Daerah

Ijtihad Politik Abu Lueng Ie, Ikhtiar Menjaga Ulama dan Tarekat di Tengah Gejolak Zaman

Ahad, 11 Oktober 2026 | 20:00 WIB

Ijtihad Politik Abu Lueng Ie, Ikhtiar Menjaga Ulama dan Tarekat di Tengah Gejolak Zaman

Peringatan Haul Ke-35 Tgk H Usman Al-Fauzi di Dayah Darul Ulum Abu Lueng Ie, Sabtu,(10/10/2026). (Foto: istimewa)

Aceh Besar, NU Online

Haul ke-35 Al-Mursyid Tgk H Usman Al-Fauzi atau akrab disapa Abu Lueng Ie menjadi momentum mengenang kembali perjuangan ulama kharismatik Aceh yang dikenal sebagai mursyid Tarekat Naqsyabandiyah sekaligus salah seorang murid senior Abuya Muda Waly Al-Khalidy.


Peringatan haul yang digelar di Dayah Darul Ulum Abu Lueng Ie, Sabtu,(10/10/2026) tersebut tidak hanya menjadi ruang mengenang keteladanan dan keilmuan Abu Lueng Ie, tetapi juga membuka kembali pembahasan mengenai perjalanan perjuangannya ketika mengambil pilihan memasuki dunia politik. Bagi para murid dan generasi yang mengenalnya, langkah tersebut merupakan bagian dari ijtihad seorang ulama dalam menghadapi kondisi sosial-politik pada zamannya.


Tgk H Daud Hasbi atau akrab disapa Abi Daud, ulama senior Aceh yang juga alumni Dayah Darul Ulum Abu Lueng Ie, mengisahkan secara langsung sejumlah pengalaman dan keteladanan yang diperolehnya selama belajar di dayah tersebut pada 1982-1987.


Menurut Abi Daud, Abu Lueng Ie memiliki perhatian besar terhadap keselamatan ulama. Ia mengisahkan salah satu peristiwa ketika Abon Aziz Samalanga bersama Tgk Ahmad Dewi datang bertamu kepada Abu Lueng Ie.


Saat itu, menurut Abi Daud, kondisi keamanan terhadap ulama sedang mengkhawatirkan. Abu Lueng Ie kemudian berusaha mengambil langkah untuk menghubungi sejumlah pihak yang dinilai memiliki pengaruh dan akses terhadap kekuasaan.


“Abu Lueng Ie berusaha menghubungi berbagai pihak sampai ke tingkat pimpinan nasional. Tujuannya untuk menyelamatkan ulama Aceh,” kenang Abi Daud.


Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai alasan Abu Lueng Ie memilih terjun ke dunia politik. Keputusan tersebut tidak semata-mata dipahami sebagai upaya mencari posisi atau kepentingan pribadi, tetapi sebagai ikhtiar untuk menciptakan ruang perlindungan bagi ulama.


Abi Daud juga mengingat pesan Abu Lueng Ie kepada para santri bahwa siapa saja yang belajar di Dayah Lueng Ie akan mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan.


Ia sendiri mengaku merasakan pesan tersebut dalam perjalanan hidupnya. Setelah belajar di Dayah Darul Ulum Abu Lueng Ie, Abi Daud kemudian terus berkiprah dalam pendidikan Islam dan dipercaya memimpin sejumlah dayah.


Menurut Abi Daud, warisan terpenting Abu Lueng Ie adalah kecintaan kepada ilmu dan penghormatan kepada guru.


“Mulikan anak guree, niscaya kita akan mulia. Kalau sebaliknya, kita akan celaka dan tidak mendapatkan kebahagiaan,” ujarnya mengenang pesan Abu Lueng Ie.


Sementara itu, Tgk Sirajuddin, ulama muda Tarekat Naqsyabandiyah, melihat sosok Abu Lueng Ie tidak dapat dilepaskan dari tradisi spiritual tarekat yang diwariskannya.


Dalam tausiyahnya, Tgk Sirajuddin mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali tradisi tawajuh, khususnya di kalangan generasi muda.


Menurutnya, tarekat memiliki peran penting dalam membangun kekuatan spiritual umat. Tawajuh tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga sarana membentuk ketenangan batin dan memperkuat hubungan manusia dengan Allah swt.


Ia juga menyampaikan sejumlah keterangan mengenai tanda-tanda husnul khatimah dan mengaitkannya dengan kemuliaan para pengamal tarekat.


“Mulianya Tarekat Naqsyabandiyah dan mari kita bumikan tawajuh untuk generasi muda,” ajaknya.


Tgk Sirajuddin menilai warisan Abu Lueng Ie perlu diteruskan bukan hanya dalam bentuk penghormatan terhadap sosoknya, tetapi juga melalui penguatan pendidikan agama, tradisi dayah, dan pembinaan spiritual generasi muda.