Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Ilmu Tauhid
NU Online ยท Ahad, 1 Juli 2007 | 04:48 WIB
Di dalam mempelajari Ilmu Tauhid atau aqidah, madzhab Ahlussunnah wal Jamaโah (Aswaja) menggunakan dalil nadli dan aqli. Dalil naqli ialah dalil dari Al-Qurโan dan Sunnah Rasulullah SAW dan dalil Aqli ialah dalil yang berdasarkan akan pikiran yang sehat.
Sebagaimana dikemukakan bahwa madzhab Muโtazilah mengutamakan dalil akal dari pada dalil Al-Qurโan dan As-Sunnah. Mereka berani menafsirkan Al-Qurโan menurut akal mereka, sehingga ayat-ayat Al-Qurโan disesuaikan dengan akal mereka. Apabila ada hadits yang bertentangan dengan akal, mereka ditinggalkan itu dan mereka berpegang kepada akal pikirannya. Ini merupakan suatu these (aksi) yang akhirnya menimbulkan antithesa (reaksi) yang disebut golongan Ahlul Atsar(ุฃูู ุงูุฃุซุงุฑ)ย ย ย
<>Cara berpikir Ahlul Atsar adalah kebalikan cara berpikir golongan Muโtazilah. Ahlul Atsar hanya berpegangan kepada Al-Qurโan dan As-Sunnah. Mereka tidak berani menafsirkan Al-Qurโan menurut akal, karena khawatir takut keliru, khususnya dalam ayat-ayat Al-Mutasyabihaat mereka menyerahkan maknanya kepada Allah SWT.
Seperti firman Allah SWT dalam surat al-Fath [48] ayat 10:
ููุฏูุงูููู ูููููู ุฃูููุฏูููููู
ู
โTangan Allah di atas tangan merekaโ.
Ahlul Atsar tidak mau menafsirkan apa yang dimaksud dengan tangan pada ayat tersebut, mereka menyerahkan maknanya kepada Allah SWT. Fatwa mereka hanya berdasarkan Al-Qurโan dan As-Sunnah semata. Apabila mereka tidak menjumpai dalam Al-Qurโan dan As-Sunnah mereka tidak berani untuk berfatwa. Dari golongan ini lahirlah seorang Imam yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab. Beliau dilahirkan di Nejed tahun1703 M.
Dengan demikian, madzhab Ahlussunnah wal Jamaโah yang dibawakan oleh Al-Imam Abdul Hasan Al-Asyโari dan Abu Manshur Al-Maturidi mengembalikan ajaran Islam kepada Sunnah Rasulullah SAW dan para shahabatnya dengan berpegangan kepada dalil Al-Qurโan dan As-Sunnah dengan tidak meninggalkan dalil-dalil akal. Artinya memegang kepada dalil akal tetapi lebih mengutamakan dalil Al-Qurโan dan As-Sunnah.
Cara Mempergunakan Dalil dalam Ilmu Tauhid
Madzhab Ahlusunnah wal Jamaโah mendahulukan atau mengutamakan dalil naqli dari pada dalil aqli. Jika akal manusia diibaratkan mata, maka dalil naqli diibaratkan pelita. Agar mata kita tidak tersesat, maka pelita kita letakkan di depan kemudian mata mengikuti pelita. Akal manusia mengikuti dalil Qurโan dan Hadits bukan Qurโan dan hadits yang disesuaikan dengan akan manusia.
Rasulullah SAW bersabda: (ูุงูุฏููููู ููู ููู ูุงู ุนููููู ูููู)ย tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal. Maksudnya, orang yang berakal menerima agama. Akal menerima agama, bukan agama menerima akal, karena akal manusia bermacam-macam. Agama ialah syariat yang diletakkan oleh Allah SWT bersumberkan kepada wahyu dan sunnah Rasulullah SAW bukan bersumberkan kepada akal. Agama bukan akal manusia dan akal manusia bukan agama.
Fatwa agama yang datang dari mana pun saja kalau tidak berdasarkan Al-Qurโan, As-Sunnah, Al-Ijmaโ dan Al-Qiyas wajib kita tolak. Maka di dalam ilmu Tauhid kita berpegangan kepada Al-Imam Abul Hasan Al-Asyโari dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi.
Al-Imam Abul Hasan Al-Asyโari dilahirkan di Bashrah pada tahun 260 H dan wafat tahun 324 H. Beliau belajar kepada ulamaโ Muโtazilah, di antaranya Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab Al-Jabal. Karena pada masa itu Muโtazilah merupakan madzhab pemerintah pada zaman khalifah Abbasiyah; khalifah Al-Maโmun bin Harun Al-Rasyid al-Muโtashim dan Al-Watsiq, dan beliau termasuk pengikut setia madzhab muโtazilah.
Setelah beliau banyak melihat kekeliruan faham Muโtazilah maka beliau menyatakan keluar dari Muโtazilah di depan khalayak ramai dengan tegas, bahkan akhirnya beliau menolak pendapat-pendapat Muโtazilah dengan dalil-dalil yang tegas.
Dalam ilmu Tauhid, rukun iman menurut Ahlussunnah wal Jamaโah ada 6 (enam): Iman kepada Allah, kepada para Nabi/Rasul Allah, Kitab Suci Allah, Malaikat Allah, Hari Akhir, dan Qadla/Qadar Allah, yang insya Allah akan diuraikan pada kesempata berikutnya.
KH A Nuril Huda
Ketua PP Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 3 Jenis Ucapan yang disukai Allah
2
Temui Dubes AS, Gus Yahya Serukan Dialog AS-Iran Demi Hentikan Perang di Timur Tengah
3
Jadwal Puasa Sunnah Selama April 2026
4
Khutbah Jumat: 8 Hal yang Dijauhi Rasulullah Mulai dari Kecemasan hingga Dililit Utang
5
Khutbah Jumat: Evaluasi Keuangan Setelah Hari Raya
6
Di Manakah Jutaan Orang Arab dalam Perang Iran Vs Israel dan AS?
Terkini
Lihat Semua