Sejarah bangsa Arab bukanlah lembaran kosong yang tiba-tiba diisi oleh Islam pada abad ke-7 Masehi. Jauh sebelum Muhammad bin Abdullah lahir di Mekkah, jazirah ini telah menjadi ruang perjumpaan beragam kepercayaan, tradisi, dan tafsir ketuhanan. Di sanalah iman tauhid Nabi Ibrahim pernah bersemi, lalu perlahan memudar, bercampur, dan akhirnya tersisih oleh keyakinan-keyakinan lain yang tumbuh seiring perjalanan waktu.
Menurut riwayat klasik Islam, bangsa Arab pada mulanya adalah penganut agama hanif yang diwariskan Nabi Ibrahim melalui putranya, Nabi Ismail. Mereka mengenal Allah Yang Esa, menyembah-Nya tanpa sekutu, dan menjalani ajaran hanafiyyah al-samḥah (agama yang lurus sekaligus lapang).
Al-Qur’an menegaskan posisi Ibrahim sebagai figur tauhid murni:
قُلْ صَدَقَ اللّٰهُۗ فَاتَّبِعُوْا مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ٩٥
Artinya; Katakanlah (Nabi Muhammad), “Mahabenar Allah (dalam firman-Nya).” Maka, ikutilah agama Ibrahim yang hanif dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik.
Namun sejarah jarang berjalan lurus. Kontak dengan bangsa-bangsa sekitar, pertukaran budaya, serta kecenderungan manusia untuk mencari simbol konkret dalam beragama, pelan-pelan menggeser orientasi ketauhidan itu. Ajaran hanif bercampur dengan takhayul, mitos, dan praktik syirik. Dari sinilah label jahiliyah, bukan semata kebodohan intelektual, melainkan kekacauan moral dan teologis, melekat pada masyarakat Arab pra-Islam.
Sejarawan W. Montgomery Watt, dalam buku Muhammad at Mecca, mencatat bahwa Arabia pra-Islam mengenal setidaknya empat sistem kepercayaan: fatalisme, paganisme, kepercayaan kepada Allah, dan monoteisme. Keempatnya hidup berdampingan, tumpang tindih, bahkan saling bertentangan. Dari spektrum itulah paganisme tampil sebagai arus paling dominan, dan paling menentukan wajah religius Arab menjelang Islam. (Rizka Damayanti, Ellya Roza. Sistem Kepercayaan Paganisme Masyarakat Arab Pra Islam. TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, 8 (1), 83-96)
Amr bin Luhay dan Jalan Masuk Paganisme
Dalam historiografi Islam, satu nama kerap disebut sebagai pembuka pintu penyembahan berhala di tanah Arab: Amr bin Luhay bin Qam‘ah, pemimpin suku Khuza‘ah. Ia bukan tokoh sembarangan. Dikenal dermawan, rajin beribadah, dan berpengaruh, Amr adalah figur yang dipercaya masyarakat. Justru dari sosok semacam inilah perubahan besar sering bermula.
Dalam suatu perjalanan ke wilayah Syam, daerah yang dipandang sakral karena menjadi tempat para nabi dan kitab-kitab diturunkan, Amr menyaksikan praktik penyembahan berhala. Alih-alih menolaknya, ia justru melihatnya sebagai bentuk religiositas yang sah. Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Amr terkesan oleh klaim para penyembah berhala: patung-patung itu dianggap mampu mendatangkan hujan dan kemenangan.
Dari Syam, Amr membawa sebuah berhala bernama Hubal ke Mekkah. Patung itu ditempatkannya di dalam Ka‘bah, ruang paling suci dalam tradisi Ibrahim. Dengan otoritas sosial dan religius yang dimilikinya, Amr mengajak masyarakat Quraisy menyembah Hubal. Ajakan itu diterima tanpa banyak tanya. Dari Mekkah, praktik tersebut menjalar ke seluruh Hijaz. (Syafiyurrahman Al-Mubarukfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, [Riyadh, Muntada al-Tsaqafa, 2013], hal 35).
Sejak saat itu, jazirah Arab berubah menjadi ladang berhala. Setiap kabilah memiliki sesembahannya sendiri. Ka‘bah dikelilingi ratusan patung. Ironisnya, semua itu dilakukan dengan keyakinan bahwa mereka sedang melanjutkan tradisi Ibrahim.
Dalam riwayat lain yang dijelaskan oleh Syekh Muhammad Ramadhan Al-Buthi, Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa Amr bin Luhay tertarik dengan kepercayaan terhadap berhala sebab ia percaya bahwa berhala-berhala yang ia bawa dari Syam tersebut dapat memberikan kemanfaatan.
Simak penjelasan Al-Buthi berikut:
وروى ابن هشام وغيره كيفية إدخال عمرو بن لحي هذا عبادة الأصنام في العرب. فقال: خرج عمرو بن لحي من مكة إلي الشام في بعض أموره, فلما قدم (مأب) من أرض البلقاء, وبها يومئذ العماليق- وهم ولد عملاق, ويقال: عمليق بن لاوذ بن سام بن نوح- رأىهم يعبدون الاصنام. فقال لهم: ما هذه الاصنام التي أراكم تعبدون؟ قالوا له: هذه أصنام نعبدها نستطمرها فتطمرنا, ونستنصرها فتنصرنا. فقال لهم: أفلا تعطونني منها صنما فأسير به إلى أرض العرب فيعبدوه؟. فأعطوه صنما يقال له (هبل) فقدم به مكة فنصبه وأمر الناس بعبادته وتعظيمه.
Artinya: “Ibnu Hisyam dan lainnya meriwayatkan bagaimana cara Amr bin Luhay memasukkan kepercayaan terhadap berhala pada bangsa Arab. Ibnu Hisyam berkata: Amr bin Luhay pergi dari Mekkah menuju Syam untuk beberapa keperluan, ketika ia sampai ke daerah (Ma’ab) dari tanah Al-Balqa. Pada saat itu terdapat anak keturunan Amlaq. Ada juga yang mengatakan: Amliq bin Laudz bin Sam bin Nuh- Amr melihat mereka menyembah berhala.
Amr berkata kepada mereka: “berhala apa ini yang kalian sembah?”. “Ini adalah berhala yang kami sembah karena ketika kami meminta hujan mereka menurunkan hujan untuk kami dan ketika kami meminta pertolongan, mereka menolong kami, jawab mereka.
“Apakah kalian tidak memberikan kami berhala, sehingga aku bawa ke tanah Arab agar mereka (bangsa Arab) menyembahnya?, pinta Amr. Kemudian mereka memberikan Amr berhala yang disebut bernama (Hubal). Ia membawanya ke Mekkah dan memerintahkan masyarakat menyembahnya dan mengagungkannya”. (Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, Fiqhus Sirah An-Nabawiyyah, [Beirut, Darul fikr, 2019], hal 53).
Tauhid yang Terbelah
Yang menarik, paganisme Arab tidak sepenuhnya menyingkirkan Allah. Mereka tetap mengenal-Nya sebagai Tuhan Tertinggi. Namun, Allah tidak lagi diakses secara langsung. Malaikat, nabi, dan orang-orang saleh diposisikan sebagai perantara, bahkan direpresentasikan dalam bentuk patung.
Ibnu Ishaq, sebagaimana dikutip Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, mencatat bahwa bangsa Arab masih memelihara sisa-sisa ritual Ibrahim: haji, thawaf, wukuf, dan penyembelihan. Tetapi semua itu telah disusupi unsur asing. Talbiyah mereka mencerminkan kontradiksi itu: “Tidak ada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang Engkau miliki.” Sebuah pengakuan tauhid yang sekaligus membatalkannya.
Simak secara lengkap penjelasan Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah Wan Nihayah, mengutip Ibnu Ishaq:
قال ابن إسحاق: واستبدلوا بدين إبراهيم وإسماعيل غيره فعبدوا الأوثان وصاروا إلى ما كانت عليه الأمم قبلهم من الضلالات وفيهم على ذلك بقايا من عهد إبراهيم يتمسكون بها من تعظيم البيت والطواف به والحج والعمرة والوقوف على عرفات والمزدلفة وهدى البدن والإهلال بالحج والعمرة مع إدخالهم فيه ما ليس منه. فكانت كنانة وقريش إذا هلوا قالوا: لبيك اللهمّ لبيك. لبيك لا شريك لك، الا شريكا هو لك، تملكه وما ملك. فيوحدونه بالتلبية ثم يدخلون معه أصنامهم ويجعلون ملكها بيده
Artinya: "Ibnu Ishaq berkata: " Bangsa Arab mengganti agama Nabi Ibrahim dan Ismail dengan yang lainnya. Mereka menyembah berhala dan mengikuti kesesatan yang dilakukan oleh umat-umat sebelumnya.
Meski demikian mereka masih melakukan sisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim yang mereka pegang seperti mengagungkan Baitullah, Thawaf, haji dan umrah, wukuf di Arafah dan Muzdalifah, menyembelih hewan, tahallul haji dan umrah namun memasukkan hal-hal yang tidak termasuk ke dalam ajaran syariat nabi Ibrahim di dalamnya.
Saat itu, ketika Bani Kinanah dan Quraisy melakukan talbiyah mereka akan mengatakan: "kami memenuhi panggilan-Mu ya Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu milik-Mu".
Mereka meng-Esakan Allah dengan talbiyah lalu memasukkan bersamanya berhala-berhala mereka dan menjadikan kepemilikannya di sisi Allah". (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, [Kairo, Matba'ah As-Sa'adah, cet 1, 1348 H], juz II, hal 188)
Di sinilah letak inti paganisme Arab pra-Islam: bukan penolakan total terhadap Allah, melainkan penyekutuan yang dilembagakan. Berhala bukan dianggap Tuhan pencipta, tetapi mediator kekuasaan. Sebuah logika religius yang menganggap Tuhan terlalu agung untuk didekati tanpa perantara.
Islam datang untuk merombak struktur ini dari akarnya. Nabi Muhammad Saw tidak sekadar menghancurkan berhala secara fisik, tetapi memulihkan makna tauhid sebagai relasi langsung antara manusia dan Tuhan. Syariat yang dibawanya bukan agama baru, melainkan restorasi ajaran hanif, dengan bentuk yang lebih tegas, matang, dan sistematis.
Perbedaan mendasar antara paganisme jahiliyah dan konsep tawassul dalam Islam terletak pada orientasi ibadah. Kaum musyrik menyembah perantara untuk mendekati Allah. Dalam tawassul, doa tetap ditujukan kepada Allah, tanpa menyembah perantaranya. Di situlah garis batas tauhid dijaga.
Sejarah, pada akhirnya, bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah cermin. Dari kisah paganisme Arab pra-Islam, kita belajar bahwa penyimpangan teologis kerap lahir bukan dari niat buruk, melainkan dari prasangka baik yang kehilangan pijakan ilmu.
--------------
Alwi Jamalulel Ubab, Penulis tinggal di Indramayu
