Nasional

Direktur NU Online Hamzah Sahal Ulas Pemikiran Asrul Sani "Seni Tidak untuk Seni"

Jumat, 12 Juni 2026 | 07:30 WIB

Direktur NU Online Hamzah Sahal Ulas Pemikiran Asrul Sani "Seni Tidak untuk Seni"

Direktur NU Online Hamzah Sahal mengulas Asrul Sani (Foto: NU Online)

Jakarta, NU Online

Pada momentum 100 Tahun Asrul Sani, Direktur NU Online, Hamzah Sahal, mengatakan bahwa pemikiran menarik dari Asrul Sani salah satunya ialah "seni tidak untuk seni".

 

"Salah satu yang kita ingat dari pikiran-pikiran Asrul Sani itu adalah salah satunya "seni tidak untuk seni". Jadi seni untuk kemanusiaan, seni untuk ketuhanan, dan lain-lain," ungkapnya dalam unggahan Instagram NU Online, Kamis (11/6/2026).

 

Menurut Hamzah, hal tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa, sebab karya memang tidak bisa dilepaskan dari situasi lingkungan hingga situasi kemanusiaan.​​​​​​

 

Selain prinsip keseniannya yang mendalam, nama Asrul Sani juga abadi dalam sejarah sastra Indonesia sebagai bagian dari trio legendaris Angkatan '45. Bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar, ia tergabung dalam "Tiga Menguak Takdir" yang melahirkan Surat Kepercayaan Gelanggang.


​"Salah satu isinya tentang bahwa Indonesia ini adalah warisan dari peradaban dunia. Ini artinya adalah kosmopolitanisme kebudayaan Indonesia. Kita tidak tertutup terhadap budaya lain, justru bagian dari budaya dunia," papar Hamzah.

 


Lebih lanjut, Hamzah mengulas sisi personal Asrul Sani yang memiliki kedekatan batin luar biasa dengan Nahdlatul Ulama (NU). Bersama Jamaluddin Malik dan Usmar Ismail, Asrul Sani diberi amanat besar untuk menakhodai Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU.

 

Meski sebagian orang sempat meragukan ke-NU-annya karena latar belakangnya sebagai orang Minang, Hamzah menegaskan bahwa Asrul Sani adalah sosok yang sangat mengapresiasi wilayah keagamaan. Hal itu ia buktikan melalui karya-karyanya, termasuk menyutradarai film-film bernuansa keislaman seperti Tauhid.

 


Hubungan erat Asrul Sani dengan NU juga dikonfirmasi langsung oleh sang mantan istri, Mutiara Sani. Kepada Hamzah, Mutiara menceritakan bahwa NU sudah menjadi bagian dari ruang domestik kehidupan suaminya.


​"Mutiara Sani selalu bercerita bahwa Asrul Sani itu suaminya selalu bercerita tentang NU. Di meja makan bercerita tentang NU, ada tamu bercerita tentang NU. Jadi ada hubungan personal dan emosional, bukan hanya institusi," jelasnya.


Saking dekatnya dengan kultur hijau, Asrul Sani yang sempat menjadi anggota DPR dari Partai NU ini memiliki hubungan yang sangat karib dengan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bahkan, nama anak pertamanya, Syauqi Asrul Sani, merupakan pemberian langsung dari Gus Dur atas permintaan Asrul sendiri.​​​​​​

 

Fakta menarik lain yang diungkapkan Hamzah adalah peran besar Asrul Sani di balik lahirnya buku legendaris karya K.H. Saifuddin Zuhri yang berjudul Guruku Orang-orang Pesantren.

 

Buku tersebut awalnya direncanakan sebagai otobiografi K.H. Saifuddin Zuhri atas usulan Asrul Sani. Namun, karena kerendahan hati sang kiai yang enggan menulis tentang dirinya sendiri, buku itu akhirnya ditulis dengan menceritakan kisah guru-guru dan perjalanan hidupnya.


​"Kita lihat betapa dekatnya Asrul Sani. Jadi tidak seperti orang yang profesional masuk lalu keluar lagi, tidak. Jadi sangat menjiwai. Pikiran, nuansa batin, hubungan personal antar orang-orang NU itu sangat dekat," tuturnya.

 

Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan kekaryaan tersebut, NU Online sempat menginisiasi sebuah penghargaan bernama Hadiah Asrul Sani (Asrul Sani Award). Hamzah berharap, ruang apresiasi bagi para seniman ini dapat kembali dihidupkan di masa mendatang.


​"Mudah-mudahan pasca muktamar nanti, Hadiah Asrul Sani itu bisa diteruskan lagi sebagai sebuah penghargaan untuk seniman-seniman atas kekaryaannya," pungkas Hamzah.


Mengutip dari Ensiklopedia NU, Asrul Sani lahir di Rao, Pasaman, Sumatra Barat, pada 10 Juni 1927. Menariknya, ia memiliki latar belakang pendidikan yang beragam. Mulai dari sekolah agama Dar al-Asr, kuliah di Fakultas Kehewanan Universitas Indonesia (sekarang IPB), hingga mendalami seni drama di Belanda serta sinematografi di University of Southern California, Amerika Serikat.

 

​Di dunia seni, kiprahnya tercatat lewat penulisan skenario film Lewat Jam Malam, serta penyutradaraan film Naga Bonar dan Apa yang Kau Cari Palupi yang meraih penghargaan Film Terbaik di Festival Film Asia 1971. Sepanjang kariernya, penerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama tahun 2000 ini berhasil memenangkan enam Piala Citra.

 

​Jejak tersebut berjalan beriringan dengan khidmahnya di Nahdlatul Ulama. Asrul Sani tercatat pernah mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) pada tahun 1962. Melalui wadah inilah, ia kemudian masuk ke politik praktis dan menjadi anggota DPRGR/MPRS hingga DPR RI mewakili NU.