Sirah Nabawiyah

Dari Turats ke Revolusi: Ide Pembaruan Tayyeb Tizini

Ahad, 1 Maret 2026 | 14:00 WIB

Dari Turats ke Revolusi: Ide Pembaruan Tayyeb Tizini

Ilustrasi turats. Sumber: Canva/NU Online.

Dalam panggung perdebatan mengenai turats dan tajdid di Suriah, nama Tayyeb Tizini adalah salah satu pelopor yang tidak bisa diabaikan. Apalagi pada tahun 1997 M, ia sempat berdebat dengan salah satu ulama besar Suriah, Syaikh Said Ramadhan al-Buthi, seputar isu pembaruan turats dan metode penafsiran al-Qur’an.


Profesor Tayyeb Tizini adalah seorang pemikir nasionalis-Marxis dari Suriah yang mengkaji pemikiran pembaruan turats dari perspektif materialisme historis. Namun, meskipun termasuk ke dalam kelompok progresif, pendekatan Tizini terhadap turats bisa dibilang cukup moderat.


Jika melihat konteks intelektual Arab pasca-1967, terdapat tiga poros kelompok dalam memahami relasi antara turats dan tajdid.


Pertama, kelompok yang mencukupkan diri sepenuhnya dengan turats dan menganggapnya sebagai perkara suci yang tidak boleh diotak-atik. Kedua, kelompok yang mendorong tajdid sepenuhnya dan memandang ketiadaan unsur kemajuan apa pun di dalam turats. Ketiga, kelompok yang mengkaji turats dan membandingkannya dengan pemikiran-pemikiran kontemporer untuk menarik sintesis terbaik di antara keduanya (Nabil Ali Saleh, Tayyib Tizini: Min at-Turats ila an-Nahdhah, [Beirut: Markaz al-Hadarah Litanmiyatil Fikr al-Islami, 2008 M], halaman 31-32).


Dr. Tizini merupakan bagian dari kelompok yang meyakini unsur-unsur kemajuan di dalam turats selama itu dikaji dengan perspektif yang progresif (Min at-Turats ila an-Nahdhah/halaman 32). Secara progresif, maksudnya mengkaji turats dengan tujuan melakukan reformasi serta perubahan radikal di masyarakat untuk meningkatkan keadilan sosial dan kesejahteraan manusia.


Tizini juga mengkritik rekan-rekan intelektual kirinya yang membuang jauh agama dalam proyek-proyek mereka. Menurut Tizini, kebangkitan bangsa Arab tidak akan bisa lepas dari agama sebagai wadah nilai, norma, dan ideologi masyarakat. Nabil Saleh merumuskan:


وَيُؤَكِّدُ تِيزِينِي هُنَا أَنَّهُ فِي عَصْرِنَا الرَّاهِنِ لَنْ يَنْهَضَ أَيُّ مَشْرُوعٍ نَهْضَوِيٍّ لِلنَّجَاحِ دُونَ الِاهْتِمَامِ بِهٰذَا الْحَامِلِ الِاجْتِمَاعِيِّ الْمُهِمِّ وَالْأَسَاسِيِّ، وَالتَّحَوُّلِ مَعَهُ فِي قِرَاءَةٍ عَقْلَانِيَّةٍ وَمَنْطِقِيَّةٍ لِلْفِكْرِ الدِّينِيِّ، وَهُوَ الْفِكْرُ الَّذِي يَتَغَذَّى مِنْهُ الْمُجْتَمَعُ الْعَرَبِيُّ وَالْإِسْلَامِيُّ عُمُومًا


Artinya, “Tizīnī menegaskan di sini bahwa pada zaman kita sekarang ini tidak akan bangkit proyek kebangkitan apa pun menuju keberhasilan tanpa perhatian terhadap pengemban sosial yang penting dan mendasar ini, serta tanpa bertransformasi bersamanya dalam pembacaan yang rasional dan logis terhadap pemikiran keagamaan, yakni pemikiran yang darinya masyarakat Arab dan Islam secara umum mengambil nutrisi.” (Min at-Turats ila an-Nahdhah/halaman 34)


Lalu bagaimana Tizini merumuskan metode tajdid? Selayaknya seorang Marxis, Tizini mengembangkan metode dialektika materialisme historis untuk membaca turats. Ia menamai metodenya dengan dialektika historis turats (jadaliyyah tarikhiyyah turatsiyyah). Maksud dari metode ini adalah cara pandang terhadap turats sebagai kenyataan sosial yang memanjang dari masa lalu hingga masa sekarang (Tayyeb Tizini, Min at-Turats ila at-Tsawrah, [Beirut: Dar Ibnu Khaldun, 1978 M], halaman 254).


Dalam perspektif ini, ‘turats’ dibedakan dari ‘sejarah’. Sejarah adalah peristiwa masa lalu yang telah usai, sedangkan turats merupakan warisan dari masa lalu yang masih dipilih untuk diyakini dan dihidupi di masa sekarang. Melalui pandangan ini, Tizini ingin membantah dua kelompok sekaligus, yakni mereka yang ingin menghapuskan turats sepenuhnya dan mereka yang ingin meniru model kehidupan masa lalu.


Oleh karena kehidupan masa kini adalah bentuk perkembangan historis dari turats itu sendiri, menghapuskan turats sama saja dengan menghapuskan identitas kebudayaan suatu bangsa. Di sisi lain, ajakan kembali kepada model-model kehidupan masa lalu yang terdapat dalam turats adalah upaya menghentikan proses keberlanjutan turats itu sendiri. Bagi Tizini, kedua pendekatan tersebut adalah pendekatan ahistoris (al-latarikhiyyah) dan anti-tradisi (al-laturatsiyyah) yang menghalangi kebangkitan bangsa Arab (nahdhatul ‘Arab) (Min at-Turats ila at-Tsawrah/halaman 255).


Kebangkitan Arab, dengan demikian, hanya bisa lahir apabila turats Arab Islam diperlakukan secara proporsional. Dalam perspektif Tizini, turats harus dikaji sebagai ruang dialektika, yaitu jembatan yang berkelanjutan dari masa lalu menuju masa depan yang revolusioner. Tizini mengatakan bahwa untuk mencapai revolusi sosial budaya, keberlanjutan turats perlu dipandang sebagai dialektika yang harus dilampaui (tajawuz jadali):


فَهِيَ تَتَّجِهُ نَحْوَ تَجَاوُزِ نَفْسِهَا تَجَاوُزًا جَدَلِيًّا تُرَاثِيًّا، يُنَسِّقُ خِلَالَهُ وَفِي حَصِيلَتِهِ مَا يَتَحَوَّلُ مِنْ عَنَاصِرِهَا إِلَى الْوَاقِعِ التَّارِيخِيِّ، وَيَسْتَبْقِي مَا يَصْلُحُ مِنْ عَنَاصِرِهَا لِأَنْ يَتَحَوَّلَ مُجَدَّدًا إِلَى وَاقِعٍ تُرَاثِيٍّ (مَوْرُوثٍ)


Artinya, “Maka teori (dialektika historis turats) itu bergerak untuk melampaui dirinya sendiri melalui sebuah pelampauan dialektis yang bersifat turats, yakni dalam proses dan hasil akhirnya, ia menata unsur-unsurnya yang berubah menjadi bagian dari realitas historis, dan mempertahankan unsur-unsurnya yang masih layak agar dapat bertransformasi kembali menjadi realitas turats (yakni sesuatu yang diwariskan).” (Min at-Turats ila at-Tsawrah/halaman 260).


Al-Qur’an Sebagai Turats yang Terbuka

Dalam sekilas pembacaan, ide-ide Tizini tentang pembaruan turats barangkali tak terkesan kontroversial sedikit pun. Akan tetapi, kesan tersebut akan segera berubah apabila pembaca menelusuri lebih jauh pemikirannya mengenai Al-Qur’an. Pasalnya, turats bagi Tizini bukan sekadar kumpulan karya-karya ulama, tetapi juga Al-Qur’an yang diimani oleh Muslim sebagai firman Allah.


Kritik awal Tizini sebenarnya menyasar kelompok Salafi yang berusaha untuk membangkitkan kembali model Islam awal sebagai cara hidup ideal. Baginya, seruan Salafi tersebut merupakan ilusi yang menganggap teks wahyu yang diucapkan di zaman Nabi Muhammad SAW adalah narasi absolut yang terlepas dari konteks historis di masanya. Akibatnya, penafsiran-penafsiran keagamaan yang muncul dari keyakinan itu terlepas dari situasi sosial yang konkret (al-wadh’iyyah al-ijtima’iyyah al-musyakhkhashah).


Bentuk penafsiran semacam inilah yang menurut Tizini menghambat kemajuan bangsa Arab dan umat Islam.


Berangkat dari kritik tersebut, Tizini menyatakan bahwa teks-teks suci harus ditempatkan sebagai teks historis yang ditafsirkan oleh manusia sebagai subjek sejarah. Penafsiran terhadap teks-teks Al-Qur’an, dengan begitu, tidak lepas dari aneka ragam keyakinan serta situasi sosial manusia yang mengkajinya.


Maka, menurut Tizini, teks Al-Qur’an perlu dipahami sebagai teks yang menerima ragam penafsiran sesuai dengan konteks historis dan kondisi sosial kemasyarakatan yang membacanya:


وَلَمَّا كَانَتْ «الْوَضْعِيَّةُ الِاجْتِمَاعِيَّةُ الْمُشَخَّصَةُ»، فِي حَضْرِهَا الْوَاقِعِيِّ التَّحَوُّلِيِّ الدِّينَامِيِّ، مُتَعَدِّدَةَ الْمُسْتَوَيَاتِ الْمَعْرِفِيَّةِ وَالْإِيدِيُولُوجِيَّةِ، أَوْ تَتَضَمَّنُ مِثْلَ هٰذِهِ التَّعَدُّدِيَّةِ، فَإِنَّ احْتِمَالَ التَّعَدُّدِيَّةِ فِي أَعْمَاقِ الْقِرَاءَاتِ وَالدِّرَاسَاتِ الْمَذْكُورَةِ يَغْدُو أَمْرًا يَسِيرًا وَوَارِدًا، إِضْمَارًا وَإِفْصَاحًا، كَمَا يُصْبِحُ الْإِقْرَارُ بِهِ مَطْلَبًا مِنْ مَطَالِبِ الْبَحْثِ الْعِلْمِيِّ، وَالنَّشَاطِ الثَّقَافِيِّ الْفِكْرِيِّ عُمُومًا. وَعَلَى هٰذَا، فَإِنَّ قِرَاءَةَ نَصٍّ دِينِيٍّ مَا سَتَظَلُّ مُخْتَرَقَةً مِنَ الِاحْتِمَالَاتِ الْمُتَعَدِّدَةِ، الَّتِي تُلِيُّهَا أَوْ تُشِيرُ إِلَيْهَا مِثْلُ تِلْكَ الْوَضْعِيَّةِ الِاجْتِمَاعِيَّةِ الْمُشَخَّصَةِ، الَّتِي يَنْطَلِقُ مِنْهَا، هِيَ بِدَوْرِهَا، الْبَاحِثُ أَوِ السِّيَاسِيُّ أَوِ الْفَقِيهُ إِلْخ


Artinya, “Karena ‘situasi sosial yang terkonkretkan’ itu, dalam kehadirannya yang nyata, yang terus berubah, dan dinamis, bersifat bertingkat-tingkat dari sisi pengetahuan dan ideologi, atau setidaknya memuat kemajemukan semacam itu, maka kemungkinan adanya kemajemukan di kedalaman pembacaan dan kajian-kajian yang disebutkan menjadi sesuatu yang mudah dan sangat mungkin, baik secara tersirat maupun tersurat. Bahkan pengakuan terhadap kemajemukan itu menjadi salah satu tuntutan penelitian ilmiah dan aktivitas kultural-intelektual secara umum. Karena itu, pembacaan atas sebuah teks agama akan selalu ditembus oleh berbagai kemungkinan (makna/penafsiran) yang ditimbulkan atau disinyalisasikan oleh ‘situasi sosial yang terkonkretkan’ tersebut, yakni situasi yang darinya seorang peneliti, politisi, atau ahli fikih, dan seterusnya, memulai.”  (Tayyeb Tizini, an-Nash al-Qur’ani: Amama Isykaliyyatil Binyah wal Qira’ah, [Damaskus: Darul Yanabi’, 1997 M], halaman 38-39).

 

Argumen Tizini mengenai teks suci sebagai turats inilah yang menjadi titik perdebatan antara dirinya dengan kelompok tradisionalis yang diwakili oleh Syekh al-Buthi pada 30 tahun silam. Wallahu a'lam.


Zainun Hisyam, Pengajar Pondok Pesantren Attaujieh al-Islamy, Banyumas, dan Alumni SOAS London.