Alhafiz Kurniawan
Penulis
Imam Al-Ghazali di dalam Kitab Ihya Ulumiddin mengutip cerita Wahab bin Munabbih, salah seorang ulama di zaman Tabiโin, perihal keutamaan menahan marah dan mengendalikan diri ketika marah.
Wahab bin Munabbih yang juga pakar sejarah itu menceritakan suatu zaman tersebut seorang rahib yang tidak lepas dari rumah ibadah. Ia sangat tekun beribadah kepada Allah di rumah ibadah tersebut. Pendeta tersebut merupakan pemuka agama yang sangat terkenal sebagai orang yang taat beragama di masyarakat.
Setan kemudian mendekatinya. Setan ingin menyesatkan dan menjerumuskan rahib tersebut dari jalan ibadahnya. Ia mencoba berbagai cara. Ia pun kemudian gagal. Setan tidak mampu menggelincirkan rahib tersebut karena ketaatannya yang luar biasa.
Setan kemudian menyerah. Ia mendatangi rahib tersebut dengan jalan yang sopan dan terang-terangan. Ia kemudian mengetuk pintu rumah ibadah rahib dan memanggilnya dari luar.
โWahai rahib, tolong bukakan pintu,โ kata setan.
Ketika itu tidak jawaban. Tetapi setan dengan maksud baik kembali mengetuk pintunya.
โWahai rahib, tolong bukakan pintu, jika kupergi maka kau akan menyesal,โ kata setan di luar.
Rahib pun tidak mempedulikan suara tamunya.
โAku adalah Al-Masih,โ kata setan.
โKalau kau Al-Masih, apa yang harus kulakukan? Bukankah Al-Masih memerintahkan kami untuk tekun beribadah dan menjanjikan kami keselamatan di Hari Kiamat? Kalau kau mendatangi kami hari ini untuk mengajarkan selain itu, kami tidak akan menerimanya,โ jawab rahib dari dalam.
โAku adalah setan, aku datang untuk melayani pertanyaanmu. Bertanyalah. Apapun pertanyaanmu, akan kujawab,โ kata setan dengan tulus.
โTidak, aku tidak ada pertanyaan untukmu,โ jawab rahib.
Wahab bin Munabbih mengatakan, setan itu pun kemudian berbalik badan untuk meninggalkan pekarangan rumah ibadah tersebut. Tetapi beberapa langkah setan meninggalkan pintu, ia mendengar suara pintu dan segera ia menghentikan langkahnya.ย
โTunggu, coba kau dengar,โ kata suara dari dalam rumah ibadah tersebut.
โYa,โ jawab setan dengan gembiranya.
โKabari aku, akhlak apa dari anak Adam yang membantumu dalam menaklukkan mereka?โ
โKetika mereka menjadi keras karena marah. Ketika manusia menjadi keras seperti besi, maka kami justru mudah mempermainkan hati dan pikirannya seperti anak-anak mempermainkan bola,โ jawab setan.
*
Suatu hari Dzulqarnain bercerita bahwa ia bertemu malaikat. Kepada malaikat itu, ia meminta diajarkan sebuah ilmu yang dapat menambah ilmu dan keyakinannya kepada Allah.
Malaikat itu berpesan, โJangan marah. Setan paling mudah mengendalikan manusia ketika mereka marah. Tahan kemarahan dan bersikaplah dengan tenang. Jangan juga tergesa-gesa dalam bertindak atau mengambil putusan. Ketika tergesa, kau akan kehilangan bagianmu. Bersikaplah sebagai orang yang ringan dan lembut kepada kerabat maupun orang lain. Jangan kau bersikap arogan dan keras.โ
Demikian cerita Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz III, halaman 171, yang dikutip dari Wahab bin Munabbih perihal keutamaan mengendalikan diri ketika marah. Wallahu aโlam.
Alhafiz Kurniawan, Redaktur Keislaman NU Online
Terpopuler
1
Besok Rebo Wekasan, Berikut Amalan dan Doa yang Dianjurkan
2
Masyarakat Adat Kalimantan Timur Ungkap Penolakan Proyek Karbon Bank Dunia
3
Khutbah Jumat: Makna Kemerdekaan yang Hakiki dalam Islam
4
Innalillah, Sesepuh Buntet Pesantren KH Hasanuddin Kriyani Wafat
5
Khutbah Jumat: Hindari Kemaksiatan dalam Perayaan Kemerdekaan
6
Gus Yahya Lepas Jenazah KH Hasanuddin Kriyani di RSPAD, Kenang sebagai Panutan Umat
Terkini
Lihat Semua