BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Aceh, Ulama Ajak Warga Tingkatkan Kewaspadaan dan Perbanyak Doa
Rabu, 15 April 2026 | 17:30 WIB
Banda Aceh, NU Online
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk wilayah Aceh pada Senin (13/4/2026). Dalam pembaruan resminya, BMKG menyebut Aceh berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang pada 13-15 April 2026.
Peringatan ini mendapat perhatian kalangan ulama di Aceh. Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk H Faisal Ali atau yang akrab disapa Abu Sibreh, mengajak masyarakat agar tidak mengabaikan informasi resmi cuaca dan meningkatkan kewaspadaan dalam beraktivitas.
“Peringatan cuaca dari BMKG harus dibaca sebagai bentuk ikhtiar ilmiah yang wajib diperhatikan bersama. Dalam situasi seperti ini, masyarakat perlu mengurangi aktivitas yang tidak mendesak di luar rumah, terutama di daerah rawan genangan, dekat aliran sungai, kawasan perbukitan, dan lokasi yang berpotensi terdampak angin kencang,” ujarnya.
Pimpinan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Sibreh, Aceh Besar itu menegaskan bahwa menjaga keselamatan jiwa merupakan bagian penting dari ajaran agama. Karena itu, kewaspadaan terhadap cuaca buruk tidak cukup hanya dengan mengetahui informasi, tetapi harus diikuti langkah nyata.
Ia mengimbau masyarakat untuk mengamankan lingkungan rumah, memperhatikan keselamatan anak-anak dan orang tua, serta menunda perjalanan jika kondisi cuaca tidak memungkinkan.
Abu Sibreh juga menilai peringatan dini harus segera disampaikan hingga ke tingkat masyarakat paling bawah. Informasi tidak boleh berhenti di media sosial atau grup percakapan, melainkan perlu diteruskan oleh aparatur gampong, tokoh masyarakat, pengurus masjid, dan relawan.
BMKG melalui laman prakiraan cuaca Provinsi Aceh juga mencatat kondisi cuaca yang bervariasi di berbagai kabupaten/kota, mulai dari berawan, hujan ringan, hingga hujan petir.
Perubahan atmosfer yang cepat pada masa peralihan musim membuat masyarakat perlu terus memantau informasi resmi, terutama kelompok dengan mobilitas tinggi seperti petani, nelayan, pedagang, pengendara, dan pekerja lapangan.
Dalam peringatan dini aktif pada 13 April 2026, BMKG mencatat potensi hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang mulai sekitar pukul 13.40 WIB. Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak turunan seperti genangan, banjir lokal, pohon tumbang, hingga gangguan perjalanan.
Menurut Abu Sibreh, situasi ini tidak hanya menuntut kewaspadaan teknis, tetapi juga menjadi momentum memperkuat ikhtiar batiniah.
“Masyarakat perlu memperbanyak doa dan zikir serta memohon perlindungan kepada Allah SWT agar dijauhkan dari musibah. Ikhtiar lahiriah dan batiniah harus berjalan seiring,” katanya.
Senada dengan itu, Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk Iskandar Zulkarnaen, menekankan pentingnya solidaritas sosial di tengah potensi cuaca buruk.
Ia mengingatkan agar masyarakat saling membantu jika ada warga terdampak, baik karena akses jalan terganggu, rumah kemasukan air, maupun kebutuhan mendesak lainnya.
“Budaya tolong-menolong yang kuat di Aceh harus terus dihidupkan, terutama dalam kondisi seperti ini,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi cuaca ekstrem menuntut kesiapsiagaan bersama. Karena itu, seluruh unsur masyarakat, mulai dari keluarga, gampong, hingga lembaga sosial keagamaan, diharapkan turut membangun kesadaran kolektif.
Tgk Iskandar yang juga menjabat Kepala BPKS menambahkan, dengan adanya peringatan dini dari BMKG, masyarakat diharapkan tetap tenang namun tidak meremehkan potensi risiko.
“Kewaspadaan, kepedulian sosial, dan kepatuhan terhadap informasi resmi menjadi langkah penting untuk meminimalkan dampak cuaca buruk,” pungkasnya.