Hikmah

Jangan Gunakan Nasihat Agama untuk Membenarkan Dosa dan Kemaksiatan

Ahad, 13 September 2026 | 19:12 WIB

Jangan Gunakan Nasihat Agama untuk Membenarkan Dosa dan Kemaksiatan

Nasihat Agama (magnific)

"Allah lebih suka tangisan pendosa daripada ahli ibadah yang menyombongkan amal ibadahnya"

 

Nasihat tersebut belakangan viral dan menjadi bahan perbincangan di media sosial. Pasalnya, narasi yang terdengar bijak itu tertulis pada sebuah poster yang ditempel pada salah satu perangkat sound horeg yang tengah menjadi sorotan di tengah masyarakat.


Pesan semacam ini memang memiliki sisi yang benar. Seorang Muslim tidak boleh merasa lebih baik daripada orang lain hanya karena banyak melakukan ibadah. Ketaatan yang disertai ujub dan kesombongan merupakan penyakit hati yang harus dihindari. Sebaliknya, seorang pendosa yang menyadari kesalahannya, menyesal, lalu sungguh-sungguh bertaubat merupakan keadaan yang terpuji.

 

Namun, di zaman sekarang, narasi semacam ini terkadang digunakan untuk menormalisasi kemaksiatan atau merendahkan orang yang berusaha taat, misalnya dipajang dan ditempel di tempat kemaksiatan.

 

Pesan yang kemudian muncul bukan lagi “jangan sombong karena ibadah”, melainkan “lebih baik menjadi pendosa yang tidak sombong daripada menjadi orang taat yang dianggap sok suci”.

 

Pemahaman seperti ini tentu keliru karena menjadikan perbuatan dosa seolah-olah lebih baik daripada ketaatan. Pesannya ditafsirkan secara salah dan keliru. Tidak pada tempatnya. Pun, keluar dari konteks yang benar.

 

Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk memilih kemaksiatan hanya karena khawatir terjatuh pada kesombongan. Yang diperintahkan adalah meninggalkan dosa sekaligus menjauhi kesombongan. Demikian pula, orang yang telah melakukan dosa diperintahkan untuk bertaubat, bukan menjadikan dosanya sebagai alasan untuk tetap berada dalam kemaksiatan.

 

Pemahaman keliru semacam ini menyimpan bahaya besar dalam kehidupan beragama. Sebab, sebuah kalimat yang mengandung kebenaran dapat disalahgunakan untuk membenarkan sesuatu yang batil. Hal ini merupakan bentuk nyata dari apa yang disebut sebagai kalimatul haqq urida bihal bathil, sebuah ungkapan atau kalimat yang secara substansi mengandung kebenaran, namun sengaja dipelintir konteksnya untuk membenarkan sesuatu yang batil atau salah. 


Pola manipulasi narasi semacam ini bukanlah hal baru dalam sejarah Islam. Perilaku serupa pernah diperlihatkan oleh kelompok Khawarij ketika mereka memberontak Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Mereka menggunakan slogan “La hukma illa lillah”, untuk menolak keputusan Sayyidina Ali, dan dalam perkembangan berikutnya, bahkan berencana membunuhnya.

 

Menanggapi hal tersebut, Sayyidina Ali memberikan komentar yang sangat legendaris sebagaimana terekam dalam riwayat Imam Muslim:


هَذِهِ كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيْدُ بِهَا بَاطِلٌ   


Artinya, “Ini adalah kalimat yang benar, namun yang dimaksudkan dengannya adalah kebatilan.” (Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi, al-Jamius Shahih, [Turki, Darul Thaba’ah al-Amirah: 1334 H], jilid III, halaman 116).

 

Peristiwa tersebut memberikan pelajaran penting: benarnya sebuah kalimat tidak selalu berarti benar pula cara seseorang menggunakannya. Sebuah pernyataan bisa benar secara makna, tetapi berubah menjadi alat pembenaran ketika dilepaskan atau dikeluarkan dari konteks dan digunakan untuk mendukung tindakan yang keliru.


Hal serupa dapat terjadi pada narasi tentang “tangisan pendosa” dan “ahli ibadah yang sombong”. Pesan untuk menjauhi kesombongan dalam beribadah merupakan pesan yang benar. Namun, pesan tersebut tidak boleh dipelintir menjadi pembenaran untuk terus melakukan maksiat atau merendahkan orang yang berusaha menjalankan ketaatan. 


Menghindari ujub bukan berarti membenarkan dosa. Bertaubat dari dosa juga bukan berarti harus menjauhi ketaatan karena takut dianggap lebih baik daripada orang lain. Keduanya memiliki tempat dan persoalan yang berbeda.


 

Bahaya pemahaman semacam ini menjadi semakin serius ketika dosa tidak lagi sekadar dilakukan, tetapi mulai dipamerkan, dibanggakan, bahkan dinormalisasi di ruang publik. Ketika kemaksiatan dibungkus dengan potongan nasihat agama yang benar, yang muncul bukan lagi sekadar kesalahan perilaku, melainkan pembenaran moral terhadap perilaku tersebut.


 

Jika dibiarkan, narasi semacam ini berpotensi menyebarkan virus buruk: sesuatu yang semestinya membuat seseorang malu dan bertobat justru diperlakukan sebagai hal yang wajar, bahkan dibanggakan.

 

Allah swt memperingati orang-orang yang senang dan bangga terhadap berbuatan buruk dalam Al-Qur’an:

 

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَفْرَحُوْنَ بِمَآ اَتَوْا وَّيُحِبُّوْنَ اَنْ يُّحْمَدُوْا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوْا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ 

 

Artinya: “Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa (perbuatan buruk) yang telah mereka kerjakan dan suka dipuji atas perbuatan (yang mereka anggap baik) yang tidak mereka lakukan, kamu jangan sekali-kali mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih." (Qs. Ali Imran:188)

 

Rasulullah saw juga mengingatkan bahwa bangga terhadap dosa secara terang-terangan merupakan bentuk perbuatan tercela. Dalam sebuah hadits disebutkan:

 

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ 

 

Artinya: “Seluruh umatku akan mendapatkan ampunan, kecuali Mujahirin (yaitu orang yang terang-terangan berbuat dosa). Termasuk dari perilaku Mujahirin adalah seseorang yang berbuat dosa di malam hari yang telah ditutupi Allah, kemudian di pagi hari ia berkata kepada orang lain “Wahai fulan, aku telah melakukan ini dan itu di malam hari”. Allah telah menutupi perbuatan dosanya, tetapi ia mengungkapkan apa yang telah ditutupi Allah.” (HR. Bukhari)

 

Pelajaran penting dari persoalan ini adalah agar kita tidak mudah terjebak pada potongan nasihat yang terdengar indah, tetapi memahami pesan agama secara utuh. Kalimat yang benar tetap harus ditempatkan dalam konteks yang benar. Jangan sampai nasihat untuk menghindari kesombongan dalam beribadah justru berubah fungsi menjadi pembenaran terhadap kemaksiatan.


Kita juga perlu membedakan antara orang yang sedang berjuang meninggalkan dosa dan orang yang dengan sengaja membanggakan serta menormalisasi dosa. Orang yang terjatuh dalam kemaksiatan tetap harus dirangkul, dinasihati, dan diarahkan kepada taubat. Ia tidak boleh dipandang tanpa harapan. Namun, merangkul pelaku dosa tidak berarti membenarkan perbuatannya.


Begitu pula dengan orang yang berusaha taat. Jika ada yang beribadah dengan kesombongan, kesombongannya memang harus diingatkan. Tetapi jangan karena sebagian orang gagal menjaga hati dalam ketaatan, lantas ketaatan itu sendiri dicurigai. Mengkritik kesombongan adalah satu hal; merendahkan ketaatan adalah hal yang lain.

 

Di ruang publik, termasuk melalui poster, konten media sosial, maupun berbagai bentuk hiburan, pesan keagamaan memiliki pengaruh dalam membentuk cara masyarakat memandang baik dan buruk. Karena itu, kita perlu lebih bertanggung jawab, baik dalam menyampaikan maupun menerima sebuah nasihat.


Jangan hanya bertanya, “Apakah kalimat ini terdengar bijak?” Tanyakan pula: Dari mana kalimat ini berasal? Apa maksudnya? Dalam konteks apa ia disampaikan? Dan untuk apa kalimat ini digunakan?

 

Sebab, tidak semua kalimat yang terdengar menyejukkan akan membawa kepada kebaikan ketika dipahami secara serampangan. Bahkan, kalimat yang benar sekalipun dapat disalahgunakan untuk membela sesuatu yang salah.

 

Karena itu, jangan jadikan nasihat agama sebagai tameng kemaksiatan. Jangan gunakan celaan terhadap kesombongan orang lain untuk membenarkan dosa diri sendiri. Dan jangan pula merendahkan ketaatan hanya karena takut dianggap lebih suci.

 

Yang harus ditinggalkan adalah kesombongan dan kemaksiatan. Yang harus dijaga adalah ketaatan dan keikhlasan. Sedangkan ketika seseorang terjatuh dalam dosa, pintu yang semestinya ditunjukkan kepadanya bukan pembenaran, melainkan pintu tobat. Wallahu a’lam.

 

--------------
Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan