Benarkah Ahli Kubur Mengenali Orang yang Menziarahinya?
. Pertanyaan tentang tahu dan tidaknya ahli kubur terhadap orang-orang yang menziarahinya sungguhnya telah terjawab oleh riwayat Al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman dari Muhammad bin Wasi‘
Kumpulan artikel kategori Ilmu Tauhid
. Pertanyaan tentang tahu dan tidaknya ahli kubur terhadap orang-orang yang menziarahinya sungguhnya telah terjawab oleh riwayat Al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman dari Muhammad bin Wasi‘
Telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat luas seperti luasnya antara Baitul Maqdis dan Makkah. Panjangnya sama dengan lebarnya. Warna airnya lebih putih dari air susu. Rasanya lebih manis dari madu
maksud hadits Rasulullah SAW yang menapikan penularan wabah penyakit adalah penularan penyakit secara alamiah, (bukan atas kehendak dan kuasa Allah)
Seluruh redaksi yang layak dijadikan jawaban pertanyaan bagaimana disebut dengan kaifiyah. Misalnya ucapan seseorang yang mengartikan sifat istawa sebagai berlokasi di atas Arasy, atau mengartikan sifat nuzul sebagai turun dari lokasi atas ke lokasi di bawahnya, dan semacamnya adalah kaifiyah.
Seluruh kaum Muslimin mengimani Allah sebagai Tuhan Yang Mahatinggi. Akan tetapi apa sebenarnya makna ketinggian ini, apakah berarti ketinggian lokasi seperti halnya dalam ungkapan awan lebih tinggi dari puncak gunung dan puncak gunung lebih tinggi dari lembah?
Di samping amal yang memperberat timbangan kebaikan, Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan amal yang justru akan memberatkan timbangan keburukan.
Bagaimana tidak tegang, satu persatu hamba diminta melintas sebuah jembatan yang sangat tipis nan tajam di atas kobaran neraka Jahannam. Bahkan lebih tipis dan lebih tajam dari pedang.
Kisah tentang Dajjal ini disarikan dari hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya, tepatnya dalam “Kitab al-Fitan wa Asyrath al-Sa‘ah, Bab Qishah A-Jasasah,” nomor hadis 2942.
“Tak ada seorang pun di antara kalian yang mengira akan mampu menentang Dajjal. Ketika fitnah Dajjal datang kepada kalian, kalian akan mengikutinya, tersesat, dan kufur.”
“Tak satu pun nabi kecuali telah memperingatkan umatnya dari sang pendusta yang buta sebelah mata. Matanya buta sebelah, sedangkan Allah tidak. Di antara kedua matanya tertulis huruf kaf, fâ’, dan râ’.”
Segala tindakan yang mendatangkan potensi bahaya, secara fiqih tergolong sebagai tindakan yang haram, meskipun berdasarkan pada aqidah yang benar.
Apakah Dzat Allah subhanahu wata’ala juga tersusun dari bagian-bagian atau dengan kata lain mempunyai tarkib? Seluruh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) sepakat bahwa tarkib adalah mustahil bagi Allah.