Bulan Ramadhan sebagai bulan istimewa penuh berkah dan ampunan sering kali hanya menjadi euforia sesaat saja. Di awal Ramadhan, semangat ibadah kita menggebu-gebu. Masjid penuh, tadarus Al-Qur’an terdengar di mana-mana, sedekah mengalir dengan lancar, ibadah sunnah terlaksana dengan lengkap, dan kebaikan-kebaikan lainnya.
Namun, ironisnya, ketika Ramadhan sudah sampai pada pertengahan, semangat itu mulai hilang. Amalan ibadah dan kebaikan yang awalnya terlaksana dengan rutin sudah mulai terlupakan, ibadah sunnah dan sedekah mulai terabaikan, dan semangat tadarus Al-Qur’an mulai terasa seperti beban sehingga ditinggalkan.
Atau ada juga sebagian orang yang berhasil menjaga konsistensinya selama bulan Ramadhan dalam menjalankan ibadah dan melakukan kebajikan, tetapi setelah Ramadhan selesai? Konsistensi itu tiba-tiba hilang, dan yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan yang pernah dilakukan selama bulan puasa.
Dalam kondisi seperti inilah, menjadi penting bagi kita untuk kembali membahas hakikat istiqamah dalam beragama. Perlu kita ketahui bahwa istiqamah bukanlah tentang menjaga semangat tinggi di saat-saat tertentu saja, tetapi tentang senantiasa mempertahankan ketaatan dalam kondisi dan keadaan apa pun.
Lantas, apa yang akan didapatkan oleh orang-orang yang mampu istiqamah? Allah SWT telah menjanjikan balasan yang sangat istimewa bagi mereka, yaitu surga yang penuh dengan kenikmatan abadi di dalamnya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu’.” (QS. Fushshilat: 30).
Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah kemudian beristiqamah akan mendapatkan jaminan keamanan dan kebahagiaan dari Allah SWT. Istiqamah secara sederhana dapat diartikan sebagai keteguhan hati dalam beriman dan berislam, serta konsisten dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dalam kondisi apa pun.
Lantas, apakah istiqamah itu harus diwujudkan dengan perbuatan dan amal yang banyak, sehingga kita harus memaksakan diri untuk melakukan berbagai macam ibadah dan kebaikan sekaligus? Ataukah istiqamah itu bisa diwujudkan dengan amalan-amalan kecil saja, asalkan dilakukan secara terus-menerus dan konsisten? Mari kita bahas.
Lebih Baik Sedikit tapi Istiqamah
Perlu kita ketahui bersama bahwa hakikat istiqamah tidak terletak pada sedikit atau banyaknya suatu amal ibadah, melainkan pada konsistensi dalam menjaganya. Dalam Islam, amal yang kecil tidak menjadi hina selama ia dilakukan secara terus-menerus. Sebaliknya, amal yang besar dan banyak bisa kehilangan nilainya jika hanya dilakukan sesaat lalu ditinggalkan. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya, “Perbuatan baik yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling konsisten (istiqamah) meskipun sedikit.” (HR Muslim).
Alasan mengapa amal yang dilakukan secara istiqamah itu lebih utama dibandingkan ibadah yang banyak tetapi tidak istiqamah adalah karena dengan amal yang terus dijaga, ketaatan kepada Allah tetap hidup dari hari ke hari. Berbeda dengan amal yang banyak tetapi dilakukan sesekali, sering kali ia justru melelahkan, memberatkan jiwa, dan pada akhirnya ditinggalkan.
Selain itu, amal yang sedikit namun istiqamah akan terus tumbuh, berkembang, dan bertambah nilainya, hingga pada akhirnya ia bisa mengalahkan amal besar yang terputus-putus berkali-kali lipat. Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi, dalam salah satu karyanya ia berkata:
لِأَنَّ بِدَوَامِ الْقَلِيلِ يَسْتَمِرُّ الطَّاعَةُ بِالذِّكْرِ وَالْمُرَاقَبَةِ وَالْإِخْلَاصِ وَالْإِقْبَالِ عَلَى اللهِ بِخِلَافِ الْكَثِيرِ الشَّاقِّ حَتَّى يَنْمُو الْقَلِيلُ الدَّائِمُ بِحَيْثُ يَزِيدُ عَلَى الْكَثِيرِ الْمُنْقَطِعِ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
Artinya, “Karena dengan terus-menerus melakukan amal yang sedikit, ketaatan akan tetap berlangsung melalui zikir, rasa diawasi oleh Allah (muraqabah), keikhlasan, dan kesungguhan menghadap kepada Allah. Berbeda dengan amal yang banyak namun terasa berat, amalan yang sedikit namun terus-menerus itu akan tumbuh hingga berlipat ganda melebihi amalan yang banyak namun terputus.” (Hasyiyatus Suyuthi ‘ala Sunan an-Nasai, [Aleppo: Maktabah al-Islamiyyah, 1986 M], jilid II, halaman 42).
Ada banyak sekali amal kecil yang dilakukan secara rutin dan dapat kita rasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari dan dapat membawa dampak yang besar. Misalnya, disiplin membuang sampah pada tempatnya, membayar gaji karyawan tepat waktu tanpa menunda-nunda tanpa alasan yang dibenarkan, selalu tersenyum dan bersikap ramah kepada orang lain, dan masih banyak contoh lainnya.
Oleh karena itu, marilah kita tata kembali ibadah kita. Tidak perlu memaksakan diri dengan amalan yang berat dan sulit dipertahankan. Cukup pilih amalan-amalan kecil yang realistis dan mampu kita jaga secara konsisten. Membaca Al-Qur’an meski hanya beberapa ayat setiap hari, bersedekah meski dengan nominal yang kecil, atau menjaga shalat sunnah meski hanya satu atau dua rakaat, selama itu dilakukan dengan istiqamah, maka nilainya sangat besar di sisi Allah SWT.
Demikianlah kultum Ramadhan tentang keutamaan amal yang sedikit tapi istiqamah. Semoga apa yang telah kita bahas bersama dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menjaga konsistensi dalam beribadah dan berbuat baik, tidak hanya di bulan Ramadhan saja, tetapi juga di bulan-bulan lainnya.
Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan dan kemudahan untuk meraih istiqamah, sehingga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.