Daerah

Ansor Dorong Pemulihan Ekonomi Pascabanjir Aceh Timur, Fokus pada Petani

Sabtu, 18 April 2026 | 15:00 WIB

Ansor Dorong Pemulihan Ekonomi Pascabanjir Aceh Timur, Fokus pada Petani

Ilustrasi sawah yang tertutup lumpur di Aceh. (Foto: dok warga)

Aceh Timur, NU Online

Banjir bandang yang melanda wilayah pedalaman Aceh Timur pada November 2025 lalu tidak hanya menjadi bencana alam, tetapi juga mengguncang sendi ekonomi masyarakat.


Ribuan hektare lahan pertanian dan perkebunan rusak parah, tertimbun lumpur tebal yang membuat tanah tidak lagi produktif. Akibatnya, ribuan keluarga kehilangan sumber penghidupan yang selama ini menjadi tumpuan hidup.


Di Kecamatan Simpang Jernih dan Serbajadi, dampak tersebut terlihat nyata. Sabirin, salah satu keuchik di wilayah terdampak, menggambarkan lumpuhnya sistem ekonomi masyarakat yang sebelumnya bertumpu pada dua sektor, yakni tanaman pangan seperti sayuran dan palawija, serta tanaman keras seperti durian, kakao, pinang, dan nilam.


“Dulu sekali panen durian saja bisa mencapai puluhan juta. Itu untuk biaya pendidikan anak dan kebutuhan keluarga. Sekarang semuanya hilang,” ungkapnya.


Kondisi ini diperparah oleh sulitnya proses pemulihan lahan. Lumpur yang menutupi lahan hingga puluhan sentimeter telah mengubah struktur tanah. Para ahli memperkirakan dibutuhkan beberapa musim tanam untuk mengembalikan kesuburannya.


Proses rehabilitasi juga memerlukan biaya besar, mulai dari pembersihan lahan hingga pengolahan ulang tanah, yang sulit dijangkau petani secara mandiri.


Situasi tersebut membuat masyarakat berada dalam ketidakpastian. Selain kehilangan penghasilan, mereka juga kehilangan arah untuk memulai kembali. Sebagian warga mencoba beralih profesi, namun keterbatasan keterampilan dan akses menjadi kendala.


Ketua GP Ansor Aceh Timur, Cak Damar, menilai kondisi ini harus menjadi perhatian serius semua pihak. Ia menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan bantuan darurat, tetapi memerlukan strategi jangka panjang yang terukur.


“Ini bukan hanya soal bantuan sesaat. Kita bicara tentang keberlangsungan hidup masyarakat. Petani kehilangan lahan, penghasilan, dan harapan. Ini harus dijawab dengan kebijakan yang konkret dan berkelanjutan,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).


Menurutnya, pemerintah perlu mempercepat realisasi program pemulihan, seperti bantuan rehabilitasi lahan, penyediaan bibit unggul, serta akses permodalan bagi petani. Pendampingan teknis juga dinilai penting agar masyarakat mampu mengelola kembali lahannya secara efektif.


Cak Damar juga menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam proses pemulihan. Keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, lembaga sosial, hingga organisasi kepemudaan, dinilai dapat mempercepat pemulihan sekaligus memastikan bantuan tepat sasaran.


“Ansor siap hadir bersama masyarakat. Kami tidak hanya melihat, tetapi ikut bergerak, mengawal kebijakan, mendampingi masyarakat, dan memastikan mereka tidak sendiri,” tegasnya.


Di sisi lain, masyarakat berharap adanya kepastian terkait bantuan yang dijanjikan pemerintah. Sejumlah program pemulihan disebut telah direncanakan, namun pelaksanaannya di lapangan dinilai belum optimal. Kondisi ini menambah beban psikologis warga yang sudah terdampak secara ekonomi.


Pemulihan Aceh Timur tidak hanya soal memperbaiki kerusakan fisik, tetapi juga membangun kembali kepercayaan dan harapan masyarakat. Diperlukan langkah cepat, tepat, dan terkoordinasi agar masyarakat dapat kembali bangkit.


Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai elemen seperti Ansor, proses pemulihan diharapkan tidak hanya mengembalikan kondisi seperti semula, tetapi juga menciptakan sistem ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.