Humor Gus Dur: Mahasiswa Sastra Madura
Seorang mahasiswa sastra asal Madura sedang menyiapkan sebuah skripsi yang bikin beberapa dosennya mengernyitkan dahi. Si mahasiswa meneliti tentang candaan Gus Dur kepada anggota DPR.
Kumpulan artikel kategori Humor
Seorang mahasiswa sastra asal Madura sedang menyiapkan sebuah skripsi yang bikin beberapa dosennya mengernyitkan dahi. Si mahasiswa meneliti tentang candaan Gus Dur kepada anggota DPR.
Kedua santri itu, sebut saja Mamat dan Abdul, kemudian bergegas ke lokasi karena diminta untuk segera menghadap kiai. Mereka tidak tahu perihal apa yang membuatnya dipanggil.
Setelah berbicara beberapa waktu, keduanya keluar dan menyampaikan keterangan kepada pers. Menurut Gus Dur, yang dimaksud “Mayjen K” itu bukanlah Kivlan Zein.
Jumadi yang tengah senggang diminta Ibu Nyainya untuk membeli sejumlah bumbu masak. Beberapa memang sudah tinggal sedikit, tidak cukup untuk memasak sayur makan siang penghuni pesantren.
Bencana tersebut menjadi sorotan banyak media. Tidak hanya media di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Media-media tersebut meliput banjir dengan memperlihatkan kondisi area yang terkena banjir.
Terlalu jengkelnya dia ingin protes ke kepala desa: "Kalau begini caranya, saya akan protes kepala desa sekarang juga! "
Mayoritas siswa di kelas terlihat tegang. Khawatir ditanya sang guru karena merasa belum mengerti materi tersebut dikarenakan penjelasan guru dirasa njlimet oleh mereka.
Gus Dur melontarkan kritik dengan humor. Gus Dur yang menertawakan dirinya sendiri justru mampu menyadarkan pejabat-pejabat negara untuk juga menertawakan dirinya sendiri.
Seketika itu, teman Tarno bernama Sidin asli Madura membantu untuk mencarikan kosan sebagai tempat isolasi mandiri.
"Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi akhlak tercela agar terhindar dari dosa-dosa. Jangan cuma tahu teorinya saja," kata Rahmat kepada Amin.
Gus Mus bercerita, suatu ketika Gus Dur menelpon dirinya dari Kuba di sela-sela forum pertemuan para kepala negara.
Pak Kiai juga mengingatkan para santri untuk melakukan ikhtiar batin dengan banyak berdoa. Pak Kiai pun mengijazahkan beberapa bacaan surat pendek dan doa yang bisa dibaca oleh para santri.