمال كما قال تعالى إخباراً عن صاحب الجنتين إِذْ قَالَ {أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نفراً}
Artinya: "Ujub bagian ketujuh yaitu bangga dengan harta. Sebagaimana firman Allah Ta'ala dengan memberi kabar tentang pemilik dua kebun ketika mereka berkata, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat (QS Al-Kahf Ayat 34).” (III/501).
Obat paling mujarab untuk mengatasinya adalah dengan merenung dan berpikir bahwa barang atau harta yang kita memiliki dampak negatif dan memiliki hak yang perlu dikeluarkan. Dengan merenung begitu, rasa bangga jenis ini akan pudar dikit demi sedikit.
Keempat, “Inilah bedanya kami, walaupun mayoritas tetap punya prinsip dan niat tulus, bukan kayak mereka, padahal minoritas tapi sangat berisik.” Kalimat ini biasanya muncul dari kelompok tertentu karena, mungkin, sedang diusik oleh kelompok lain yang secara jumlah lebih sedikit daripada kelompoknya. Masuk juga dalam kategori ini adalah bangga dengan banyaknya follower di media sosial.
Sadar atau tidak, kalimat ini tidak hanya berunsur diskriminatif terhadap kelompok minoritas, tapi juga terdapat gejala ujub antar-kelompok. Mari perhatikan penjelasan Imam Al-Ghazali berikut:
السَّادِسُ الْعُجْبُ بِكَثْرَةِ الْعَدَدِ مِنَ الْأَوْلَادِ وَالْخَدَمِ والغلمان والعشيرة والأقارب والأنصار والأتباع كَمَا قَالَ الْكُفَّارُ {نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا} وَكَمَا قَالَ الْمُؤْمِنُونَ يَوْمَ حُنَيْنٍ لَا نُغْلَبُ الْيَوْمَ مِنْ قِلَّةٍ
Artinya: "Ujub bagian ketujuh yaitu bangga dengan banyaknya kelompok, baik anak, pelayanan, teman gaul, kerabat, penolong, atau pun pengikut, sepeti perkataan orang-orang kafir, 'Kami memiliki lebih banyak harta dan anak (daripadamu)' atau seperti perkataan orang-orang mukmin pada hari (perang) Hunain, “Hari ini kami tidak akan kalah sama mereka yang sedikit'." (III/501).
Bagaimana cara mengobati ujub jenis ini? Simpel. Kita hanya perlu mengingat bahwa semua kekuatan atau kelemahan yang kita miliki tidak ada apa-apanya ketika Sang Pemberi kekuatan tidak memfungsikannya. Artinya, sejatinya semua manusia itu lemah, kekuatan manusia itu hanya titipan.
Secara umum, obat dari semua jenis penyakit ujub adalah kesadaran diri atas kebaikan yang kita lakukan dan atas semua barang atau sifat yang kita miliki. Artinya misalnya kita biasa membuat status motivasi di media sosial, lalu muncul perasaan, “Wah kalimat-kalimatku ini akan menembus hati para netizen”. Perasaan seperti ini sekilas baik-baik saja, tetapi ketika kita pikir kalimat tersebut tersirat rasa ujub, yaitu membanggakan kalimat motivasinya tanpa ada embel-embel penyandaran kepada Sang Penggerak hati manusia. Coba kita sadari, yang bisa menggerakan hati manusia itu siapa?
Tentu jawabannya adalah Allah swt. Lalu, apa yang kita banggakan? Tidak ada. Jadi, sejatinya tidak ada kebaikan yang harus kita banggakan, tapi justru harus kita syukuri karena telah diberi kekuatan dan kemampuan membuat kalimat motivasi sehingga menjadi lantaran hati manusia tergerak menuju ke hal yang lebih baik.
Prinsip kesadaran diri ini, juga berlaku untuk barang, sifat, atau semua hal yang melekat pada diri kita. Bahwa tidak ada barang bagus atau sifat mulia yang harus kita banggakan karena semuanya hanyalah titipan-Nya, tapi harus kita syukuri. Inilah yang dimaksud kesadaran diri merupakan obat dari segala sejenis ujub.
Walhasil, karena ruang media sosial sudah menjadi ruang kedua kehidupan kita, maka menjadi penting untuk memahami gejala-gejala ujub di era digital ini, karena dampak negatif dari penyakit ujub ternyata tidak main-main, berdampak pada kehidupan spiritual dan kehidupan sosial bermasyarakat.
Dengan mengetahui dan memahami gejala ujub, diharapkan kita bisa mencegah untuk tidak melakukannya atau bisa mengobatinya tatkala hati terlanjur terjangkit penyakit ini. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.
Ustadz Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil, Sekarang Aktif Menjadi Perumus LBM PP Nurul Cholil dan Editor Website PCNU Bangkalan.
