Tafsir

Mengapa Allah Meninggikan Derajat Orang Berilmu?

Selasa, 7 April 2026 | 07:00 WIB

Mengapa Allah Meninggikan Derajat Orang Berilmu?

Ilustrasi buku. Sumber: Canva/NU Online.

Orang berilmu memiliki posisi yang sangat mulia dalam Islam. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Mujadalah ayat 11, orang yang meluangkan waktu untuk memperoleh ilmu pengetahuan akan diangkat derajatnya. Sehingga wajar, ayat ini sering dikutip dalam pesan-pesan keutamaan mencari ilmu. 


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ۝١١


Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu 'Berilah kelapangan di majelis-majelis,' lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, 'Berdirilah,' (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.


Syekh Wahbah menjelaskan ayat di atas bahwa kompensasi bagi orang yang beriman sekaligus seeker knowledge (orang yang cari ilmu) adalah dijanjikan naik derajatnya, baik di dunia maupun di akhirat, dengan memberikan anugerah sesuai porsi keilmuan yang mereka pelajari. (Wahbah Zuhaili, Tafsir Al-Munir, [Beirut, Darul Fikr: 1985], juz 28, halaman 41).


Berdasarkan hal ini, menarik untuk ditelisik mengapa golongan pencari ilmu memiliki posisi yang spesial di sisi Allah. Imam Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan secara rinci alasan diangkatnya derajat orang berilmu (Tafsir Mafatihul Ghaib, [Beirut: Darul Ihya’, 1999], jilid 29, halaman 494). 


Pertama, orang yang berilmu memahami cara dan langkah dalam menghindari perkara haram dan syubhat yang tidak diketahui orang lain. Tidak sedikit orang awam yang masih terjebak atau bahkan terpaksa melakukan perkara syubhat sampai haram.


Kedua, orang berilmu memahami metode untuk fokus (khusyuk) serta merendahkan diri dalam beribadah yang mana tidak diketahui orang lain. Jamak diketahui bahwa dalam melakukan ibadah-ibadah tertentu, tidak jarang terbesit dalam hati rasa sombong dan merasa lebih baik. Orang berilmu tidak melakukan ini, sehingga posisinya sangat spesial.


Ketiga, orang berilmu tahu bagaimana harus bertobat, kapan waktunya serta karakternya, yang tidak dipahami orang lain. Tentu, manusia adalah tempatnya salah. Namun tidak semua orang mampu atau berkenan untuk bertaubat.


Keempat, orang berilmu mampu menjaga dirinya dalam persoalan hak-hak yang wajib, yang mana tidak dimiliki oleh orang lain. Banyak sekali orang yang serampangan dan ceroboh dalam menunaikan hak-hak yang wajib, sedangkan orang berilmu teliti dalam hal tersebut


Demikianlah deskripsi Imam Fakhruddin Ar-Razi berkenaan dengan alasan-alasan diangkatnya derajat seseorang yang berilmu. Mulai dari mampu menghindari perkara haram dan syubhat, memahami metode khusyuk dan tawaduk dalam beribadah, memahami persoalan-persoalan dalam bertobat, dan mampu menjaga dirinya dalam persoalan hak-hak yang wajib.


Kendati ilmu menjadi sebab diangkatnya derajat yang tinggi, pencapaian itu tidak dapat diraih kecuali setelah melalui tahapan pertama, yaitu beriman.  Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi, Allah terlebih dahulu mengangkat derajat orang beriman, kemudian secara khusus meninggikan derajat orang-orang yang diberi ilmu di antara mereka. 


وَالْعُمُومُ أَوْقَعُ فِي الْمَسْأَلَةِ وَأَوْلَى بِمَعْنَى الْآيَةِ، فَيَرْفَعُ الْمُؤْمِنَ بِإِيمَانِهِ أَوَّلًا ثُمَّ بِعِلْمِهِ ثَانِيًا


“Makna yang umum lebih tepat dalam masalah ini dan lebih sesuai dengan maksud ayat. Maka Allah mengangkat seorang mukmin dengan imannya terlebih dahulu, kemudian mengangkatnya lagi dengan ilmunya sebagai yang kedua.” (Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, juz 17, halaman 300).


Walhasil, ilmu tidak menjadi pengganti iman, namun ia berfungsi sebagai nilai plus bagi orang beriman. Wallahu a'lam.

 

Shofi Mustajibullah, Alumni Az-Zahirul Falah Ploso Kediri