Humor Gus Dur: Sambutan di Pameran Lukisan
Bukan hanya keseniannya yang diangkat, tokoh-tokohnya juga dengan sabar dimunculkan oleh Gus Dur, seperti Gus Mus, kiai multitalenta di bidang seni, baik seni lukis, kaligrafi, syair, puisi, dan cerpen.
Kumpulan artikel kategori Humor
Bukan hanya keseniannya yang diangkat, tokoh-tokohnya juga dengan sabar dimunculkan oleh Gus Dur, seperti Gus Mus, kiai multitalenta di bidang seni, baik seni lukis, kaligrafi, syair, puisi, dan cerpen.
Di antara kebahagiaan seorang santri di pondok adalah saat orang tua mereka berkunjung ke pesantren untuk menjenguk yang diistilahkan dengan sambangan. Pada momen itulah para santri bisa melepas rindu dengan keluarga dan terlebih bisa mendapat kiriman dan oleh-oleh.
Setelah Ngaji Kitab Fiqih di Mushala pondok, Udin dan Somad membahas kembali materi yang disampaikan kiainya. Mereka mencoba mengingat kembali poin-poin penting ngaji yang sudah memasuki Bab Nikah.
Setiap pemimpin itu cukur rambut, si tukang cukur selalu bertanya tentang suksesi. “Bagaimana pak suksesi, sudah ada penggantinya?” tanya tukang cukur.
Karena kedengarannya tidak menyenangkan, sang orang Indonesia menuju tempat lain. Ia coba melihat-lihat bagaimana keadaan di neraka AS dan neraka Rusia, dan banyak lagi. Ia mendapatkan bahwa ke semua neraka-neraka itu kurang-lebih mirip dengan neraka orang Jerman.
Setelah menutupi dirinya dengan selimut, ia keluar untuk mengetahui penyebab kebisingan itu. Tiba-tiba dari belakang, ada pencuri yang merampas selimut dan lari.
Punakawan yang juga sesepuh serta menjadi panutan banyak ksatria itu diyakini mempunyai banyak kemiripan dengan Gus Dur.
Pondok pesantren secara istiqomah mendidik santri untuk riyadhah (tirakat) dan melaksanakan ibadah untuk menjadikan santri sosok karakter yang kuat mental spiritual.
Begitu membaca koran bahwa Gus Dur akan memakai teknik catenaccio itu dalam menghadapi berbagai guncangan, bukan main girangnya Brodin. Gus Dur sendiri bukan tokoh asing di telinga orang-orang Madura.
Gus Dur sendiri bersama Bank Summa sibuk berencana mendirikan banyak Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang menggunakan sistem bank konvensional alias bank tradisional.
Kiai tersebut dengan riang kembali ke rumah. Setelah sampai di rumah, kiai tersebut dipanggil lagi. Dengan santai dan tetap menyungging senyum, kiai tetap datang.
Masyarakat di sebuah desa sedang menggelar pengajian. Namun karena masih dalam kondisi wabah Covid-19 yang belum mereda, pengajian diadakan dengan menjalankan protokol kesehatan.