Banjir dan Longsor Kembali Terjang Aceh Tengah, Warga Terisolasi; MPU dan PWNU Desak Penanganan Serius
NU Online · Ahad, 12 April 2026 | 05:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Aceh Tengah, NU Online
Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Aceh Tengah Provinsi Aceh dalam beberapa hari terakhir kembali memicu banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah titik. Akibatnya, akses jalan dan jembatan terganggu, sejumlah desa terisolasi, dan aktivitas warga lumpuh di beberapa kawasan terdampak.
Kondisi ini memperberat beban masyarakat yang sejak awal pekan harus menghadapi luapan air, jalan tertutup material longsor, serta rusaknya jembatan darurat yang sebelumnya menjadi jalur penghubung utama antarwilayah. Di sejumlah lokasi, mobilitas warga terganggu, termasuk untuk kebutuhan harian, pendidikan, dan distribusi hasil pertanian.
Data yang berhasil dihimpun NU Online menyebutkan banjir bandang dan longsor kembali melanda beberapa kecamatan seperti Celala, Bintang, Linge, Kebayakan, dan Ketol. Wilayah terdampak meliputi Desa Sepakat, Gele Pulo, Jalan Bintang–Simpang Kraf, hingga Desa Lumut. Kerusakan paling parah dilaporkan terjadi di Kecamatan Ketol setelah jembatan darurat kembali ambruk diterjang arus deras.
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tengah, Tgk Mursyidin, menilai bencana yang terus berulang harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Menurutnya, penanganan bencana tidak cukup hanya bersifat darurat, tetapi juga harus diiringi langkah pencegahan dan penguatan infrastruktur.
“Bencana ini bukan yang pertama dan terus berulang. Diperlukan langkah serius dalam pencegahan serta penguatan infrastruktur," ujarnya, Sabtu (11/4/2026)
Pihaknya juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama warga yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor. Selain itu, ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan agar kerusakan alam tidak memperparah dampak bencana saat musim hujan.
Sementara itu, Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk Iskandar Zulkarnaen, menyoroti pentingnya percepatan penanganan agar warga tidak terlalu lama terisolasi akibat putusnya akses transportasi.
“Penanganan harus cepat, terutama pada akses jalan dan jembatan, agar masyarakat tidak terisolasi terlalu lama,” katanya. Ia menilai jembatan darurat hanya menjadi solusi sementara dan pemerintah perlu menyiapkan infrastruktur permanen yang lebih kokoh.
Tgk Iskandar juga kembali mengingatkan agar penanganan bencana tetap berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat. Ia menegaskan bahwa warga terdampak tidak boleh diabaikan, termasuk dalam pendataan dan penyaluran bantuan. “Yang terpenting adalah memastikan bantuan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan,” ujarnya.
Di tengah kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan, warga di kawasan terdampak diminta terus waspada terhadap kemungkinan banjir dan longsor susulan. Pemerintah daerah bersama petugas kebencanaan disebut terus berupaya membuka akses jalan dan memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menjadi Teladan yang Dikenang Sepanjang Zaman
2
Khutbah Jumat: Menyeimbangkan 5 Unsur Utama dalam Diri Manusia
3
Khutbah Jumat: Makna dan Keutamaan Membaca Basmalah
4
Khutbah Jumat: Zakat, Jalan Menuju Masyarakat Adil dan Peduli
5
MBG dan Larangan Pemborosan dalam Islam
6
War Haji, Jalan Pintas yang Berpotensi Sengketa
Terkini
Lihat Semua