Hikmah

Kisah Sahabat Nabi yang Membalas Pengkhianatan dengan Akhlak Mulia

Senin, 15 Juni 2026 | 06:30 WIB

Kisah Sahabat Nabi yang Membalas Pengkhianatan dengan Akhlak Mulia

Ilustrasi lafaz sahabat.

Tahun ketiga Hijriah adalah masa-masa berat bagi kaum Muslimin. Luka kekalahan di Perang Uhud belum lagi sembuh, sementara musuh-musuh Islam tak berhenti mencari cara untuk melemahkan dakwah Rasulullah.


Pada saat itu, datanglah utusan dari kabilah 'Udhal dan Qarah untuk menemui Rasulullah. Mereka mengaku kabar Islam sudah sampai ke kampung mereka, dan mereka membutuhkan seseorang yang bisa mengajarkannya. Rasulullah pun mengutus beberapa sahabat, di antaranya Martsad bin Abi Martsad, Khalid bin Bakir, Ashim bin Tsabit, Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsnah, dan Abdullah bin Thariq radhiyallahu 'anhum, dengan Ashim bin Tsabit ra. sebagai pemimpin rombongan.


Imam Bukhari meriwayatkan dari jalur Abu Hurairah RA, bahwa rombongan ini berangkat hingga sampai di antara Usfan dan Makkah. Di sana, mereka terlihat oleh penduduk kampung dari suku Hudzail yang bernama Bani Lihyan.

 

Sekitar seratus pemanah dari kabilah itu lantas membuntuti jejak para sahabat. Mereka menemukan biji kurma Madinah yang tertinggal di tempat persinggahan dan langsung mengenali, "Ini kurma dari Yatsrib (Madinah)." Dari situlah mereka melacak dan akhirnya menemukan rombongan kecil tersebut.


Pengejaran terus berlanjut sampai para sahabat berhasil disergap dan dikepung di sebuah tempat bernama Fadfad. Dalam keadaan terkepung, orang-orang musyrik menawarkan kesepakatan, "Turunlah dan menyerahlah. Kami berjanji tidak akan membunuh seorang pun di antara kalian."


Namun Ashim menjawab dengan tegas, "Aku tidak sudi berada di bawah jaminan orang kafir. Ya Allah, sampaikanlah kepada Nabi-Mu apa yang terjadi kepada kami."


Pertempuran yang sangat tidak seimbang pun terjadi. Segelintir sahabat melawan hampir seratus pemanah musyrik. Mereka bertahan dengan keberanian luar biasa hingga akhirnya Ashim bin Tsabit ra. dan beberapa sahabat lain gugur sebagai syuhada.


Tersisa tiga orang yang masih hidup, mereka Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsnah, dan satu sahabat lagi (ada pendapat yang menyebutnya sebagai Abdullah bin Thariq). Karena tidak ada lagi peluang untuk melawan, ketiganya menerima tawaran untuk menyerah dan tangan mereka diikat.


Namun, belum lama berjalan, sahabat ketiga tiba-tiba berseru, "Inilah pengkhianatan pertama!" Ia berusaha melepaskan diri dari ikatan dan menolak untuk ikut bersama para musyrikin. Meski dipaksa berjalan, ia tetap menolak, hingga akhirnya orang-orang musyrik membunuhnya di tempat.


Tinggallah Khubaib dan Zaid sebagai tawanan. Keduanya dibawa ke Makkah dan dijual. Khubaib dibeli oleh keluarga Bani Harits, karena dalam Perang Badar ia pernah membunuh Harits. Keluarga itu menyimpan dendam dan menanti waktu yang tepat untuk mengeksekusinya.


Justru di masa penahanan inilah akhlak mulia Khubaib ra. terlihat jelas. Suatu hari, ia meminjam pisau cukur dari salah seorang perempuan dari keluarga yang menahannya. Saat pisau itu masih di tangannya, tiba-tiba seorang anak kecil perempuan berjalan tertatih-tatih menghampirinya. Tanpa ragu, Khubaib mendudukkan anak itu di pangkuannya.


Sang ibu yang melihat kejadian itu langsung diliputi ketakutan. Bagaimana tidak, anaknya berada di pangkuan seorang tawanan yang sebentar lagi akan dieksekusi, sementara di tangan tawanan itu ada sebilah pisau tajam.


Khubaib memahami kekhawatiran tersebut. Dengan tenang ia berkata, "Apakah engkau takut aku akan membunuh anak ini? Insya Allah, aku tidak akan melakukan itu."


Belakangan, perempuan itu mengakui, "Sungguh, aku tidak pernah melihat seorang tawanan yang lebih baik daripada Khubaib."

 

Ia juga menceritakan sesuatu yang menakjubkan. Berkali-kali ia melihat Khubaib memakan setandan anggur segar, padahal saat itu di Makkah sama sekali tidak ada buah anggur, terlebih Khubaib sedang terbelenggu rantai besi. Perempuan itu yakin, makanan tersebut adalah rezeki khusus yang Allah anugerahkan kepadanya.


Hari eksekusi pun tiba. Khubaib digiring ke tempat ia akan dibunuh. Namun, sebelum itu, ia mengajukan satu permintaan, "Izinkan aku melaksanakan shalat dua rakaat." Permintaan itu dikabulkan.


Dengan penuh ketenangan, Khubaib berdiri menghadap Allah dan melaksanakan dua rakaat shalat. Setelah selesai, ia berkata, "Seandainya aku tidak khawatir kalian mengira aku takut mati, niscaya aku akan menambahnya."


Sejak itu, para ulama menyebut Khubaib sebagai sahabat yang pertama kali mencontohkan shalat dua rakaat sebelum dieksekusi. Menjelang syahid, ia melantunkan syair yang menggambarkan keteguhan imannya:


وَلَسْتُ أُبَالِي حِينَ أُقْتَلُ مُسْلِمًا ۞ عَلَى أَيِّ شِقٍّ كَانَ فِي اللَّهِ مَصْرَعِي

وَذَلِكَ فِي ذَاتِ الْإِلَهِ وَإِنْ يَشَأْ ۞ يُبَارِكْ عَلَى أَوْصَالِ شِلْوٍ مُمَزَّعِ


Artinya, "Aku tidak peduli dibunuh dalam keadaan Muslim, bagaimanapun caranya, karena hanya kepada Allah tempat kembaliku. Semua itu demi Allah. Jika Dia menghendaki, Dia akan melimpahkan keberkahan kepada tubuh yang terbunuh ini."


Tak lama setelah itu, Uqbah bin Harits maju dan menghabisi nyawa Khubaib RA. Di sisi lain, kaum Quraisy juga ingin memastikan kematian Ashim bin Tsabit RA. Mereka mengirim seseorang untuk mengambil bagian dari tubuhnya sebagai bukti, karena Ashim pernah membunuh salah satu pembesar mereka dalam Perang Badar.

 

Namun, Allah menjaga kehormatan sahabat-Nya. Ribuan lebah kumbang mengerumuni jasad Ashim sehingga tak seorang pun berani mendekat. Orang-orang Quraisy pun pulang dengan tangan kosong.


Beberapa waktu kemudian, Rasulullah mengutus Umayyah, kakek Ja'far, untuk mencari jenazah Khubaib. Dengan penuh kewaspadaan, ia berhasil mencapai lokasi dan menurunkan tubuh Khubaib dari tiang eksekusi. Namun, sebuah kejadian luar biasa terjadi: begitu ia menoleh sesaat, jasad Khubaib sudah lenyap. Seolah bumi menelannya begitu saja, dan jasadnya tidak pernah ditemukan hingga sekarang.


Demikianlah kisah singkat tragedi syuhada Ar-Raji', para sahabat yang berangkat membawa ilmu dan dakwah, namun justru menghadapi pengkhianatan dan kematian. Di tengah tragedi itu, tersimpan banyak pelajaran berharga.


Syekh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi menjelaskan bahwa peristiwa ini menampilkan gambaran umat Islam yang sangat indah, kontras dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Umat Islam rela mengorbankan jiwa dan raga menghadapi berbagai bentuk pengkhianatan di jalan dakwah.


Bayangkan, Khubaib ditangkap, ditawan di kediaman Bani Harits, lalu akan dibunuh. Ketika ia memegang sebilah pisau cukur dan didekati seorang anak kecil yang lepas dari pengawasan ibunya, sebenarnya ia punya peluang besar untuk menyandera anak itu demi menyelamatkan diri, atau bahkan membalas dendam, seperti yang dikhawatirkan seisi rumah Bani Harits saat itu. Pengkhianatan dibalas dengan pengkhianatan, begitu logika dunia.


Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Sang ibu yang awalnya ketakutan anaknya akan dibunuh atau disandera, malah dibuat tercengang, karena sahabat Rasulullah Saw. ini membiarkan anaknya bermain, bahkan mengajaknya bercanda seperti seorang ayah yang penyayang. Melihat ketakutan sang ibu, Khubaib berkata lembut, "Apakah engkau takut aku akan membunuhnya? Insya Allah, aku tidak akan melakukan hal itu."


Begitulah hasil pendidikan Islam dalam diri Khubaib ra. Di tengah orang-orang musyrik pendengki yang siap mencabut nyawanya dengan cara zalim, para durjana Arab yang tumbuh di tanah air yang sama, di bawah tradisi dan kebiasaan yang sama, Khubaib justru tumbuh menjadi sosok yang sama sekali berbeda setelah dididik dengan ajaran Islam.

 

Ia benar-benar berbeda dari orang-orang musyrik yang terus tenggelam dalam kesesatan. Begitulah Islam membentuk karakter manusia: tumbuh di tanah dan tradisi yang sama, namun hasilnya bisa sangat kontras. (Lihat: Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Fiqhus Sirah, [Damaskus, Darul Fikr: 1426 H, cetakan kelima], halaman 188).


Kisah Khubaib mengajarkan kita bahwa kemuliaan akhlak seseorang tidak diukur dari bagaimana ia diperlakukan, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan orang lain, bahkan dalam kondisi paling terjepit sekalipun. Di ujung maut, dengan pisau di tangan dan nyawa di ambang kematian, Khubaib memilih kasih sayang di atas dendam, ketenangan di atas amarah, dan keteguhan iman di atas rasa takut. 


Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa ajaran Islam yang sejati selalu melahirkan pribadi-pribadi mulia yang mampu membalas pengkhianatan dengan kebaikan, dan kebencian dengan kelembutan. Semoga kita pun diberikan keteguhan iman seperti mereka, dan diberi keberkahan untuk meneladani akhlak mulia mereka dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a'lam.


Ustadz Muhamad Hanif Rahman, Dosen Ma'had Aly Al-Iman Bulus dan Pengurus LBM NU Purworejo