Sirah Nabawiyah

Perang Jamal dan Lahirnya Polarisasi Politik dalam Umat Islam

NU Online  ·  Kamis, 2 April 2026 | 22:00 WIB

Perang Jamal dan Lahirnya Polarisasi Politik dalam Umat Islam

Perang Jamal dan Lahirnya Polarisasi Politik dalam Umat Islam

Perang Jamal merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam awal. Tragedi ini adalah momentum ketika perbedaan politik berubah menjadi konflik besar yang melibatkan para sahabat senior. Peristiwa ini pecah setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, sebuah tragedi yang berhasil mengguncang stabilitas politik, moral, dan sosial umat Islam.

 

Setelah Utsman terbunuh, Ali bin Abi Thalib dibaiat sebagai khalifah dalam situasi yang sangat tidak stabil. Baiat itu terjadi ketika para pembunuh Utsman masih berada di tengah masyarakat dan belum dapat segera ditindak. 


Sayyidina Ali menerima amanah kepemimpinan dalam keadaan negara belum pulih, sementara sebagian tokoh Muslim menilai bahwa penegakan keadilan atas darah Utsman harus menjadi prioritas pertama sebelum situasi politik dianggap normal kembali.

 

Di Makkah, Aisyah, Talhah, dan Zubair bersama sejumlah tokoh lain mulai menghimpun dukungan. Mereka menyerukan penuntutan darah Utsman dan menilai pembunuhan itu sebagai pelanggaran besar terhadap kehormatan umat. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Aisyah tampil mendorong masyarakat agar tidak membiarkan pembunuhan khalifah berlalu tanpa penyelesaian. 


Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah menyampaikan:


فقامت عائشة رضي الله عنها في الناس تخطبهم وتحثهم على القيام بطلب دم عثمان، وذكرت ما افتات به أولئك من قتله في بلد حرام وشهر حرام، ولم يراقبوا جوار رسول الله ﷺ وقد سفكوا الدماء.


 

Artinya, “Maka Aisyah berdiri di hadapan orang banyak, lalu berkhutbah kepada mereka dan mendorong mereka untuk bangkit menuntut darah Utsman. Ia menyebutkan tindakan lancang yang telah dilakukan oleh mereka itu dengan membunuhnya di negeri yang suci dan pada bulan yang suci. Mereka juga tidak menghormati kedudukan bertetangga dengan Rasulullah ; mereka telah menumpahkan darah.” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wan Nihayah, Juz 10, (Kairo: Daru ‘Alamil Kutub, 2003), hlm. 432).

 

Teks ini menjadi bukti bahwa sebenarnya tuntutan terhadap pembunuh Utsman dibingkai sebagai isu moral-keagamaan, bukan sebatas ambisi politik.

 

Dari Tuntutan Keadilan ke Perang Saudara
 
 

Meskipun sama-sama menginginkan perbaikan keadaan, para tokoh saat itu berbeda dalam menentukan langkah. Ada yang mengusulkan bergerak ke Syam, ada yang ingin ke Madinah, dan ada yang memilih Bashrah. 


Akhirnya Bashrah dipilih sebagai basis gerakan. Pilihan ini menunjukkan bahwa sejak awal konflik ini menyangkut strategi politik, dukungan militer, dan perebutan pengaruh di wilayah-wilayah penting dunia Islam saat itu.

 

Dalam perjalanan ke Bashrah, rombongan Aisyah melewati kawasan Haw’ab. Di tempat itu, anjing-anjing menggonggong hingga Aisyah teringat sabda Nabi tentang salah satu istrinya yang akan disambut gonggongan anjing di suatu tempat.

 

Riwayat ini sering dipahami sebagai isyarat kegelisahan dan keraguan moral yang menyelimuti perjalanan tersebut. Artinya, bahkan sebelum perang terjadi, bayang-bayang fitnah dan kekacauan sudah sangat terasa di kalangan para pelaku sejarah sendiri.

 

Ibnul Atsir mengutip bagaimana saat Aisyah merasa sangat gelisah ketika melintasi Haw’ab, dan sempat meminta untuk berbalik arah pulang. Berikut kutipannya:

 

وَقَالَتْ: رُدُّونِي، أَنَا وَاللَّهِ صَاحِبَةُ مَاءِ الْحَوْأَبِ. فَأَنَاخُوا حَوْلَهَا يَوْمًا وَلَيْلَةً.

 

Artinya, “Aisyah berkata: “Kembalikan aku! Demi Allah, akulah wanita yang dimaksud di tempat air Haw’ab itu.” Maka mereka pun berhenti dan tinggal di sekitarnya selama sehari semalam.” (Ibnul Atsir, al-Kamil fit Tarikh, Juz 2, (Damaskus: Darul Kitab al-Arabi, 1997), hlm. 569).

 

Setibanya di Bashrah, ketegangan cepat meningkat. Dialog sempat terjadi antara kubu Aisyah, Talhah, dan Zubair dengan pihak yang mewakili pemerintahan Ali. Mereka sama-sama berbicara tentang keadilan dan kemaslahatan umat. Namun, realitas di lapangan jauh lebih rumit. 


Di Bashrah terdapat kelompok-kelompok yang saling mencurigai, termasuk unsur-unsur yang diduga terlibat dalam pembunuhan Utsman. Akibatnya, kota itu berubah menjadi arena perebutan legitimasi.

 

Bentrokan kecil pun mulai pecah. Ketegangan politik berkembang menjadi konflik sosial ketika massa ikut terlibat. Pidato-pidato, pengerahan pasukan, dan perebutan kendali atas ruang publik membuat masyarakat Bashrah terbelah.

 

Sebagian mendukung kubu Aisyah, sebagian tetap setia kepada pemerintahan Ali. Perbedaan ijtihad para elite ini berubah menjadi polarisasi umat. Konflik yang semula terjadi di lingkungan tokoh-tokoh besar semakin runyam karena melibatkan publik lebih luas.

 

Di sisi lain, Ali sendiri sebenarnya berupaya menghindari perang. Saat bergerak dari Madinah menuju Irak, ia berulang kali menegaskan bahwa tujuannya adalah ishlah (rekonsiliasi). Di Kufah pun muncul perbedaan sikap. Sebagian mendukung Ali, sebagian memilih netral, dan sebagian lain menilai bahwa fitnah sebaiknya dihindari dengan tidak ikut bertempur. 


Berikut adalah kutipan seruan Ali yang mengindikasikan bahwa ia berupaya menghindari terjadinya perang:


وَقَالَ لَهُمْ: سَأَصْبِرُ مَا لَمْ أَخَفْ عَلَى جَمَاعَتِكُمْ، وَأَكُفُّ إِنْ كَفُّوا، وَأَقْتَصِرُ عَلَى مَا بَلَغَنِي.


 

Artinya, “Dan ia (Ali) berkata kepada mereka: Aku akan bersabar selama aku belum mengkhawatirkan keselamatan kesatuan kalian. Aku juga akan menahan diri jika mereka menahan diri, dan aku akan membatasi tindakan hanya pada apa yang sampai kepadaku.” (Ibnul Atsir, al-Kamil fit Tarikh, hlm. 569).

 

Salah satu hal paling tragis dalam kisah Perang Jamal adalah kenyataan bahwa perdamaian sebenarnya hampir tercapai. Ketika utusan Ali, yaitu al-Qa’qa’ bin ‘Amr, bertemu dengan Aisyah, Talhah, dan Zubair, terbuka peluang besar untuk islah. 


Semua pihak sepakat bahwa persoalan pembunuhan Utsman harus diselesaikan dengan hati-hati. Hanya saja, pihak yang paling takut pada perdamaian adalah kelompok pembunuh Utsman dan para pendukungnya, sebab rekonsiliasi berarti ancaman langsung bagi posisi mereka.

 

Ibnu Khaldun dalam kitab Tarikh Ibn Khaldun cukup jelas menyebutkan adanya upaya sabotase tersebut, dengan mengutip provokasi Ibnu Sauda kepada para pelaku pembunuh Utsman. Berikut kutipan ucapan Ibnu Sauda tersebut:

 

ثم تكلم ابن السوداء فقال: يا قوم إن عزّكم في خلطة الناس فصانعوهم وإذا التقى الناس غدا فانشبوا القتال فلا يجدون بدّا منه ويشغلهم الله عما تكرهون، وافترقوا على ذلك.

 

Artinya, “Ibnu Sauda berseru: ‘Kekuatan kalian terletak pada keberadaan kalian di tengah orang banyak. Karena itu, berbaurlah dengan mereka. Apabila besok orang-orang telah saling berhadapan, maka nyalakanlah pertempuran, sehingga mereka tidak memiliki pilihan selain terlibat di dalamnya.” (Ibnu Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, Juz 2, (Beirut: Darul Fikr, 1981), hlm. 616).

 

Sebab itu, mereka disebut memicu serangan mendadak pada malam hari agar kedua kubu saling menuduh berkhianat. Perang besar pun pecah. Dengan kata lain, Perang Jamal bukan hanya lahir dari niat awal para pemimpin Islam untuk saling menghancurkan, tetapi juga karena sabotase politik. Ketika kepercayaan sudah rusak dan senjata sudah terhunus, satu provokasi kecil saja cukup untuk menyalakan perang besar yang sulit dihentikan.

 

Perang itu berakhir dengan sangat tragis. Talhah wafat, Zubair mundur tetapi kemudian terbunuh di luar medan utama, dan ribuan Muslim tewas dari kedua pihak. Aisyah berada di atas unta dalam haudaj yang menjadi pusat konsentrasi pasukan.

 

Setelah pertempuran selesai, Ali melarang penjarahan, pengejaran terhadap yang lari, dan pembunuhan terhadap yang terluka. Ia juga memperlakukan Aisyah dengan hormat dan mengantarkannya kembali dengan pengawalan yang layak.

 

Walhasil, Perang Jamal meninggalkan pelajaran sejarah yang sangat mahal. Umat Islam dapat terpecah karena benturan prioritas politik, kegagalan mengelola krisis, infiltrasi kepentingan, dan rusaknya kepercayaan antarkelompok.

 

Dari tragedi inilah lahir polarisasi politik yang kelak membentuk sejarah Islam berikutnya. Tragedi ini memberi ibrah betapa mahalnya harga yang harus dibayar ketika konflik umat gagal dikelola dengan hikmah dan ketegasan. Wallahu a’lam.


---------- 
Muhamad Abror, dosen filologi dan sejarah Islam Ma'had Aly Sa'iidusshiddiqiyah Jakarta.