Nasional

Yenny Wahid Soroti Fenomena Pengantin Pesanan: Anak Perempuan Jadi Korban Perdagangan Manusia

Jumat, 3 April 2026 | 09:00 WIB

Yenny Wahid Soroti Fenomena Pengantin Pesanan: Anak Perempuan Jadi Korban Perdagangan Manusia

Yenny Wahid saat menyampaikan keterangan pers kepada awak media usai acara Halal Bihalal dan Silaturahmi Kebangsaan Perempuan Indonesia di kediaman Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Ciganjur, Jakarta Selatan, pada Kamis (2/4/2026). (Foto: NU Online/Jannah)

Jakarta, NU Online

Direktur Wahid Foundation Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid) menyoroti fenomena pesanan pengantin yang membuat anak perempuan jadi korban perdagangan manusia.


Ia menyebut fenomena ini masih terjadi di Indonesia dengan menyasar keluarga tidak mampu.


“Biasanya orang tua menerima bayaran dari pihak luar negeri yang memesan pengantin. Anak perempuan dijanjikan akan dinikahi, tetapi ketika dibawa ke luar negeri kita tidak tahu apakah benar menjadi istri atau justru masuk sindikat perdagangan manusia,” ujar Yenny saat ditemui NU Online di Kediamannya, Ciganjur, Jakarta, pada Kamis (2/4/2026).


Yenny menegaskan tantangan perempuan Indonesia saat ini bukan hanya soal pendidikan dan kesetaraan, tetapi juga ancaman kejahatan modern.


Ia menilai generasi muda, khususnya perempuan, memiliki peran penting untuk mengedukasi masyarakat agar tidak terjebak penipuan online, judi daring, maupun pinjaman ilegal.


Dalam pernyataannya, Yenny juga mengaitkan hal ini dengan semangat Hari Kartini. Menurutnya, Hari Kartini adalah simbol perjuangan pendidikan, kesetaraan, dan pemberdayaan. Nilai-nilai tersebut masih sangat dibutuhkan untuk memperkuat masyarakat.


“Generasi muda perempuan Indonesia saat ini memiliki lebih banyak privilege dibandingkan Kartini zaman dulu. Karena itu, mereka diharapkan bisa menyumbangkan keahliannya untuk melanjutkan cita-cita Kartini, memajukan pendidikan, sekaligus melindungi masyarakat dari jebakan kriminal berbasis teknologi," tegasnya.


Yenny Wahid menegaskan bahwa kekuatan perempuan tidak boleh di remehkan, perempuan untuk bisa berdaya, perempuan harus bersatu dan menyuarakan aspirasinya.


“Perempuan-perempuan seluruh dunia, apalagi di Indonesia, harus berkumpul untuk bersama-sama menyambungkan energi. jangan pernah meremehkan peran perempuan dalam mengubah dan membentuk peradaban di dunia Untuk bisa berdaya, perempuan harus berkumpul, perempuan harus berserikat, perempuan harus berbicara,” tegasnya.


Senada, Sekjen Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Tantri Dyah Kiranadewi menyampaikan bahwa semangat Raden Ajeng Kartini harus terus hidup dalam langkah perempuan Indonesia.


Ia menekankan bahwa setiap tahun perempuan selalu berkontribusi bagi bangsa untuk memperkuat posisi perempuan di berbagai bidang.


“Perempuan Indonesia akan terus maju, melangkah lebih cepat, dan bersama-sama hand in hand, asah asih asuh untuk mengedepankan peran perempuan dalam kondisi global saat ini. Perjuangan perempuan tidak berhenti pada Ibu Kartini, tetapi terus berlanjut hingga kini dari barat sampai timur negeri,” ujarnya.


Kontributor: Ahmad Syafiq S