Syariah

Tarian Sufi di Masa Rasulullah SAW

NU Online  ยท  Kamis, 29 Januari 2015 | 13:06 WIB

Pemain sepak bola yang membobol gawang lawan, macam-macam tingkahnya. Kalau tidak melepas kaos atau menunjuk-tunjuk entah ke arah mana sambil berlari-larian, ia berdiri menari kegirangan berbarengan dengan sempritan panjang wasit. Kegirangan pemain itu tentu disambut pemain satu tim dengan usapan kepala atau rangkulan, sorak supporter, dan jingkrak pelatih mereka.
<>
Wasit pun akan memaklumi aksi macam-macam begini. Karena aksi begitu hanya sebentar untuk kemudian meletakkan bola di tengah untuk melanjutkan kembali permainan secara wajar. Yang tidak wajar itu kalau wasit turut melompat-lompat gembira. Ini akan menyulut kecurigaan pihak lawan. Jangan-jangan wasit sedari awal sudah doyong ke salah satu tim.

Memang begitu. Ketika perasaan sedih, gembira, atau lainnya meluap berkobar-kobar, manusia biasanya akan bertingkah di luar perilaku keseharian. Selagi masih manusia, maka ia bisa dibilang akan melakukan hal serupa baik dahulu maupun terkemudian.

Di masa Rasulullah SAW pun peristiwa serupa terjadi. Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam karyanya Al-Fatawi Al-Haditsiyah, menceritakan sahabat Jaโ€˜far bin Abi Thalib RA yang menari dengan ceria karena hatinya tengah ditenggelamkan rasa gembira luar biasa.

ู†ุนู… ู„ู‡ ุฃุตู„ ูู‚ุฏ ุฑูˆูŠ ููŠ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฃู† ุฌุนูุฑ ุจู† ุฃุจู‰ ุทุงู„ุจ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุฑู‚ุต ุจูŠู† ูŠุฏูŠ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ู…ุง ู‚ุงู„ ู„ู‡ "ุฃุดุจู‡ุช ุฎู„ู‚ูŠ ูˆุฎู„ู‚ูŠ" ูˆุฐู„ูƒ ู…ู† ู„ุฐุฉ ู‡ุฐุง ุงู„ุฎุทุงุจ ูˆู„ู… ูŠู†ูƒุฑ ุนู„ูŠู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…. ูˆู‚ุฏ ุตุญ ุงู„ู‚ูŠุงู… ูˆุงู„ุฑู‚ุต ููŠ ู…ุฌุงู„ุณ ุงู„ุฐูƒุฑ ูˆุงู„ุณู…ุงุน ุนู† ุฌู…ุงุนุฉ ู…ู† ูƒุจุงุฑ ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ู…ู†ู‡ู… ุนุฒ ุงู„ุฏูŠู† ุดูŠุฎ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุงุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุณู„ุงู…

Tentu. Aksi tarian para sufi ketika perasaannya gembira bukan kepalang, memiliki asal-usulnya. Sebuah hadits meriwayatkan Jaโ€˜far bin Abi Thalib RA menari di hadapan Rasulullah SAW ketika Beliau SAW mengatakan kepadanya, โ€œRupa dan perilakumu (akhlaqmu) serupa dengankuโ€.

Mendengar indahnya pujian itu, Jaโ€˜far lalu menari. Sementara Rasulullah SAW sendiri tidak mengingkari tarian tersebut. Karenanya berdiri dan menari di majelis-majelis zikir dan tabligh akbar (ngaji kuping), telah sahih diriwayatkan dari banyak ulama besar. Satu di antara mereka Izzuddin bin Abdis Salam.

Sebagai ekspresi perasaan manusia, sebuah tarian indah yang lazim berlaku di kalangan suatu kelompok sufi bisa diterima sama sekali. Selagi tidak membuat kericuhan seperti menari sambil melempar botol atau batu, orang-orang di sekitarnya bisa menerima. Wallahu aโ€˜lam. (Alhafiz K)

Terkait

Syariah Lainnya

Lihat Semua