Syariah

Posisi Jongkok yang Dianjurkan Saat Buang Hajat

NU Online  ·  Ahad, 12 April 2026 | 04:13 WIB

Posisi Jongkok yang Dianjurkan Saat Buang Hajat

Posisi Jongkok (freepik)

Etika itu sebenarnya hadir di semua hal yang kita lakukan, bahkan dalam urusan yang paling pribadi sekalipun, seperti saat ke toilet. Sayangnya, aktivitas yang satu ini sering kita jalani begitu saja, tanpa banyak dipikir. Padahal, ada tata krama sederhana tapi bermakna yang bisa kita terapkan.

 

Salah satunya adalah soal posisi jongkok yang benar saat buang hajat. Meskipun terlihat sepele, posisi ini punya peran penting, baik dari sisi kenyamanan maupun kebiasaan yang lebih baik untuk tubuh

 


Posisi jongkok yang tepat memastikan proses 'bersuci' menjadi lebih efektif dan higienis. Ini adalah pelajaran penting tentang kesadaran diri; bahwa seorang hamba yang beradab akan tetap memperhatikan detail terkecil dalam hidupnya, memastikan setiap tindakannya tetap berada dalam koridor kesopanan dan ketaatan.


Bagaimanakah Posisi Jongkok yang Dianjurkan saat Buang Hajat?

 

Dalam aktivitas harian, buang air mungkin terasa seperti rutinitas biasa. Namun, tahukah kita bahwa Islam mengatur hal sedetail ini hingga ke posisi duduknya? Bukan sekadar soal etika, ternyata ada rahasia kesehatan luar biasa di balik posisi jongkok yang dianjurkan oleh Rasulullah saw.


Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani dalam kitab Bulughul Maram memaparkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi mengenai anjuran Nabi Muhammad saw. terkait posisi jongkok saat buang hajat. Simak paparan berikut:


وَعَنْ سُرَاقَةَ بْنِ مَالِكٍ - رضي الله عنه - قَالَ: عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - فِي الْخَلَاءِ أَنْ نَقْعُدَ عَلَى الْيُسْرَى، وَنَنْصِبَ الْيُمْنَى.


Artinya: "Diriwayatkan dari Suraqah bin Malik ra, ia berkata: 'Rasulullah SAW mengajari kami (adab) saat berada di tempat buang air (al-khala'), yaitu agar kami duduk bertumpu pada kaki kiri dan menegakkan kaki kanan.'" (HR. Al-Baihaqi)

 

Mengapa Harus Sisi Kiri?

 

Anjuran ini rupanya sejalan dengan anatomi tubuh manusia. Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Maraqil ‘Ubudiyyah memberikan penjelasan bahwa posisi ini membuat organ dalam lebih "istirahat" dan memudahkan proses pembuangan.


Simak paparan Syekh Nawawi al-Bantani berikut:


لأن ذلك أسهل لخروج الخارج مع راحة الأعضاء الرئيسة كالكبد والقلب فإنها في جهة اليسار.

 

Artinya: "Karena hal tersebut (posisi jongkok dengan tumpuan berat badan sedikit condong ke arah kaki kiri) lebih memudahkan keluarnya kotoran bersamaan dengan istirahatnya organ-organ utama seperti hati (hepar) dan jantung, sebab keduanya berada di sisi sebelah kiri. (Maraqil ‘Ubudiyyah, [Jakarta, Darul Kutub al-Islamiyyah: 1431 H], hal. 24)


Menilik paparan di atas, secara medis, usus besar manusia (kolon) memiliki anatomi yang berakhir di sisi kiri bawah (kolon sigmoid dan rektum). Dengan menumpu pada kaki kiri, kita secara alami memberikan tekanan lembut pada sisi perut sebelah kiri.


Selain alasan di atas, Syekh Nawawi al-Bantani juga memberikan perumpamaan yang sangat mudah dipahami. Ia mengibaratkan tubuh manusia seperti guci yang penuh. Jika guci tersebut dimiringkan (dalam hal ini ke arah kiri), maka isinya akan lebih mudah keluar. Sebaliknya, jika tetap tegak lurus, proses keluarnya isi guci akan terasa lebih sulit.


Simak paparan berikut:


وإن الإنسان كالجرة الملانة فإذا أمليت سهل خروج الخارج منها وإذا كبد معتدلة كان في خروج الخارج عسر


Artinya: “Sesungguhnya (tubuh) manusia itu ibarat guci yang penuh; jika dimiringkan, maka akan mudah bagi isinya untuk keluar. Namun, jika (posisinya) tegak lurus, maka keluarnya kotoran akan menjadi sulit.” (hal. 24)


Dari paparan di atas dapat disimpulkan, adab yang diajarkan Rasulullah saw. ribuan tahun lalu adalah solusi cerdas bagi kesehatan pencernaan kita. Sejatinya, dengan mempraktikkan posisi tumpuan kaki kiri saat buang hajat, kita tidak hanya menjalankan sunnah, tapi juga memberikan hak tubuh untuk memproses pembuangan secara lebih alami, sehat, dan tuntas. Wallahu a’lam.


--------------
Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.