Sirah Nabawiyah

Penguasa Tiran: Penyebab Runtuhnya Peradaban dalam Catatan Sejarah Islam

Senin, 18 Mei 2026 | 12:00 WIB

Penguasa Tiran: Penyebab Runtuhnya Peradaban dalam Catatan Sejarah Islam

Sumber: Canva

Tirani merupakan sebuah penyakit sosial yang jauh lebih mematikan dari wabah penyakit. Ia tidak membunuh tubuh, tetapi membunuh kehendak dan keinginan masyarakat. Tokoh pemikir Islam Syekh Abdurrahman Al-Kawakibi, penyair dan cendekiawan asal Suriah, banyak membahas persoalan tirani dalam karyanya, Thaba'i al-Istibdad wa Masari' al-Istibad. 


Tirani dapat dipahami sebagai cara berpikir yang menempatkan satu kehendak di atas segalanya, tanpa ruang pengawasan dan tanpa kesempatan untuk koreksi. Karena sifatnya yang bergerak perlahan dan sering tidak disadari, Al-Kawakibi memperingatkan bahwa penyakit ini dapat meracuni berbagai sendi kehidupan, mulai dari negara hingga keluarga. Bila dibiarkan tumbuh, kehancuran tatanan masyarakat hanya tinggal menunggu waktu.


Dalam kitabnya Thaba'i al-Istibdad wa Masari' al-Isti'bad, Al-Kawakibi mendefinisikannya sebagai:


الانفراد بالسلطة والسلطان، فى أى ميدان من ميادين السلطة والسلطان في الأسرة أو الديوان أو الدولة والحكومة أو في المال والثروة أو في اتخاذ القرار أو في تنفيذ هذا القرار


Artinya, "Sikap atau keadaan di mana seseorang atau pihak tertentu memonopoli kekuasaan dan wewenang dalam berbagai bidang, baik dalam keluarga, lingkungan kerja, negara dan pemerintahan, dalam pengelolaan harta dan kekayaan, maupun dalam pengambilan dan pelaksanaan keputusan." (Abdurrahman Al-Kawakibi, Thaba'i al-Istibdad wa Masari' al-Isti'bad,, [Kairo, Dar Asy Syuruq, 2002], hlm. 9).


Dengan kata lain, istibdad adalah kekuasaan yang berjalan sendiri, tanpa pengawasan dan tanpa koreksi. Penyakit ini tidak hanya hidup di istana, tetapi juga dapat merayap ke keluarga, tempat kerja, dan komunitas kecil.


Sejarah kekhalifahan Umayyah memberi contoh jelas tentang cara tirani bekerja. Sistem syura perlahan memudar, lalu berganti menjadi monarki yang makin dekat dengan otoritarianisme.


Syekh Ats-Tsa'labi menjelaskan bahwa pada masa Abdul Malik bin Marwan, tunjangan negara dibatasi hanya untuk pegawai pemerintah dan pasukan resmi. Rakyat sipil diarahkan untuk mencari penghidupan sendiri di berbagai sektor ekonomi. (Abdul Aziz Ats-Tsa'labi, Suquth Ad-Daulah Al-Muawiyah wa Qiyam ad-Daulah al-Abbasiyah, [Beirut, Dar Al-Garb Al-Islamiy, 1995], hlm. 46).


Negara memang masih hadir, tetapi lebih sebagai penjaga keamanan daripada penegak keadilan. Inilah tanda awal pergeseran yang tampak halus, tetapi berbahaya. Perubahan besar terjadi ketika Abdul Malik mengangkat Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi sebagai gubernur. Ibnu Katsir, sebagaimana dikutip Mansur Abdul Hakim, menggambarkannya demikian:


وكانت فيه شهامة عظيمة وفى سيفه رهق وكان كثير قتل النفوس التي حرمها الله بأدنى شبهة وكان يغضب غضب الملوك وكان - فيما يزعم - يتشبه بزياد ابن أبيه، وكان زياد يتشبه بعمر بن الخطاب، فيما يزعم أيضاً، ولا سواء ولا قريب


Artinya, "Dia memiliki keberanian dan ketegasan yang luar biasa, namun pada pedangnya terdapat keringanan untuk menumpahkan darah (rahaq). Ia banyak membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah hanya karena syubhat (kecurigaan) yang paling kecil. Ia bisa marah besar layaknya kemarahan para raja. Konon ia mengaku meneladani Ziyad bin Abih, sementara Ziyad sendiri konon mengaku meneladani Umar bin Khattab, padahal keduanya tidak sebanding dan tidak pula mendekati." (Mansur Abdul Hakim, Al-Hajjaj bin Yusuf As-Saqafi, Thagiyah Bani Umayyah, Damaskus, Dar Al-Kitab Al-Arabiy, t.t., hlm. 86).


Al-Hajjaj tidak hanya menebar ketakutan. Ia menjadikan ketakutan sebagai udara politik sehari-hari. Ketika teror menjadi alat pemerintahan, fondasi negara mulai retak dari dalam. Puncak kezaliman itu tampak pada masa Khalifah Al-Walid bin Yazid. Ia bukan hanya keras kepada rakyat, tetapi juga kepada keluarga dan orang-orang dekatnya sendiri. Ats-Tsa'labi mencatat:


وكان أعظمها إفساده بني عميه هشام والوليد والوزراء والولاة واليمانية وهم الدولة، فقد قام بجلد ابن عمه سليمان بن هشام وتغريبه إلى عمان لأمور كان ينقمها من أبيه وهو ولي عهده


Artinya, "Kerusakan paling besar yang ia timbulkan terhadap para kerabatnya sendiri dari keluarga Umayyah, para menteri, gubernur, dan kelompok Yamaniyah yang menjadi penopang negara. Ia pernah mencambuk sepupunya, Sulaiman bin Hisyam, lalu mengasingkannya ke Oman karena persoalan yang sebenarnya merupakan kebenciannya terhadap ayah Sulaiman, yaitu Hisyam bin Abdul Malik, yang dahulu adalah wali ahd (putra mahkota)." (Suquth Ad-Daulah Al-Muawiyah wa Qiyam Ad-Daulah Al-Abbasiyah, hlm. 66).


Al-Walid juga merampas budak perempuan milik keluarga pamannya demi kepuasan pribadi. Ia memaksa baiat untuk dua putranya yang masih anak-anak. Ketika Said bin Shuhaib menentang, ia dipenjara hingga meninggal.


Ambisinya mencapai titik akhir ketika ia menekan Khalid bin Abdullah al-Qasri, panglima besar Yamaniyah. Kelompok ini selama ini menjadi penopang utama Umayyah. Tekanan itu berubah menjadi pemberontakan.


Pada Kamis, 27 Jumadil Akhir 126 H / 16 April 744 M, Al-Walid terbunuh. Kepalanya dipenggal dan dipertontonkan di Damaskus sebagai tanda kemenangan pasukan pemberontak. Dampaknya besar dan berlapis. Ats-Tsa'labi mencatat:


ا - ضعف الخلافة الأموية، وذهاب هيبتها وضياع جلالها وانهيار سلطانها على العامة والخاصة والجند في الأمصار المختلفة. ب - اختلاف القبائل اليمنية الشامية، وتضارب أهوائها السياسية، وانقسامها، ومحاربة


Artinya, "(a) Melemahnya kekhalifahan Bani Umayyah, hilangnya kewibawaan dan kemegahannya, serta runtuhnya pengaruh kekuasaan mereka di mata rakyat umum, kalangan elit, maupun tentara di berbagai wilayah. (b) Timbulnya perpecahan di antara kabilah-kabilah Yamaniyah di Syam, benturan kepentingan politik di antara mereka, perpecahan internal, dan terjadinya peperangan." (Ali Muhammad As-Sallabi, Ad-Daulah al-Umawiyah, 'Awamil Al-Izdihar wa Tadaiyat al-Inhiyar, [Beirut, Dar al-Ma'rifah, 2008], hlm. 490).


Tirani yang semula dianggap memperkuat kekuasaan justru menghancurkan sendi-sendinya sendiri. Di tengah narasi kelam ini, Al-Kawakibi memberi pengamatan penting. Para tiran sebenarnya menyimpan ketakutan besar. Al-Kawakibi menggambarkan rapuhnya batin para diktator:


أما المستبدون الشرقيون فأفئدتهم هواء ترتجف من صولة العلم وكأن العلم نار وأجسامهم من بارود المستبدون يخافون من العلم حتى من علم الناس معنى كلمة لا إله إلا الله


Artinya, "Adapun para penguasa tiran di timur, maka hati mereka kosong (lemah), gemetar terhadap kekuatan ilmu, seakan-akan ilmu itu api dan tubuh mereka terbuat dari mesiu. Para tiran takut terhadap ilmu, bahkan takut jika orang-orang memahami makna kalimat 'La ilaha illa Allah'." (Abdurrahman Al-Kawakibi, Thaba'i al-Istibdad hlm. 50).


Melihat penjelasan Al-Kawakibi di atas, kalimat tauhid dapat menjadi pernyataan bahwa tidak ada kekuasaan mutlak kecuali milik Allah. Kesadaran inilah yang paling ditakuti setiap tiran. Di sisi lain, ia menutup pembahasannya dengan kesimpulan sederhana sekaligus nasihat untuk kita semua:


وخلاصة البحث أنه يلزم أولا تنبيه حس الأمة بآلام الاستبداد، ثم يلزم حملها على البحث في القواعد الأساسية السياسية المناسبة لها، بحيث يشغل ذلك أفكار كل طبقاتها


Artinya, "Kesimpulan dari pembahasan ini adalah: pertama-tama harus dibangkitkan kesadaran umat terhadap penderitaan akibat kezaliman (istibdad). Kemudian, mereka harus diarahkan untuk meneliti prinsip-prinsip dasar politik yang sesuai bagi mereka, sehingga hal itu menyibukkan pikiran seluruh lapisan masyarakat." (Abdurrahman Al-Kawakibi, hlm. 160).


Umat atau masyarakat ibarat pasien. Mereka tidak akan sembuh sebelum sadar bahwa mereka sakit. Tanpa kesadaran kolektif, kezaliman terus berdiri bukan karena kuat, tetapi karena tidak dikenali.


Dari sini, kita memahami bahwa istibdad adalah penyimpangan kekuasaan yang bertentangan dengan nilai dasar Islam. Saat keadilan ditegakkan, niscaya kemajuan suatu bangsa akan hadir. Saat kezaliman dibiarkan, kehancuran merambat ke seluruh dimensi kehidupan.

 

Oleh karena itu, setiap Muslim wajib menjaga amanah, berlaku adil, dan tidak diam terhadap ketidakadilan. Tegaknya keadilan bukan hanya tugas pemimpin. Ia adalah kewajiban bersama demi kehidupan yang bermartabat dan diridhai Allah SWT. Wallahu a'lam.


Ustadz Azmi Abubakar, Penyuluh Agama Islam Asal Aceh.