Tasawuf/Akhlak

Rekonstruksi Makna Zuhud bagi Pembentukan Mentalitas Pemuda Muslim Generasi Z

Sabtu, 25 Oktober 2025 | 09:00 WIB

Rekonstruksi Makna Zuhud bagi Pembentukan Mentalitas Pemuda Muslim Generasi Z

Ilustrasi pemuda gen Z. (Foto: NU Online/Freepik)

Hari ini, ada kesenjangan yang semakin lebar di kalangan pemuda muslim generasi Z. Ketika sebagian di antara mereka memilih jalan zuhud, yang terjadi justru kesalahpahaman kolektif: seolah kezuhudan adalah biang keladi dari ketertinggalan mereka, baik dalam ekonomi, etos kerja, maupun orientasi masa depan. Akibatnya, tidak sedikit santri dan pemuda muslim kehilangan daya saing di ranah teknologi, bisnis, dan kreativitas.

 

Zuhud sering disalahartikan sebagai ajaran yang menolak dunia secara mutlak, padahal tidak demikian. Dalam pandangan para ulama salaf, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan menempatkan dunia pada posisi yang semestinya, yaitu di tangan, bukan di hati. Syekh Ibn ‘Athā’illah as-Sakandarī (w. 709 H) dalam at-Tanwīr fī Isqāṭ at-Tadbīr menulis:

 

 لَيْسَ الزُّهْدُ فِي تَرْكِ الدُّنْيَا، وَلَكِنَّ الزُّهْدَ أَنْ تَكُونَ الدُّنْيَا فِي يَدِكَ لا فِي قَلْبِكَ

 

Artinya: “Zuhud itu bukan meninggalkan dunia, tetapi menempatkan dunia di tanganmu, bukan di hatimu.” (Ibn ‘Athā’illah as-Sakandarī, at-Tanwīr fī Isqāṭ at-Tadbīr, [Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003], hlm. 27)

 

Maka, permasalahan utamanya bukan pada zuhud, tetapi pada cara memahami zuhud. Saat definisinya keliru, mentalitas yang lahir pun jadi ikut menyimpang.

 

Mentalitas Pemuda Muslim Generasi Z

Fenomena sosial menunjukkan bahwa generasi Z (lahir 1997–2012) adalah generasi paling adaptif terhadap teknologi, namun sekaligus paling rentan kehilangan arah spiritual. Beberapa penelitian ilmiah menunjukkan krisis moral dan spiritualitas yang mengkhawatirkan.

 

Dalam jurnal “Moral Degradation among Generation Z: Challenges and Solutions” (Journal of Social Psychology, Vol. 12, 2022), disebutkan bahwa generasi Z menghadapi disorientasi moral akibat paparan digital yang berlebihan dan individualisme. Rasa pengawasan ilahi (muraqabah ilahiyyah) menurun seiring dengan dominasi identitas virtual.

 

Sementara riset lokal oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2023) menyimpulkan bahwa 68% mahasiswa mengaku sulit mengaitkan nilai agama dengan realitas kerja dan sosial modern. Artinya, generasi Z muslim menghadapi krisis relasi antara nilai spiritual dan aktivitas duniawi. Inilah titik paling krusial di mana makna zuhud perlu direkonstruksi ulang, bukan untuk menjauh dari dunia, tetapi agar mereka bisa berada di tengah dunia tanpa larut di dalamnya.

 

Hakikat Zuhud dalam Islam

Imam al-Ghazālī (w. 505 H) dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menjelaskan tiga tingkat kezuhudan:

 

 الزهدُ أن تتركَ الدنيا، والزهدُ في الزهدِ أن تتركَ النظرَ إلى نفسك فيها، وزهدُ الزهدِ أن ترى الدنيا لا تستحقُّ نظرك

 

Artinya: “Zuhud adalah meninggalkan ketergantungan pada dunia; zuhud dari zuhud ialah meninggalkan kebanggaan karena zuhud; sedangkan puncak zuhud adalah melihat dunia tidak layak diperhatikan.” (al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, [Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2000], juz IV, hlm. 251)

 

Dengan kata lain, zuhud bukan berarti tidak memiliki harta, tetapi tidak diperbudak oleh harta. Habib ‘Abdullāh bin ‘Alawī al-Ḥaddād (w. 1132 H) dalam Risālah al-Mu‘āwanah menegaskan:

 

 الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا هُوَ تَرْكُ التَّعَلُّقِ بِهَا، وَلَيْسَ تَرْكُ الْمِلْكِ

 

Artinya: “Zuhud di dunia berarti meninggalkan keterikatan padanya, bukan meninggalkan kepemilikan atasnya.” (Habib ‘Abdullāh al-Ḥaddād, Risālah al-Mu‘āwanah, [Tarim: Dār al-Ḥawi, 1987], hlm. 14)

 

Demikian pula Syekh Abū Bakr al-Kalābādhī dalam at-Ta‘arruf li Madzhab Ahl at-Taṣawwuf (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1994/56) yang menulis:

 

 الزاهدُ مَنْ أَخَذَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُعِينُهُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ، ثُمَّ قَطَعَ تَعَلُّقَ قَلْبِهِ عَمَّا بَقِيَ

 

Artinya: “Orang zuhud adalah yang mengambil dari dunia sekadar penopang ketaatan kepada Allah, lalu memutus keterikatan hatinya dari sisanya.”

 

Dalam konteks generasi Z, prinsip ini berarti menjadi pelaku digital, pebisnis, dan profesional yang tetap berjiwa sebagai hamba di hadapan Allah Swt. Mereka boleh menguasai teknologi, namun tidak diperbudak oleh popularitas dan kemewahan.

 

Zuhud Bukan Penghalang Kemajuan

Zuhud bukan penghambat kemajuan, tetapi justru penyaring moral bagi setiap kemajuan. Jika teknologi dan kekayaan adalah “kendaraan”, maka zuhud adalah “rem spiritual” yang menjaga agar tidak tergelincir. Ibn ‘Athā’illah dalam al-Ḥikam menulis:

 

 لَيْسَ الزُّهْدُ أَنْ تَمْلِكَ شَيْئًا، بَلْ أَنْ لا يَمْلِكَكَ شَيْءٌ

 

Artinya: “Zuhud bukan berarti tidak memiliki apa pun, melainkan tidak ada apa pun yang memiliki dirimu.” (Ibn ‘Athā’illah, al-Ḥikam al-‘Athā’iyyah, [Kairo: Markaz al-Ahram, 1988], hlm. 47)

 

Prinsip inilah yang harus hidup dalam diri pemuda Muslim. Mereka boleh kaya, canggih, dan berprestasi, tetapi hati tetap bersih dari kesombongan dan ketamakan. Syekh Nawawī al-Bantanī dalam Naṣā’iḥ al-‘Ibād berkata:

 

 الدنيا مَزْرَعَةُ الآخرة، فَمَنْ زَرَعَ فِيهَا الْخَيْرَ حَصَدَ السَّعَادَةَ فِي الدَّارَيْنِ

 

Artinya: “Dunia adalah ladang akhirat. Siapa menanam kebaikan di dalamnya, akan memanen kebahagiaan di dunia dan akhirat.” (Syekh Nawawī al-Bantanī, Naṣā’iḥ al-‘Ibād, [Singapura: al-Maktabah al-Islāmiyyah, 1930], hlm. 23)

 

Zuhud yang benar justru melahirkan etos kerja dan integritas tinggi. Orang yang tidak tamak akan bekerja dengan ikhlas, dan yang tidak diperbudak oleh materi akan lebih berani mengambil keputusan jujur. Dalam konteks generasi Z, kezuhudan dapat diterjemahkan sebagai kemampuan menahan diri di tengah euforia digital dan materialisme. Ia bukan tentang meninggalkan dunia, tapi tentang mengendalikan nafsu agar dunia tidak merusak nilai ketauhidan dalam diri kita.

 

Akhirnya, zuhud bukan bentuk lari dari dunia, tetapi salah satu cara beriman walau masih bergelut dalam urusan duniawi. Zuhud juga bukan menolak teknologi, tapi menolak diperbudak olehnya. Ia bukan anti kekayaan, tapi anti keserakahan. Zuhud adalah spiritual compass yang menuntun generasi Z muslim agar tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus digital dan materialisme global.

 

Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumni Ma’had Aly Situbondo, Pengajar di Ponpes Manbaul Ulum dan Nurussalafiyah Kabul, Lombok Tengah.