Salah satu peristiwa bersejarah yang tercatat dalam sejarah Islam ialah peristiwa pembelahan dada Nabi Muhammad SAW pada masa kecilnya. Peristiwa pembelahan dada pada masa kecil terjadi pada saat beliau berada dalam asuhan Halimah As-Sa’diyah, ibu susuan Nabi. Peristiwa tersebut merupakan bagian dari irhash Nabi Muhammad sebelum memasuki fase kenabian.
Berbeda dengan mukjizat yang terjadi setelah pengangkatan kenabian dan kerasulan, irhash merupakan peristiwa luar biasa yang dialami calon nabi dan rasul sebelum diangkat. Simak penjelasan Syekh Al-Jurjani dalam Kitabut Ta’rifat dalam mendefinisikan irhash berikut:
الإرهاص هو ما يصدر من النبي صلى الله عليه وسلم قبل النبوة من أمر خارق للعادة. وقيل: إنها من قبيل الكرامات؛ فإن الأنبياء قبل النبوة لا يقصرون عن درجة الأولياء
Artinya: “Irhash merupakan suatu peristiwa yang tidak biasa yang terjadi pada Nabi Muhammad Saw sebelum kenabian. Disebutkan bahwa irhash termasuk bagian dari keramat, sebab para nabi sebelum memasuki fase kenabian memiliki derajat yang sama dengan para aulia”. (Al-Jurjani, Kitabut Ta’rifat, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1983 M], hlm. 16).
Menurut para ulama, peristiwa pembelahan dada Nabi Muhammad SAW pada masa kecil bertujuan untuk menghilangkan bagian setan dari diri beliau. Simak kisahnya dalam hadits riwayat Imam Muslim berikut:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ، فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ، فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ، فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ، فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً، فَقَالَ: هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ، ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ، ثُمَّ لَأَمَهُ، ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ، وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ - يَعْنِي ظِئْرَهُ - فَقَالُوا: إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ، فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقِعُ اللَّوْنِ, قَالَ أَنَسٌ: وَقَدْ كُنْتُ أَرَى أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِي صَدْرِهِ
Artinya: “Dari Anas bin Malik bahwa suatu hari Rasulullah Saw didatangi oleh malaikat Jibril pada saat bermain dengan anak-anak (saudara sepersusuan Nabi). Jibril mengambil dan membaringkan Nabi Muhammad lalu membelah dadanya. Jibril mengeluarkan segumpal daging dari Nabi Muhammad lalu berkata: “Ini adalah bagian setan darimu”.
Kemudian Jibril membasuh Nabi Saw di sebuah wadah yang terbuat dari emas dengan air zamzam. Lalu Jibril mengembalikan Nabi pada tempat semula. Saudara sepersusuan Nabi melaporkan peristiwa tersebut kepada ibunya. Mereka berkata: “Sungguh Muhammad telah dibunuh”. Lalu mereka mendatangi Nabi Muhammad dan melihat Nabi dalam keadaan pucat. Anas berkata: “Sungguh aku melihat bekas jahitan itu di dada Nabi Muhammad”. (HR. Muslim).
Halimah As-Sa’diyah, ibu susuan Nabi yang mendengar kejadian tersebut keluar dari rumah bersama suaminya mencari Muhammad kecil dan ia menemukannya dalam keadaan pucat pasi. Peristiwa tersebut membuat Halimah yang sebelumnya bersikeras ingin terus merawat Muhammad hendak memulangkannya pada ibunya karena takut terjadi peristiwa yang buruk pada diri Muhammad kecil. (Abdul Salam Muhammad Harun, Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2018], hlm. 30)
Saat Nabi Muhammad kecil hendak dikembalikan kepada ibunya, Aminah. Ibu Nabi Muhammad kecil menanyakan mengapa Halimah terburu-buru mengembalikan Nabi Muhammad kecil padahal sebelumnya dia ingin terus mengasuh Muhammad kecil karena mendatangkan banyak keberkahan. Mulanya Halimah tidak ingin menjelaskan peristiwa pembelahan dada Nabi Muhammad kecil kepada Aminah. Namun, setelah dipaksa untuk berkata jujur, Halimah menjelaskan peristiwa tersebut.
Halimah menjelaskan kekhawatirannya terhadap apa yang terjadi pada Nabi Muhammad kepada Aminah. Aminah kemudian menjelaskan bahwa Halimah tidak perlu khawatir terhadap apa yang terjadi pada Muhammad kecil, karena peristiwa luar biasa sudah sering ia alami semenjak mengandung Nabi. (Muhammad Ridha, Muhammad Rasulullah, [Jakarta, Darul Kutub Al-Islamiyah, 2012 M], hlm. 38).
Meski demikian, sejumlah orientalis menyangkal peristiwa irhash Nabi di atas, dengan mengatakan bahwa riwayat tersebut bersifat lemah dan tidak bisa dipercaya. Bahkan William Muir, orientalis asal Skotlandia membantah terjadinya pembelahan dada Nabi Muhammad SAW oleh malaikat di masa kecilnya pada saat dalam pengasuhan Halimah As-Sa'diyah.
Ia mengatakan bahwa apa yang terjadi pada Nabi Muhammad kemungkinan ialah serangan epilepsi. Namun, umat Islam menambahkan banyak cerita menakjubkan sehingga menurutnya hal tersebut membuat sulit untuk menemukan fakta sebenarnya. (William Muir, The Life of Mohammad From Original Sources, [Edinburgh, John Grant George IV Bridge, 1923], hlm. 6).
Husain Haikal, dalam bukunya Hayatu Muhammad merespons tudingan tersebut:
لا يطمئن المستشرقون، ولا يطمئن كذلك جماعة من المسلمين، إلى قصة المَلَكَيْن هذه، ويرونها ضعيفة السند، إذ إن الذي رأى الرجلين في رواية كُتّاب السيرة إنما هو طفل لا يزيد عمره على سنتين إلا قليلاً، وكانت سنّ محمد يومئذٍ كذلك، بينما تجتمع الروايات على أن محمدًا أقام ببني سعد إلى الخامسة من عمره، فلو كان هذا الحادث قد وقع وسنّه سنتين ونصف سنة، ورجعت حليمة وزوجها به في ذلك الوقت إلى أمه، لكان في الروايتين تناقض غير مقبول، ولذلك يرى بعض الكُتّاب أنه عاد مع حليمة مرة ثالثة.
Artinya, "Banyak dari kalangan orientalis dan sebagian umat Islam menilai bahwa kisah dua malaikat ini memiliki riwayat yang lemah. Sebab yang melihat kedua orang tersebut dalam riwayat-riwayat kitab-kitab sirah merupakan anak-anak yang kurang lebih berumur 2 tahun, begitupula umur Muhammad.
Banyak riwayat yang menyebutkan bawa Muhammad menetap di Bani Saad hingga umur 15. Jika peristiwa tersebut benar maka kejadian tersebut terjadi pada saat Nabi berumur dua setengah tahun dan Halimah dan suaminya mengembalikan Nabi Muhammad kecil ke ibunya maka terjadi kontradiksi antara dua riwayat yang tidak bisa diterima. Oleh karenanya sebagian sejarawan berpendapat bahwa Nabi kembali bersama Halimah untuk kali ketiga," (Muhammad Husain Haikal, Hayatu Muhammad, [Kairo, Muassasah Handawi litta'lim watsaqafah, 2012], hal 122)
Hikmah Pembelahan Dada Nabi Muhammad SAW Pada Masa Kecil
Peristiwa pembelahan dada Nabi Muhammad SAW pada masa kecil merupakan bentuk persiapan ilahi untuk menerima risalah kenabian sekaligus tanda bahwa beliau adalah pribadi yang terpilih.
Menurut Syekh Muhammad Sa‘id Ramadhan al-Buthi, peristiwa tersebut pada hakikatnya bukan bertujuan mengeluarkan unsur keburukan dari diri Nabi, sebab jika keburukan bersumber dari aspek fisik, maka setiap orang dapat menjadi baik hanya dengan tindakan medis.
Pembelahan dada tersebut merupakan tanda kenabian dan bentuk pembersihan maknawi yang ditampakkan melalui peristiwa fisik, agar menjadi penegasan ilahi yang dapat disaksikan dan diimani oleh manusia.
Simak penjelasan Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi berikut:
وليست الحكمة من هذه الحادثة_والله أعلم_ استئصال غدة الشر من جسم رسول الله صلى الله عليه وسلم, إذ لو كان الشر منبعه غدة في الجسم أو علقة في بعض أنحائه,لأمكن أن يصبح الشرير خيرا بعملية جراحية, ولكن يبدو أن الحكمة هي إعلان أمر الرسول صلى الله عليه وسلم وتهييئه للعصمة والوحي منذ صغره بوسائل مادية, ليكون ذلك أقرب إلى إيمان الناس به وتصديقهم برسالته.. إنها إذن عملية تطهير معنوي, ولكنها اتخذت هذا الشكل المادي الحسي, ليكون فيه ذلك الاعلان الالهي بين أسماع الناس وأبصارهم
Artinya: “Hikmah dari kejadian ini (pembelahan dada Nabi SAW), wallahu a’lam, bukanlah menghilangkan bagian keburukan dari diri Rasulullah SAW. Karena jika sumber dari keburukan tersebut ialah bagian atau daging tertentu dalam tubuh, maka setiap orang buruk akan dapat menjadi baik dengan melakukan operasi bedah.
Akan tetapi hikmah yang terkandung dalam kejadian tersebut merupakan sebuah pemberitahuan perihal persiapan Nabi Saw sebagai rasul dan mempersiapkannya juga dalam kemaksuman dan penerimaan wahyu dimulai dari masa kecilnya dengan perantara-perantara peristiwa materiil yang bisa diindra. Agar bisa menjembatani untuk lebih mudah untuk diimani dan dipercayai oleh masyarakat.
Kejadian pembelahan dada tersebut merupakan praktik pembersihan secara maknawi akan tetapi diberi bentuk fisik dengan kejadian yang ada dengan tujuan agar hal tersebut menjadi pengumuman dari Tuhan yang didengar dan dilihat langsung telinga dan mata umat manusia ”. (Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, Fiqhus Sirah An-Nabawiyah, [Damaskus: Darul Fikr, 2019], hlm. 62).
Kesimpulannya, peristiwa pembelahan dada Nabi Muhammad di masa kecilnya termasuk bagian dari irhash kenabian. Peristiwa tersebut menjadi tanda bahwa beliau merupakan manusia yang terpilih untuk mendapatkan risalah kenabian dari Allah. Wallahu a'lam.
Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu.
