Nasional

Formula Singkong-APP BRIN Pangkas Penggunaan Air Pemadaman Karhutla hingga 46 Persen

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Formula Singkong-APP BRIN Pangkas Penggunaan Air Pemadaman Karhutla hingga 46 Persen

Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN Julinton Sianturi dalam Diskusi Sains di Balik Karhutla gambut dan Teknologi di Jakarta, Sabtu (10/10/2026). (Panitia)

Jakarta, NU Online

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan formula berbasis singkong untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di lahan gambut.

 

Formula yang memadukan pati singkong dan amonium polifosfat (APP) ini dinilai lebih efektif dibandingkan dengan air biasa karena mampu membentuk lapisan pelindung yang menghambat pembakaran.

 

Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Julinton Sianturi, mengungkapkan bahwa penggunaan air untuk memadamkan karhutla di lahan gambut menghadapi kendala akibat tingginya suhu api yang dapat mencapai lebih dari 500 derajat Celsius. Sementara itu, air mendidih dan menguap pada suhu 100 derajat Celsius.

 

“Kebakaran pada lahan gambut dapat merambat di bawah permukaan dan menyisakan panas. Artinya, ketika kita memasukkan air, air mendidih pada suhu berapa? Suhu 100 (derajat). Itu sudah kalah. Berarti sebelum menyentuh (tanah), air sudah menguap. Ini yang menjadi permasalahan dalam pemadaman menggunakan air,” ujarnya dalam Diskusi Sains di Balik Karhutla Gambut dan Teknologi di Jakarta, Sabtu (10/10/2026).

 

Ia mengatakan perbedaan suhu tersebut membuat penyemprotan air menjadi boros dan kurang efisien. Air dapat menguap sebelum mencapai sumber bara, terutama pada kebakaran gambut yang merambat di bawah permukaan tanah.

 

Untuk mengatasi persoalan tersebut, BRIN memadukan pati (starch) yang diekstrak dari singkong dengan senyawa amonium polifosfat (APP). Kombinasi tersebut dirancang untuk bereaksi ketika bersentuhan dengan api bersuhu tinggi.

 

Julinton menjelaskan bahwa saat terpapar panas, amonium polifosfat mengalami dekomposisi dan berinteraksi dengan molekul pati singkong. Reaksi tersebut menghasilkan lapisan isolator tebal yang disebut char atau arang.

 

“Ini namanya char, yang dihasilkan dari proses reaksi ini, yang mampu menghambat perpindahan panas, menghalangi oksigen dan memutus akses oksigen. Jadi, ketika api itu tadi naik, ketika kami semprotkan itu (Singkong-APP), api langsung tertutup, seperti terselimuti. Nah, itulah pendekatan yang kita lakukan,” ujarnya.

 

Ia mengatakan lapisan tersebut bekerja dengan menghambat perpindahan panas sekaligus membatasi pasokan oksigen. Dengan demikian, proses pembakaran yang memicu rambatan api dari bawah tanah menuju permukaan dapat diputus.

 

Efektivitas formula tersebut terlihat dari hasil pengujian. Julinton mengatakan bahwa untuk memadamkan api dalam pengujian yang sama, penggunaan air biasa membutuhkan 120 liter, sedangkan media Singkong-APP hanya memerlukan 65 liter.

 

Dari sisi waktu, media Singkong-APP membutuhkan 15 menit untuk memadamkan api. Sementara itu, pemadaman menggunakan air biasa memerlukan waktu 23 menit 35 detik.

 

“Penggunaan medianya (Singkong-APP) sekitar 46 persen lebih sedikit daripada penggunaan air,” ujar Julinton.