Bermaksud Pergi Bela Tauhid
Di hari yang cerah dan berawan saat itu, seorang murid pamitan kepada kiainya mau pergi membela tauhid. “Saya pamit kiai untuk membela tauhid, kalimat Allah,” katanya menggebu.
Kumpulan artikel kategori Humor
Di hari yang cerah dan berawan saat itu, seorang murid pamitan kepada kiainya mau pergi membela tauhid. “Saya pamit kiai untuk membela tauhid, kalimat Allah,” katanya menggebu.
Ibnu Umar hanya memberikan respons santai tapi menukik ketika ada seseorang yang melapor kepadanya tentang Mukhtar yang mengklaim dirinya menerima wahyu dari Allah.
Menjelang kampanye pemilu presiden putaran pertama tahun 2004 silam, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menanggapi sejumlah hal terkait partai politik maupun aktivis-aktivis parpol yang ada di dalamnya.
Beberapa hari menjelang pemilihan presiden, Gus Dur didatangi sejumlah wartawan. Mereka hendak mewawancarai Gus Dur perihal pilpres yang suasananya sedang memuncak.
Setelah pesan wedang kopi dan nasi pecel, kang Mamat duduk bersama santri lainnya. Mereka saling ngobrol dan menikmati sajiannya. Obrolannya pun ringan mulai dari soal kegiatan santri sehari-hari sampai guyonan yang menyegarkan.
Saat hadir di Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara dalam rangka Bedah Buku 'Merindu Gus Dur', Jumat (28/9) kemarin, putri Gus Dur, Inayah Wahid dikasih pertanyaan oleh salah satu peserta.
Di tengah kemenangan Nabi dan kaum Muslimin dalam perjuangan membebaskan Kota Makkah (Fathu Makkah), ada satu peristiwa ketika Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy akhirnya menyerah dan bersedia mengikuti petunjuk Nabi Muhammad SAW.
Setelah mengaji kebangsaan kepada Gus Dur, pemuda tersebut bertanya tentang sebutan yang melekat pada diri Gus Dur. Pemuda itu merasa, panggilan ‘Gus’ begitu istimewa.
Melihat keributan itu, seorang pramugari mendatangi Kamiluddin dan si perempuan. Pramugari langsung melihat tiket masing-masing. Kemudian berkata, “Maaf pak, ini tempat duduk ibu, kursi bapak di bagian belakang,” ucap pramugari.
Kebiasaan mengundang jamaah untuk doa bersama sudah menjadi budaya warga NU. Biasanya setelah doa bersama yang biasa dinamakan kenduri, para jamaah membawa pulang makanan khas yang dinamakan berkat.
Tidak sampai di situ, ulah Mujrim ‘menjadi-jadi’ manakala imam sampai pada ayat ke-18 Surat al-Mursalat: Kadzalika naf’alu bil mujrimin. Mendengar itu, si Badui Mujrim langsung keluar dari barisan shalat dan berlari meninggalkan masjid seketika itu juga. Tidak lain, dengan memahami ayat Al-Qur’an secara tekstual, Mujrim mengira bahwa dirinyanya lah yang dicari-cari untuk dibinasakan atau dibunuh.
Herman merupakan salah satu orang terpandang di kampungnya. Tetapi dia harus menghadapi penyakit dalam yang akut, kerusakan hati.