Khutbah

Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial

NU Online  ·  Kamis, 8 Oktober 2026 | 13:30 WIB

Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial

Khutbah Jumat (Magnific)

Di era digital, maksiat bisa dilakukan hanya dengan satu sentuhan melalui layar ponsel, tanpa harus diketahui orang lain. Situasi dan kondisi ini bisa menjadikan kita terbiasa dengan dosa yang dilakukan berulang kali. Setiap klik, tontonan, tulisan, dan unggahan tetap berada dalam catatan amal yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt.

 

Teks khutbah Jumat berikut berjudul "Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital" Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat.

 

Khutbah I


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءَكَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ ۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Ta'ala,

 

Di antara hal yang harus terus kita perkuat dalam menjalani kehidupan di dunia ini adalah penguatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Hal ini sangat penting karena dunia saat ini berubah dengan cepat. 

 


Berbagai macam informasi yang bertebaran tanpa kenal batas tempat dan waktu terus membanjiri otak kita. Jika tidak ada keimanan dan ketakwaan kepada Allah, kita akan dengan mudah terbawa arus digital sehingga akan menjauhkan diri dari nilai-nilai dan ketentuan Allah swt.

 

Saat ini, kehidupan digital membuat kita semakin mudah melakukan banyak hal. Hanya dengan satu sentuhan pada layar, kita bisa menemukan dan mendapatkan informasi, berkomunikasi dan ilmu, bersilaturahmi, bekerja, bahkan melakukan berbagai bentuk kebaikan lainnya. 


 

Namun pada saat yang sama, satu sentuhan yang sama juga dapat mengantarkan kita kepada perbuatan yang tidak diridhai Allah seperti maksiat yang dilakukan dengan anggota tubuh kita.

 

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin juz IV, halaman 420 mengingatkan agar kita yang masih terjatuh dalam maksiat tidak berhenti untuk melakukan muhasabah. Ia mengatakan:

 

مَهْمَا حَاسَبَ نَفْسَهُ فَلَمْ تَسْلَمْ عَنْ مُقَارَفَةِ مَعْصِيَةٍ وَارْتِكَابِ تَقْصِيرٍ فِي حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُهْمِلَهَا، فَإِنَّهُ إِنْ أَهْمَلَهَا سَهُلَ عَلَيْهِ مُقَارَفَةُ الْمَعَاصِي، وَأَنِسَتْ بِهَا نَفْسُهُ، وَعَسُرَ عَلَيْهِ فِطَامُهَا، وَكَانَ ذَلِكَ بِسَبَبِ هَلَاكِهَا.

 

Artinya, “Setiap kali selesai bermuhasabah atau berintrospeksi diri, dan dirinya tidak juga selamat dari perbuatan maksiat serta pelanggaran kelalaian pada hak Allah, maka ia seyogianya tidak melepas liar dirinya. Jika ia membiarlepaskan dirinya, niscaya ia akan semakin ringan dalam bermaksiat; dirinya merasa nyaman dengan kemaksiatan; dan ia makin sulit meninggalkannya. Itu juga yang menjadi sebab kebinasaannya.”

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Ta'ala,


Pesan ini dapat menjadi pengingat penting bagi kita yang saat ini hidup di tengah derasnya arus internet. Sebab, di era digital ini, maksiat tidak selalu membutuhkan langkah panjang. Terkadang cukup dengan membuka sebuah tautan, menggeser layar, mengetik kata kunci, atau menekan tombol.


Awalnya mungkin kita hanya berniat melihat satu video. Tetapi algoritma kemudian menawarkan video berikutnya. Dari satu video berpindah ke video lain, dari satu akun menuju akun lainnya, hingga tanpa terasa waktu berlalu dan kita melihat sesuatu yang seharusnya tidak kita lihat.


Selain mata dan telinga, tangan dan jemari kita pun bisa dengan mudah terjerembab dalam maksiat digital. Jika dulu, kita mungkin harus bertemu langsung untuk menyakiti orang lain dengan perkataan. Namun sekarang, komentar, unggahan, pesan pribadi, atau sebuah unggahan ulang dapat menjadi sarana untuk mencela, memfitnah, mempermalukan, atau menyebarkan keburukan orang lain.


 

Oleh karena itu, muhasabah di era digital bukan hanya bertanya apa yang sudah kita lakukan hari ini, tetapi juga apa yang sudah kita lihat, dengar, baca, tulis, bagikan, dan cari melalui perangkat digital kita.

 


Dalam Surat An-Nur Ayat 30 Allah berfriman:

 


قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ ۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ ۝٣٠

 

Artinya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang mereka perbuat.”


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Ta'ala,

 

Maksiat digital yang kita lakukan bisa jadi karena kita bisa melakukannya dengan mudah dan menganggap bahwa hal tersebut adalah dosa kecil. Ketika kita melihat sesuatu yang haram seorang diri di kamar, misalnya, kita mungkin merasa tidak ada seorang pun yang mengetahui.


 

Ketika menulis komentar kasar, kita merasa hanya sedang mengetik beberapa kalimat. Ketika menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, kita mungkin menganggapnya sekadar meneruskan pesan.

 

Padahal perlu kita sadari, tidak ada perbuatan yang tersembunyi dari Allah. Allah berfirman:

 

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْا ۗ اَحْصٰىهُ اللّٰهُ وَنَسُوْهُ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌࣖ ۝٦

 

Artinya: “Pada hari itu Allah membangkitkan mereka semua, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitungnya (semua amal) meskipun mereka telah melupakannya. Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS Al-Mujadilah: 6).

 

Oleh karena itu, mari berhentilah sejenak. Periksa diri. Awasi jari. Jaga mata. Jaga lisan. Jaga hati. Sebab di dunia digital, satu sentuhan mungkin hanya berlangsung sedetik, tetapi catatan amalnya bisa jauh lebih panjang. Mari berdoa kepada Allah swt agar kita senantiasa diberikan perlindungan sekaligus kekuatan untuk menjauhkan diri dari aktivitas maksiat digital.

 

Nabi bersabda dalam hadits Qudsi:

 

وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً

 

Artinya: “Dan apabila ia meninggalkannya (maksiat/keburukan) karena Aku niscaya Aku akan mencatatnya sebagai kebaikan.” (HR Bukhari).

 

Dalam Kitab Perukunan Melayu disebutkan sebuah doa agar bisa menjauhi maksiat:

 

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ التَوْبَةَ وَدَوَامَهَا وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ المَعْصِيَةِ وَأَسْبَابِهَا وَذَكِّرْنَا بِالخَوْفِ مِنْكَ قَبْلَ هُجُومِ خَطَرَاتِهَا، وَاحْمِلْهُ عَلَى النَّجَاةِ مِنْهَا وَمِنْ التَّفَكُّرِ فِي طَرَائِقِهَا وَامْحُ مِنْ قُلُوبِنَا حَلَاوَةَ مَا اجْتَبَيْنَاهُ مِنْهَا، وَاسْتَبْدِلْهَا بِالكَرَاهَةِ لَهَا وَالطَّمَعِ لِمَا هُوَ بِضِدِّهَا


 

 

Artinya, “Ya Allah, kepada-Mu kami meminta pertobatan dan kelanggengannya. Kepada-Mu, kami berlindung dari maksiat dan sebab-sebabnya. Ingatkan kami agar takut kepada-Mu sebelum datang bahaya maksiat. Bawakan ketakutan itu untuk menyelamatkan kami dari maksiat dan dari pikiran di jalanan maksiat. Hapuskan kelezatan maksiat yang kami pilih dari hati kami. Gantikan kenikmatan itu dengan rasa tidak suka dan keinginan terhadap lawanan maksiat,”

 

Selain itu dituliskan juga oleh Syekh Mutawalli As-Sya’rawi sebuah doa agar kitab isa meninggalkan maksiat:

 


أللهمَّ احْرمْنِي لَذَّةَ مَعْصِيَتِكَ، وَارْزُقْنِي لَذَّةَ طَاعَتِكَ

 

Artinya, “Ya Allah, luputkan aku dari kelezatan maksiat kepada-Mu, dan berikanlah aku kelezatan untuk taat kepada-Mu.”

 


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا


 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا، وَعَافِيَةِ الْاَبْدَانِ وَشِفَائِهَا، وَنُوْرِ الْاَبْصَارِ وَضِيَائِهَا، وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ، اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

 


عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

 

------------
H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Pringsewu, Lampung