Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
NU Online · Kamis, 8 Oktober 2026 | 14:00 WIB
Muhammad Zainul Mujahid
Kolumnis
Hari Jumat merupakan hari yang mulia dan memiliki keutamaan besar bagi umat Islam. Karena itu, mari kita manfaatkan hari yang penuh keberkahan ini untuk memperbanyak doa, terutama bagi keluarga, kerabat, dan orang-orang saleh yang telah lebih dahulu meninggalkan kita.
Berikut naskah khutbah Jum'at yang berjudul, “Keutamaan Mendoakan Keluarga pyang Sudah Meninggal pada Hari Jumat”. Untuk mencetaknya, silakan klik ikon berwarna merah pada bagian kanan atas. Semoga bermanfaat.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَبْتَغِي بِهَا عَفْوًا وَأَمَلَا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْهَادِي إِلَى الطَّرِيقِ الْأَقْوَمِ سُبُلًا وَمِلَلَا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي لَمْ يَزَلْ بِالْخَيْرِ .مُشْتَغِلَا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، صَلَاةً دَائِمَةً لَا تَعْرِفُ فُتُورًا وَلَا مَلَلَا
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ مَنْ بِالتَّقْوَى تَسَرْبَلَا. وقال تعالى: وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Dalam momentum yang mulia ini, khatib berwasiat kepada kita semua untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan terus berupaya melaksanakan hal-hal yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Kematian merupakan akhir kehidupan yang memisahkan kita dengan orang yang dicintai. Ada yang lebih dahulu kehilangan orang tuanya, ada yang kehilangan pasangan, saudara, atau orang-orang yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Ketika kematian datang, banyak hal yang dahulu dapat kita lakukan bersama mereka, namun sekarang hanya tinggal kenangan. Kita tidak dapat lagi berbicara, bersalaman, duduk bersama, ataupun hanya sekadar mendengar suara mereka.
Namun, Islam mengajarkan bahwa kematian tidak serta-merta mengakhiri hubungan kita dengan orang yang sudah lebih dahulu meninggalkan kita. Orang tua boleh jadi telah mendahului kita, tapi kesempatan untuk berbakti kepada mereka masih terbuka lebar. Saudara atau kerabat kita barangkali banyak yang telah dijemput ajal, tetapi kesempatan untuk mengasihi dan berbuat baik kepada mereka masih tersedia.
Meskipun raga tidak dapat berjumpa, namun ada kebaikan yang dapat dihantarkan, ada pahala yang bisa dihadiahkan, dan ada doa yang bisa dipanjatkan untuk mereka. Karena itu, dalam sebuah hadits yang sangat masyhur, Rasulullah Saw. bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: "Apabila manusia mati, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga; sedakah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)
Hadits ini mengandung dorongan kepada anak agar senantiasa mendoakan keluarganya yang sudah meninggal dunia. Karena, doa anak demikian juga kerabat yang shaleh, merupakan salah satu sumber kebaikan yang akan terus mengalir bagi orang tua yang ada di alam barzakh. Dalam Kitab Mirqatul Mafatih, juz 1 hal. 285, ditegaskan sebagai berikut:
وَإِنَّمَا ذَكَرَ دُعَاءَهُ تَحْرِيضًا لِلْوَلَدِ عَلَى الدُّعَاءِ لِأَبِيهِ
Artinya: "Menyebutkan doa anak shaleh (sebagai bagian dari amal yang tidak terputus) merupakan bentuk dorongan bagi anak agar mendoakan orang tuanya."
Perintah untuk mendoakan keluarga atau orang mukmin secara yang sudah meninggal dunia juga termaktub dalam surat Hasyr ayat 10. Allah SWT berfirman:
وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: "Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
Ayat di atas sejatinya menjadi salah satu dalil tentang kemuliaan para sahabat Nabi SAW. Pada saat yang sama, ayat tersebut juga mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mendoakan mereka sebagai sosok-sosok mulia yang telah lebih dahulu mendahului kita.
Dalam kitab Dalilul Falihin Syarah Riyadus Shalihin, juz 7, halaman 298, disebutkan bahwa ayat ini merupakan bentuk pujian dari Allah kepada orang-orang mukmin yang senantiasa mendoakan ampunan dan kebaikan bagi para pendahulu mereka.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Oleh karena itu, Islam sangat menganjurkan kita untuk selalu mendoakan keluarga, kerabat, dan orang-orang terdahulu yang telah meninggal dunia. Salah satu waktu yang baik untuk mendoakan mereka adalah pada hari Jumat.
Hari Jumat disebut sebagai Sayyidul Ayyam, yang berarti “penghulu segala hari”. Jumat merupakan hari yang mulia dan menjadi hari raya mingguan bagi umat Islam.
Bahkan, dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu yang sangat istimewa untuk berdoa. Pada waktu tersebut, doa yang dipanjatkan memiliki keutamaan yang besar, permohonan kepada Allah diharapkan dikabulkan, dan dosa-dosa yang dimohonkan ampunan dapat diampuni. Waktu istimewa ini dikenal dengan istilah Sa'atul Ijabah, yaitu waktu terkabulnya doa.
Dalam sebuah riwayat, dikatakan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا
Artinya, “Dari Sahabat Abi Hurairah RA, sungguh Rasulullah SAW menyebut hari Jumat kemudian berkomentar perihal Jumat, ‘Pada hari itu terdapat waktu yang tidaklah seorang Muslim menemuinya dalam keadaan beribadah seraya ia meminta kepada Allah sesuatu hajat, kecuali Allah mengabulkan permintaannya.’ Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya bahwa waktu tersebut sangat sebentar,” (HR. Bukhari).
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Selain menjadi hari yang penuh keberkahan dan waktu yang baik untuk berdoa, hari Jumat juga disebut dalam sebuah riwayat sebagai waktu ketika arwah orang-orang yang telah meninggal kembali mengunjungi rumah keluarganya.
Dalam riwayat yang dinisbatkan kepada Imam al-Hakkari dalam kitab Hidayatul Ahya’ ilal Amwat, disebutkan bahwa arwah orang-orang yang telah meninggal mengharapkan doa, istigfar, dan kiriman pahala sedekah dari keluarga mereka yang masih hidup.
Dalam riwayat tersebut juga digambarkan bahwa mereka mendatangi rumah masing-masing dan menyeru keluarganya agar mendoakan mereka serta bersedekah atas nama mereka.
Berikut cuplikan riwayat tersebut:
اهدوا لموتاكم، قلنا: وما نهدي يا رسول الله الموتى؟ قال: الصدقة والدعاء ثم قال رسول الله ﷺ: إن أرواح المؤمنين يأتون كل جمعة إلى سماء الدنيا فيقفون بحذاء دورهم وبيوتهم... الحديث
Artinya: "Berilah hadiah kepada orang-orang yang sudah meninggal di antara kalian. Kami menjawab, Bagaimana kami akan memberi hadiah kepada mereka wahai Rasulullah? Beliau Saw. menjawab, dengan sedekah dan doa. Kemudikan beliau bersabda, sesungguhnya, arwah orang-orang mukmin setiap Jumat datang ke dunia berdiri di rumah rumah mereka."
Riwayat di atas mengingatkan kita bahwa orang yang telah meninggal dunia masih sangat mengharapkan doa dan amal kebaikan dari keluarga yang masih hidup.
Karena itu, mari kita jadikan hari Jumat sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal, bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk mengenang keluarga dan kerabat yang telah lebih dahulu meninggal dunia.
Mari kita doakan mereka, memohonkan ampun atas dosa-dosa mereka, dan bersedekah atas nama mereka. Semoga doa dan sedekah yang kita lakukan menjadi amal yang bermanfaat bagi mereka dan menjadi kebaikan bagi kita yang masih hidup.
Dengan doa kita yang tulus untuk kebaikan mereka serta pahala sedekah yang dihadiahkan untuk mereka, kita berharap agar Allah Swt melimpahkan rahmat dan ampunan kepada mereka di alam kuburnya.
Semoga kita semua senantiasa dibimbing oleh Allah swt untuk menjadi sosok yang terus dapat berbakti kepada kedua orang tua dan tidak melupakan kerabat yang telah meninggal dunia dengan selalu mendoakan dan memohonkan ampun untuk mereka. Amin amin ya rabbal 'alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ؛ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لا شريكَ لَهُ ارْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَ كَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ سَيِّدُ الإِنْسِ وَالبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللَّهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ . وَاعْلَمُوا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ فَقَالَ تعالى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّد وَ عَلَى آل سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ وعلى آل سيدنا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللهم عَنِ الخُلَفَاء الرَّاشِدِيْنَ سَادَاتِنَا اَبِي بَكْرٍ وعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَحَابَةِ والتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِينَ وَ الْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْاِسْلَامَ وَالْمُسْلِمَيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدَّيْنَ وَاخْذّلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنِ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَ إِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُكُمْ وَ لَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ واللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
---------
Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.
Terpopuler
1
Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026 usai Kalahkan Thailand Lewat Adu Penalti
2
Sembilan Hakim MK Diadukan ke MKMK karena Tunjukkan Ijazah Gibran ke Pemohon
3
Kemenag Buka Pelatihan Ekoteologi 2026, Ini Syarat dan Jadwal Pendaftarannya
4
Kemenag Buka Lima Program Non-Degree 2026, Pendaftaran 5-12 Oktober
5
Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid, Pelita Keteladanan Sang Bu Nyai, Ahli Riyadhah, dan Politisi
6
UU Satu Data Indonesia Disahkan, Transfer Data ke Luar Negeri Wajib Persetujuan DPR
Terkini
Lihat Semua