Kerugian Terbesar Seorang Muslim: Punya Waktu Luang tapi Tak Mendekat kepada Allah
Ahad, 22 Maret 2026 | 22:03 WIB
Jakarta, NU Online
Kerugian terbesar dalam hidup seorang Muslim bukanlah kehilangan harta, melainkan ketika tidak memanfaatkan waktunya untuk mendekat kepada Allah.
Demikian salah satu pesan yang diulas Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).
Gus Mus menerangkan bahwa dalam istilah tasawuf, kerugian (khidzlan) adalah kondisi ketika seseorang tidak memperoleh apa-apa dari hidupnya. Bahkan, kerugian yang paling nyata terjadi saat seseorang memiliki waktu luang, tetapi tidak mengarahkannya untuk beribadah dan mendekat kepada Allah.
“Kerugian yang paling besar adalah ketika seseorang kosong dari kesibukan, tetapi tidak mengarahkan dirinya kepada Allah,” ujarnya sebagaimana dalam tayangan di akun Youtube NU Online, diakses pada Ahad (22/3/2026).
Gus Mus menuturkan bahwa dalam ajaran tasawuf, tujuan akhir kehidupan manusia adalah Allah. Seluruh perjalanan spiritual (suluk) pada hakikatnya merupakan proses menuju kepada-Nya.
Karena itu, ia menilai waktu luang seharusnya menjadi kesempatan emas untuk meningkatkan kedekatan spiritual. Sebaliknya, jika waktu tersebut diabaikan, maka hal itu menjadi kerugian yang sangat besar.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan orang-orang yang sibuk mencari nafkah, seperti pedagang atau nelayan, yang memiliki keterbatasan waktu untuk beribadah. Meski demikian, banyak di antara mereka tetap berupaya menjalankan amalan seperti salat dhuha dan tahajud.
“Namun, jika ada orang yang tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki kesibukan, tetapi tetap tidak menggunakan waktunya untuk mendekat kepada Allah, maka itu adalah kerugian yang sangat besar,” tegasnya.
Gus Mus juga menjelaskan bahwa kondisi hidup manusia berbeda-beda sesuai dengan karunia Allah. Ada yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, sementara yang lain telah tercukupi tanpa harus bersusah payah, misalnya karena memiliki warisan atau sumber penghasilan yang sudah berjalan.
Namun demikian, ia menekankan bahwa kemudahan hidup tersebut sejatinya merupakan peluang untuk lebih fokus beribadah. Jika kesempatan itu tidak dimanfaatkan, maka seseorang termasuk dalam golongan yang merugi.
“Seolah-olah Allah telah memudahkan hidupnya agar ia bisa mendekat kepada-Nya. Tetapi jika tetap tidak dilakukan, maka itu adalah kelalaian yang besar,” ungkapnya dalam pengajian yang membahas Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athailah As-Sakandari itu.
Baca Juga
Manfaatkan Waktu untuk Kebaikan
Lebih lanjut, Gus Mus mengibaratkan perjalanan spiritual seperti seseorang yang hendak berangkat menuju suatu tujuan. Biasanya, seseorang tidak berangkat karena adanya hambatan. Namun, jika semua sarana telah tersedia dan tidak ada hambatan, tetapi tetap tidak berangkat, maka itulah bentuk kerugian yang paling nyata.
“Yang dimaksud berangkat di sini adalah bergerak menuju Allah,” jelasnya.